Hujan belum Turun di Teluk Kao

Karya . Dikliping tanggal 8 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

APABILA 50 tahun lagi aku menderita demensia sehingga lupa mengutuk kekuasaan yang begitu jahat, lewat politik adu dombanya, telah memprovokasi dengan embel-embel ‘Atas Nama’ untuk menghancurkan rumah, tempat bermain, sekolah, persahabatan, dan mimpi masa kecilku, maka tolong, ingatkan aku!

***

Tatiana. Halmahera, 2017.

Tom, dari pelayaran di Bitung, 18 tahun silam, tiada ketenangan layaknya malam ini. Sebab segalanya menjelma kecamuk, termasuk ingatan. Perjalanan serupa pernah membawa keluargaku melayari lautan, melewati malam yang dingin bersama pengungsi lain, lari meninggalkan kerabat dan harta yang diberangus perang. Kakakku terkena panah tepat di rusuknya, sebelum ia berhasil masuk ke gereja dan kehabisan napas di pelukan Papa. Sementara Mama, sejak kejadian itu, ia jadi tekun menghabiskan murung di dekat jendela, meratap-ratap hingga luka kehilangan anak sulungnya, dibasuh oleh ajal, setahun setelahnya.

Kini, usai trauma dipulihkan waktu, aku datang menemui pundakmu yang cengkeh dan bibirmu yang garam, kendati aku tak tahu seperti apa rupamu sekarang. Sengaja kutumpangi kapal menuju Halmahera, untuk menghanyutkan kenangan perih itu, untuk merasai bermil jarak penuh ombak yang meliukkan nyanyian masa kecil kita meniru siul nelayan Teluk Kao. Untuk merasai deru di jendela, yang menerpa pipiku seperti kibasan daun-daun di pohon jambu yang kerap kita panjat sepulang sekolah, tempat kita kerap bertukar cerita, sebelum tragedi itu.

Adakah kau telah memiliki kekasih? Bukankah tak ada perempuan yang sanggup mencintai cerita-ceritamu, melebihi aku? Dari jauh, kulihat lelampu berkerlipan, apakah satu diantaranya adalah cahaya jendelamu yang terbuka menyambutku?

Kuingat malam Idul Fitri 1998, aku ke rumahmu yang terang, membawa sebuah kartu ucapan yang kuhiasi gambar Batman, lalu kau berjanji akan memberiku kartu bergambar Winnie The Pooh, kelak di malam Natal. Namun, rupanya Natal justru datang dengan kisah pilu. Situasi tiba-tiba gawat di ujung Desember. Kerusuhan pun pecah. Kita benci situasi perang dan segala alasannya. Kita benci orang- orang dewasa yang berteriak di jalan, saling parang, saling panah, saling bunuh. Kita benci tak bisa lagi sekolah dan bermain karena keadaan porak poranda. Aku dan keluargaku lari ke mana, kau dan keluargamu mengungsi entah di mana.

Tom, aku bahkan benci jadi dewasa. Jika dewasa membuat orang-orang terkotakkan oleh kepentingan, biarlah aku selamanya kanak-kanak saja. Malam ini, aku pulang. Apa kau masih di pulau itu?

***

Bapak Majid. Teluk Kao, Desember 1999.

Tom, anak lelakiku. Kau heran mengapa dunia cepat sekali kiamat. Mengapa orang- orang membakar rumah kita, rumah ibadah, kebun kelapa, semuanya. Bahkan orang-orang membakar seraya membum- bungkan teriakan kepada langit berasap, seakan itu adalah persembahan. “Apakah dengan halilintar dan badainya, langit belum cukup mengerikan, Pak?” Tanyamu. Karena setiap yang bernama langit, menyimpan kitab dan malaikatnya masing-masing, benakku.

***

Tatiana. Teluk Kao, Desember 1999.

Saat ini Ramadan dan bertepatan dengan Natal. Kudengar kampung kita sudah hangus terbakar.

Kudengar ada ratusan mayat di luar sana. Beberapa dari mereka adalah keluargamu, bahkan mungkin keluargaku. Dari jendela, kuresapi tangisanmu. Masuklah ke sini, Tom. Aku adalah keluargamu juga. Aku tidak akan seperti mereka yang menanyakan asal kampung, silsilah darah, atau agamamu. Kita saudara dalam kemanusiaan, tak seperti mereka yang berpaling demi tambang, kepentinga dan kebodohan. Aku tahu, tak pernah ada pemeran pengganti untuk menanggung derita korban perang ini, namun kita bisa berdoa bersama, memohon bersama, kepada nama Tuhan yang tak sama. Masuklah ke sini, Tom.

Tapi kau terus berlari. Kau berlari mengikuti punggung lelaki yang menggendong saloi berisi pana-pana wayer, kau berlari di belakangnya. Lalu kemana bapakmu?

Itu terakhir kusaksikan pundakmu. Aku berteriak memanggil namamu dari balik pintu gereja yang terkunci. Aku menangis. Aku mengingat, harusnya hari ini kau memberiku kartu ucapan bergambar winnie the pooh.

***

Tom. Tobelo, 1999.

“Ngoni mo pi mana? Capat ka sana, deng kase tau orang-orang supaya lari mengungsi. So perang ini,” kata lelaki di depanku, di antara gelegar tiang listrik yang dipukul-pukul seantero sudut kampung. Dari jauh, asap membumbung. Aku berlari sejauh kakiku mampu. Sesekali menoleh ke belakang, berharap Bapak sedang menyusulku. Tapi dia tak muncul. Tak pernah muncul. Sepanjang pelarian, anyir dan aroma mesiu menyeruak di antara gelimpangan tubuh- tubuh tak berdaya, dan tak bernyawa. Aku limbung dan cuma punya naluri menyelamatkan diri. Aku tak mengerti yang mana kubu- kubu, atribut penananda, bahkan seruan yang mereka lontarkan. Aku hanya mengikut kemana saja lelaki yang memikul busur dan panah itu menuju. Ia lantas menggandeng tanganku. Kupanggil ia, Paman, Paman Batman.

Kami naik truk dan dalam dekapan Paman Batman, aku hanya melihat langit berasap dan pucuk-pucuk pohon yang seakan turut berjalan. Seraya mendongak, sepanjang jalan itu pula kuingat Bapak yang berteriak menyuruhku untuk lari sejauh-jauhnya. Air mataku berlinang mengenang tubuhnya yang hilang ditelan kepul asap, pekatnya sama dengan asap yang menyelubungi langit Tobelo Selatan.

Bersama ratusan pengungsi, kami berkumpul di mesjid Togoliwa. Paman Batman yang membersamaiku, kini menghilang. Sebelumnya, kulihat ia mengangkat sebuah tombak dengan mata nyalang, lantas setengah membungkuk dan mengusap kepalaku, ia menyuruhku agar tinggal di pengungsian. Sejak itu, ia tak pernah kembali bahkan ketika suara ledakan mengepung pengungsian. Kurasakan lengan seorang ibu mendekapku, entah siapa dia, entah ibu siapa dia. Barangkali ibuku, ah, ibuku sudah tiada sejak lama. “Anakku, jangan takut.” Ucapnya seraya memelukku yang meringkuk seperti bayi. Lalu, suara takbir kencang menguar memenuhi telinga di antara gempur ledakan. Aku tak bisa melihat apa- apa lagi. Semua mengabur disergap asap dan jeritan. Dalam rangkulan Ibu kumemejam, terlintas wajah Bapak yang tersenyum serupa Winnie the Pooh di kartu selamat hari Natal buatanku, yang tak sempat kuberikan untuk Tatiana.

***

Bapak Majid. Teluk Kao 1999.

Aku ingin hujan turun sebagai tangan Tuhan yang menyirami api kemarahan mahluknya. Turun dengan deras membunuh kobaran yang telah menyebar ke tingkap rumah dan melahap rakus seluruhnya. Semakin kutengahdahkan tangan, semakin kurasakan darah menderas dari cabikan di dadaku.

Tuhan, kuseru namamu berulang dalam lafazku saat mereka juga menyebutkan nama lainmu yang samar menjauh. Mengapa semua ini terjadi di atas namamu yang sama kami yakini dengan cara yang tak sama? Seperti inikah petaka yang harus kami tanggungkan, sedang mereka yang mengadu domba, tidur nyenyak di peraduan.

Seketika aku tuli. Hanya kudengar deru dalam kepalaku yang jadi lolongan tanpa kata lagi. Sungguh, ini cara mati yang sangat nyeri. Dan kuharap anakku, Tom, berhasil menyelamatkan diri, meninggalkan unggun api serta aku, yang sungguh merelakan langkahnya.

Aku hangus terbakar, sementara hujan belum juga turun.

***

Tatiana. Pelabuhan Semut Mangga Dua, 2017.

Tom, hari ini Idul Fitri, dan hujan baru saja membasahi Teluk Kao. Seperti apa rupamu sekarang? Barangkali pundakmu beraroma cengkeh dan bibirmu begitu garam, aku selalu menyangka kau akan tumbuh laiknya bapakmu, lelaki baik hati yang sangat menyayangimu itu. Oh ya, adakah jika kita bertemu sekarang, kita masih tetap merayakan perbedaan? Sulit kulupa bagaimana kau jadi kawan pertamaku di kelas, saat aku masih murid baru. Bagaimana kau tabah menungguiku di teras hingga aku pulang Misa, untuk sebuah tugas mate-matika. Bagaimana kau dengan lembut menceritakan makna indah kumandang azan, dan menghidmati kisahku perihal doa Novena 3 Salam Maria. Bagaimana akhirnya kita sepakat untuk saling memberi kartu buatan sendiri di hari raya. Ah, bagaimana kabarmu di sana, Tom?

Sahabat kecilku, kalaupun jasadmu telah habis dilumat binatang tanah. Aku tetap datang mengantarkan sebuah kartu ucapan untukmu. Bukan lagi kartu bergambar Batman, superhero kesayanganmu. Ini kali, kubuatkan kartu bergambar pelangi yang melengkungi langit Maluku Utara. Juntaian warna-warni kedamaian selepas hujan menderas membasuh segala kemarahan. Kemarahan kita. Maafkan aku yang terlambat 18 tahun untuk pulang mengunjungi pusaramu. Damailah di surga.

***

Apabila nanti aku meninggal dunia, maka bacakan catatan- catatan ini kepada anak cucuku. Agar mereka mengenang, pernah ada kisah sepasang anak kecil merawat kasih sayang, tanpa sekat suku dan agama, di saat orang- orang dewasa tersulut untuk perang yang sejatinya bukan karena perbedaan, tetapi karena lalai menjadi manusia berakal dan berhati, lantas menjelma domba- domba yang mudah diadu.

Deasy Tirayoh bersama teman-temannya di Komunitas Rumah Andakara aktif di kegiatan budaya di Sulawesi Tenggara. Sejumlah bukunya sudah terbit, Tanda Seru di Tubuh dan Titimangsa serta cerita anak Hikayat Gunung Mekongga.

 

[1] Disalin dari karya Deasy Tirayoh
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi 5 Agustus 2018