Hunderbluss dalam Peti Linguis – Menggenggam Pedang Sana Lenggam – Pedang Penari Hoda-hoda – Begu dalam Kepalamu – Arsitektur Rindu

Karya . Dikliping tanggal 4 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Hunderbluss dalam Peti Linguis

kita bayangkan perang usai,
hunderbluss pun telah disimpan dalam peti,
tapi masih saja kau bertangas api,
berdiang di balik tembok belingas panas,
sedang kita setanah, dari mata air yang sama
kau kata moyangmu pelaut ulung,
penantang gecak ombak, penakluk jung,
jadi cincu saja kauributkan, seperti kelasi bingung,
kau rebut segala yang bernama layar,
dari New Zealand hingga Madagaskar,
dan mengaku punya bahasa yang agung,
padahal moyangmu pernah tumbang,
takluk di teluk-teluk, limbung di beting-beting,
pada abad kedelapan belas
ada baiknya kita belajar pada jurubatu,
seberapa dalam bahasa ibu, nyanyian panjang itu,
yang pernah mengarung gelombang,
dari laut utara hingga ke selatan,
bahkan orang laut pun akan meragukan,
yang telanjur terusir dari pantai pesisir,
melayarkan mimpi di ujung hari yang getir
kita bayangkan lagi perang usai,
hunderbluss, keris, pedang, perisai,
dan segalanya kita peram dalam peti,
kembanglah layarmu, kita hentikan perahu penjajab perang,
kita tiup nafiri dengan bunyi panjang,
agar abadi segala yang terkenang,
setelah ini, bahasa kita akan abadi tanpa kokang,
mendepangkan dada kita, tanpa sejumput amuk,
dalam bahasa cinta, yang akan terus kita peluk.
Jakarta, 2015

Menggenggam Pedang Sana Lenggam

demi keyakinan moyangku dari Selatan,
aku berlindung dengan pedang sana lenggam,
yang dilarang para datu dan hulubalang,
sebagai tondi dalam diri yang kerap bimbang,
menafsir kitab masa lalu, mengusir begu sampi-sampu,
yang selalu saja cemburu pada wahyu,
yang dikabarkan ke moyangku
pedang ini kuasah dengan bismillah,
yang dititiskan balatentara Sumatera,
pada abad kedelapan belas,
tapi bukan sebagai sembah,
kau tentu ingat kitab-kitab keramat,
yang dihimpun para datu dan kaummu,
sebagai mantera nujum dunia lapis tiga,
penujum yang mafhum mencatat kitab,
membaca segala gelagat, dari segala begu jahat
sungguh, kau kelak akan terpiyuh,
sebab janggutku panjang menggoda,
dan mulutku pahit berbau surga.
Jakarta, 2015

Pedang Penari Hoda-hoda

kami tak akan pernah lagi menari untukmu,
sebab kami budak tawanan perang leluhurmu,
dan yang lekat di pinggang, pedang abad kelima,
sengaja kami asah matanya, setajam-tajamnya
pedang ini kami sarungkan, melawan topeng kematian
dari Simalungun, tapi kau merahasiakan kematian
yang telah kaurencanakan, bagi para penari
seperti kami, juga penari onggang itu
kami sengaja melebat-lebatkan janggut,
agar pedang ini berkat bila telah merenggut
pedang kami bisa menikam batu-batu tajam,
menembus segala jurang dan jorong curam
kami rasa pedih dari upacara mengantar raja,
yang kau tawan sebagai pengusung keranda
di makam, kau tikam kami dengan sengaja,
kami peram pedihnya, kami tampung airmata
sebab kami tahu, pedang moyang kami,
akan takluk pada begu dalam dadamu.
Jakarta, 2015

Begu dalam Kepalamu

begu itu bisikan dalam kepalamu,
ia juga menyelinap di lipatan baju
di ingatanmu ia berdiam,
meniupkan bisikan hitam
daki dari sisa pemberontakan lapuk dimakan rayap,
kain perca buruk busuk di kerampangmu yang senyap
kita mesti bersiasat mendengar bisikan gelagatnya,
mahir membaca sihir yang ia sembur dari lidah pekatnya
begu ialah ingatan paling memabukkan,
membayang dalam kitab pengetahuan
ia terkadang memilin dalam perutmu,
dan bergelung di gelungan rambutmu
menjadi sanggul yang ditusuk konde,
barangkali di dada anak parmaen-babere
kita tak tahu di mana ia bersembunyi,
maka kita siapkan pedang berikut jampi.
Pekanbaru, 2015

Arsitektur Rindu

                                    – Ayu Tika Swari

rumah pinar horbou,
rupa binar matamu,
rasa erat tebing-bambu
rumah pinar mussuh,
kerling sinar jatuh di danau,
hening dan bening dadamu
rumah pinar bakkiring,
segala getar teriring,
pada nama bercetak miring
rumah pinar urung manik,
rambut yang mengurung manikamku,
jantung pun berdetak beribu-ribu
rumah pinar rabung lima,
kusimpul hendak lima perkara,
semoga napasmu berbau surga.
Pekanbaru-Jakarta, 2015

May Moon Nasution lahir di Singkuang, Mandailing Natal, Sumatera Utara, 2 Maret 1988. Alumnus Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UniversitasIslam Riau, Pekanbaru. Bergiat di Komunitas Paragraf, Pekanbaru.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya May Moon Nasution
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 4 Oktober 2015