Hutan yang Menyala

Karya . Dikliping tanggal 26 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia
ANAKKU bertanya, Ma, kok bulannya berjalan, ya? Seketika aku tersentak. Pikiranku baru saja melayang sangat jauh ke hutan-hutan di Sumatra yang memerah. Ke hutan kecil milikku yang juga ikut terbakar. Aku melihat jam tangan. Pukul tiga sore. Sepotong bulan berwarna oranye terang tergantung di langit.
Ma, kok bulannya terpotong? Kembali anakku bertanya.
Aku terdiam. Aku teringat kembali pelajaran tentang tata surya di lembar kerja siswa yang kubaca saat mendampinginya mengerjakan PR semester lalu. Tentang Matahari. Bulan. Planetplanet. Bintang. Namun, yang bisa kuingat sekarang hanya sepasang matanya yang letih.
Setiap malam ia mengerjakan PR. Setiap malam ia terkantuk-kantuk, tapi tidak berani berhenti sebelum semua selesai, sebab takut ditanyai guru wali kelasnya keesokan hari.
Waktu seumur dia, aku tidak tahu aku memikirkan apa saja. Yang kuingat aku hanya banyak bermain dan bersenang-senang. Terutama main pasir di pinggir sungai dan menangkap belalang saat rumput-rumput sudah tumbuh di sawah sehabis masa panen. Waktu seumur dia, aku baru belajar membaca kata-kata sederhana dan berhitung menggunakan sempoa dengan bola-bola plastik warna-warni. Aku sampai menghabiskan lima sempoa, baru bisa berhitung dengan benar. Aku tidak ingat dengan pasti kelas berapa mulai belajar tentang benda-benda langit. Kemungkinan besar ketika aku sudah kelas empat atau lima. Yang kuingat aku tidak suka belajar tentang matahari, bulan, planet, bintang.
Aku tidak pernah mengingat dengan baik jarak antarplanet dan benda langit yang sampai jutaan ratus cahaya itu. Aku tidak pernah terkagum-kagum seperti temantemanku saat melihat gambar astronot mendarat di bulan atau gambar permukaan benda angkasa yang tidak rata dan merah.
Dan, bulan di langit itu mendekati kemerahan.
Mendekati warna…. Ah, aku menggelengkan kepala sambil berdecak bingung. Bagaimana mungkin bulan muncul berwarna oranye pada pukul tiga sore? Aku pernah melihat bulan yang muncul di siang hari, warnanya putih, mirip awan tipis berbentuk bulat.
“Ma, jawab dong.” Aku menoleh, “Bukan terpotong, tapi itu bulan separuh,” kataku masih terus berpikir kenapa bulan itu sampai muncul dengan warna yang begitu oranye pada pukul tiga sore. Aku mulai bertanya adakah yang salah dengan hari ini? Mungkinkah kami sedang tersesat ke dunia lain, sebuah dunia yang tidak sama dengan dunia tempat selama ini kami berada? Kapan terjadinya? Apa bus itu sengaja membawa kami ke jalan yang salah dan telah merencanakan sesuatu yang kami semua tidak tahu? Aku cepat menghentikan pikiran-pikiran yang melintas dalam kepalaku. Aku pasti saja sedang tertekan.
Keadaan tertentu dapat membuat seseorang kebingungan dan berhalusinasi.
Laut kembali bertanya, “Kenapa separuh?” “Coba kauingat pelajaran tata suryamu,” kataku cepat. Aku ingin menghentikan pembicaraan tentang bulan itu. Aku ingin tak memikirkan sesuatu yang membuatku tercekam. Terlebih kami dalam perjalanan bersama orang-orang yang tak dikenal. Jika aku panik, semua jadi menakutkan bagiku. Itu sering terjadi. Aku pernah terjebak dalam hujan yang disertai petir. Aku berdiri di halte bersama orang-orang yang baru pulang kerja. Petir tak henti-henti di langit. Lama-lama membuatku tidak nyaman.
Puncaknya, mendadak aku merasa tengah dikepung manusia bermata api. Aku menjeritjerit dan baru tenang ketika seseorang memanggil namaku.
Bus yang kami tumpangi terus melaju di jalan Lintas Timur Sumatera. Sopirnya batuk satu kali— bunyi batuk yang terdengar menyeramkan—tapi mungkin tidak menjadi perhatian penumpang lain. Laut, anakku, tak lagi bertanya. Namun, aku tahu, ia masih tertarik pada bulan itu. Ia menempelkan pipinya di kaca bus dan terusterusan memandang langit. Saat bulan hilang karena tertutup segumpal awan putih kapas, ia sedikit gelisah, tapi tak sampai bertanya padaku kenapa bulan itu hilang, sebab dengan cepat bulan itu sudah muncul kembali.
Perjalanan darat ini keputusan paling berat yang kuambil dini hari tadi. Sumatra diselimuti kabut asap. Semua penerbangan dihentikan.
Kami belum pernah melakukan perjalanan darat antarprovinsi yang memerlukan waktu belasan jam, berdua saja. Sebelumnya ibu meneleponku.
Ia bilang, “Loti, hutan kecilmu terbakar.
Barangkali kau ingin pulang untuk melihatnya.” Aku tak segera menyahut. Aku langsung ingat batang-batang cengkih, monyet dan anakanaknya, burung-burung, ikan-ikan di sungai kecil. Aku ingat pondok kayu di hutan kecilku itu. Hutan yang diberikan kakek padaku karena ia pikir suatu hari aku bisa berladang di sana mengingat minatku yang payah dalam sejumlah pelajaran di sekolah. Dulu, kata kakek, hutan kecil itu bagian dari kebun cengkih keluarga besar kami. Lalu sebagian besar tanah itu dijadikan kebun karet oleh dua pamanku dan hanya menyisakan bagian kecil dengan sisa-sisa batang cengkih yang tidak terurus. Setiap pulang Lebaran atau liburan, aku selalu menyempatkan diri pulang ke kampung kakek untuk pergi ke hutan itu. Aku senang berada di sana. Hutan milikku sendiri. Hutan yang juga ditumbuhi bambu, pakis, dan jamur. Hutan yang ternyata tidak pernah menjadi ladang karena aku berangkat ke sebuah kota untuk kuliah dan bekerja dan urung menjadi seorang petani.
Bus terus melaju cepat di jalan panjang yang lurus. Laut terus memandang bulan. Sesekali ia bicara sendiri atau malah bicara pada bulan itu.
“Kau suka bulan itu?” tanyaku berbisik karena tidak tega membiarkannya bingung sendirian.
Aku sedikit memarahi diriku yang egois. Ya, aku sudah terlalu banyak egois sejak semalam dan itu pelan-pelan membuatku merasa ibu yang buruk.
Ia cepat mengangguk, tanpa menoleh. Aku ingat lagi saat kami mengerjakan PR di malam itu.
Ia senang sekali ketika akhirnya aku membuka sebuah situs yang menampilkan gambar bulan, matahari, bintang, bahkan video planet-planet yang berputar. Ia bertanya, apa di sana ada orang? Siapa yang membuat benda-benda itu? Bagaimana cara pergi ke sana? Apa di sana ada orang yang jual robot-robotan? Mama, boleh aku menggambar bulan? Mana cat air, Ma? Mana kertas? “PR-nya belum selesai. Wali kelasmu akan memeriksanya besok pagi.” Aku mengingatkannya. Ia terdiam seketika. Bibirnya rapat dan tak bergerak lagi. Ketika aku ingin memegang tangannya, cepat-cepat ia menariknya.
Aku meninggalkannya dengan sisa satu lembar kerja siswa yang belum dikerjakan.
Saat aku datang lagi ke kamarnya, ia tertidur dengan kepala tertelungkup di atas buku-buku yang masih terbuka. Aku membaca sebuah pertanyaan yang belum selesai dijawab di lembar kerja siswanya. Apakah bulan memancarkan cahayanya sendiri? Ia baru menulis: Bulan… “Bulannya hilang, Ma,” katanya membangunkan aku dari lamunan. Aku langsung menunduk dan memiringkan kepala, mencari-cari bulan di langit lewat kaca bus yang bening. Bulan itu memang sudah tidak ada. Namun, aku berkata, bulannya sedang sembunyi, nanti keluar lagi.
Ia kembali menempelkan pipinya di kaca bus. Ia menunggu bulan itu kembali.
Aku menyandarkan punggungku di sandaran kursi. Melepaskan napas perlahan.
“Bulannya tak kembali,” suaranya lirih dan sedih.
Bus berguncang. Pasti ada jalan yang berlubang. Di depan kami seorang ibu muntah.
Bau muntahan itu melayang di udara ber-AC.
Aku mulai ikut-ikutan mual. Cepat kupejamkan mataku dan mengalihkan pikiranku dari bau muntah itu.
“Ma, lihat! Bulannya menyala.” Laut tiba-tiba berkata. “Kenapa bulan menyala, Ma?” Aku tercengang dan tak bisa menjawab pertanyaannya.
Kenapa bulan menyala? Tanyaku pada diriku sendiri. Aku ingat telepon Ibu semalam. “Hutan itu tiba-tiba menyala.” “Ada yang membakar?” tanyaku.
Ibu terdengar gugup. Ia seolah mau menyembunyikan sesuatu dariku. Ia bahkan hampir menutup telepon kalau saja aku tidak cepat-cepat menangis hingga kudengar suaranya, “Loti, Loti, Ibu tidak tahan jika kau menangis. Hutanmu akan kembali tumbuh. Kau bisa menanaminya lagi.” Lalu aku tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Orang-orang di kampung kakekku telah menyerahkan hutan-hutan untuk ditanami kelapa sawit pada perusahaan besar yang mereka tidak pernah tahu datang dari mana.
Ratusan ribu hektar hutan dibakar. Dan hutan kecilku tak sengaja tersambar api yang tidak tahu lagi tentang batas.
Kulirik Laut di sampingku. Ia tampak membeku, memandangi bulan yang menyala. Kuedarkan mataku ke sekeliling. Tak ada seorang pun yang kulihat. Semua putih. Semua seolah menjadi kabut. Bus terus melaju kencang. Bahkan semakin kencang.
“Mama, bulan merahnya banyak sekali,” kudengar lagi suara Laut.
Cepat-cepat aku menempelkan wajahku di kaca bus. Benar. Bulan banyak sekali dan semuanya menyala. Bulan merah yang ada di mana-mana.
Seolah beterbangan. Seolah berpencaran.
Kugenggam kuat-kuat tangan Laut dan aku berbisik, “Itu bukan bulan, tapi api.” Laut tak lagi bersuara. Laut tak lagi bertanya. 
2015 
Yetti A.KA, kumpulan cerpen terbarunya Satu Hari yang Ingin Kuingat (2014).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yetti A.KA
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 25 Oktober 2015