Hutan Air Mata

Karya . Dikliping tanggal 8 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

KIAI Ihsan kedatangan tamu. Empatpuluh orang. Mereka dipersilakan masuk dan duduk di tikar yang digelar di ruang dalam. Kiai Ihsan mengamati tamunya. Beberapa orang dia kenal, sebagian besar tamu belum ia kenal.

“Sampean ini siapa ya?” Tanya Kiai dengan suara lembut,” sepertinya saya belum banyak yang kenal.”

“Maaf, Kiai. Kami ini warga yang tinggal di kiri kanan Kali Watu,” jawab seorang tamu yang umurnya paling tua. Kedatangan kami ini untuk mengadu, kenapa hutan jadi gundul, sungai hampir mengering, dan muara berbau sampah dan bangkai.”

“Terus mau kalian bagaimana?”

“Kami mohon Kiai menolong kami. Kami ingin hutan kembali lebat pohonnya, sungai jernih dan muara tanpa sampah.”

Kiai Ihsan diam sebentar. Memejamkan mata. Lalu seulas senyum tersungging di bibir. Warga pinggir sungai yang memperhatikan perubahan wajah Kiai menjadi lega.

“Sudah ketemu caranya ya Pak Kiai?”

“Sudah. Janji mau menaati semua perintah saya?”

“Mau Kiai.”

Hari berikutnya, pagi-pagi sekali, para pengadu itu ditambah keluarga dan kenalannya sudah berkumpul di lapangan di bawah hutan gundul. Jumlah mereka kini ribuan. Kiai Ihsan mengajak mereka membaca Al Fatihah, lalu membaca istighfar. Sambil berjalan mereka terus membaca istighfar.

Jalan mendaki. Udara pagi lembut. Menyegarkan badan. Suara Kiai Ihsan lembut, tetapi makin lama makin parau. Kiai Ihsan, mulai menangis dan melantunkan doa di antara istighfarnya. Orang-orang ikut menangis.

Mereka menirukan doa yang dibaca Kiai Ihsan. Dan merasa amat berdosa. Air mata mereka tidak hanya menetes, tetapi mengalir deras. Hutan gundul itu basah, seperti dibasahi oleh hujan seharian. Air mata mengalir di tanah, mengalir ke bawah. Sampai akhirnya seluruh bukit bekas hutan yang semula kerontang menjadi basah kuyup. Air mata terus mengalir memasuki mata air yang semula hanya mengalirkan satu dua tetes air, kini mendadak muncul tuk umbul, mata air yang melimpah airnya.

“Ayo, turun, Tetap istighfar.!” ribuan orang turun dari bukti, masih membaca istighfar. Air mata mereka membasahi pinggir-pinggir sungai. Mereka terus bergerak ke bawah lagi, memasuki pinggir desa, memasuki pinggir kota kecil, dan ketika lewat tengah hari, sampailah mereka ke muara. Mereka terus membaca istighfar. Air muara yang semula keruh menjadi jernih. Laut tenang, tanpa gelombang. Kiai Ihsan mengajak orang-orang salat berjemaah di pantai. Lalu berdoa kembali, sebentar.

Hutan Air Mata“Sekarang pulanglah. Pesanku, selama tiga hari jangan keluar rumah. Selama tiga bulan jangan ke hutan. Setelah itu lihat apa yang terjadi. Saat itu kalian datanglah ke surau atau masjid masing-masing untuk melakukan sujud syukur.”

“Ya, Kiai.”

Selama tiga hari langit gelap. Langit dipenuhi burung-burung aneh, bersayap hijau kemilau, tidak diketahui datang dari mana, mereka terbang ke arah hutan gundul itu, menjatuhkan bibit-bibit pohon. Kemudian turun hujan gerimis, diikuti hujan sedang selama tiga bulan. Dan setelah itu, ketika ribuan orang memandang ke arah bukit. Tampak hutan rimbun. Mereka melihat sungai, mengalir air jernih.

Mereka melakukan sujud syukur lalu mendatangi Kiai Ihsan.

“Itulah Hutan Airmata. Airmata taubat kalian telah membuat Tuhan mengutus burung-burung menjatuhkan bibit pohon lalu mengirim hujan sedang agar bibit itu tumbuh subur.”

Hutan Air Mata, orang-orang mengaguminya. Mensyukurinya. Dan ketika mereka berkumpul di rumah Kiai Ihsan, pada saat itu juga di dekat mata air di tengah hutan itu sedang ada acara. Orang-orang dari pusat dan para pejabat sedang mengadakan upacara untuk memberi penghargaan kepada penyelamat lingkungan. Yang diberi penghargaan adalah Insinyur Bundas Bandus, pimpinan perusahaan perkayuan yang kerjanya menebang pohon di hutan-hutan.

“Bapak Insinyur Bundas Bandus telah berjasa menyelamatkan lingkungan di deretan pegunungan sini, lihatlah hutan subur telah kembali,” kata pejabat dari kantor yang mengurusi Lingkungan Hidup.

Yang hadir bertepuk tangan.

Suara yang dikeraskan oleh pengeras suara di tempat upacara itu sampai ke rumah Kiai Ihsan. Orang-orang yang ada disitu kontan marah. Sebab mereka tahu Insiyur Bundas Bandus adalah perusak lingkungan. Kenapa malah diberi penghargaan? Sedang Kiai Ihsan yang memimpin upacara penghijauan hutan gundul dengan curahan air mata warga justru tidak diberi penghargaan.

Orang-orang ingin menyerbu tempat upacara itu. Dilarang oleh Kiai Ihsan,

“Jangan, jangan biarkan saja. Biarkan saja,” kata Kiai Ihsan dengan suara lirih.

Kiai Ihsan jatuh terkulai. Dadanya mengeluarkan asap, “Kenapa Kiai?”

“Telah kuberikan semua rasa cinta dan kasih sayangku sampai tidak tersisa kepada kalian, kepada semua orang dan kepada kehidupan. Tetapi ternyata ada yang mengkhianatiku, memanipulasi amalku. Jiwaku marah, menyala, dan rasa sayang dan cintaku serta maafku tidak mampu memadamkannya. Maaf, aku hanya percaya kepada pengadilan di alam nanti. Selamat tinggal, jagalah hutan, dan sungai kalian.”

Ribuan orang menangis dan membaca doa. Menangis, menangis. Menangis. Air mata mereka mengalir menjadi banjir. Dari langit turun hujan lebat, mata air meledak, menyemburkan air bah tinggi. Orang-orang yang sedang gembira menyambut penghargaan untuk Insinyur Budas Bandus, terlempar ke atas, didorong semburan mata air itu. Insinyur Bundas Bandus terlempar lalu terseret arus banjir, masuk sungai, hanyut. Tidak diketahui tempat hilang dan tempat nyangkutnya. ❑ – g

Yogyakarta, 2018

Mustofa W Hasyim, sastrawan, tinggal di Yogyakarta.


[1] Disalin dari karya Mustofa W Hasyim
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu 7 Oktober 2018