Ibrahim dari Barus

Karya . Dikliping tanggal 21 Juli 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
ORANG mungkin hanya mengenal Hamzah dari Fansur, kota yang pernah masyhur di Dunia Timur. Kota itu kini merana dengan nama yang lampus: Barus. Tapi tidak. Barus tak mungkin hilang dari ingatan sebagai tempat kelahiran nama-nama agung. Engkau tentu akan menyebut Hamzah Fansuri, salah satunya, atau satu-satunya nama yang kau hapal di luar kepala.

Ibrahim dari Barus

Ya, Syeikh Hamzah Fansuri, penyair-musyrid yang berlaku sebagai anak dagang, membawa dirinya ke tempat-tempat utama di bumi. Dari Kudus ke Mekkah, dari Banten ke Istanbul hingga Malabar dan Coromandel, meski akhirnya di dalam rumah—dalam istana Aceh Darussalam—ia bermuka-muka dengan Rabb-nya. Bukankah memang di negeri bawah angin itu ia diterima mengembangkan ajaran tasawufnya?

Beruntunglah jika engkau pernah membaca kisah tentang Hamzah dan si burung dalam sangkar. Kisah itu mendedah pergulatan Hamzah dengan hiruk-pikuk dunia. Itu cukup menambah pengetahuanmu tentang dia, tak sebatas hapalan. Bahwa untuk menjadi sufi yang sekarang kau kenal, ia telah bertindak seperti orang gila dari pelabuhan ke pelabuhan, menenteng sangkar seekor burung. Tentu sambil terus mengasah penglihatan dan pendengaran, sehingga ketika negeri bawah angin terkabar gundah, ia segera berkemas mengambil tanggung jawabnya.[1]
Tapi Barus bukan hanya Hamzah. Di antara wangi Barus atau Fansur, sesungguhnya berkisar banyak nama. Ada Hasan Fansuri, murid kesayangan Hamzah sendiri. Bukan lantaran mereka berasal dari daerah yang sama. Tapi cemerlangnya pikiran Hasan dalam naungan cahaya Wujudiyah, memikat Hamzah untuk mencintainya lebih dari yang lain. Bandingannya mungkin hanya Abdul Jamal. Ada pula Tuan Makhudum, kadi kerajaan yang adil bijaksana. Bahkan pahlawan tanah Batak yang kaukenal, Sisingamangaraja IX, juga berasal dari bandar tua yang berjaya sampai akhir abad ke-16 itu.
Dan di antara itu semua, ada satu nama yang tak patut terlupa, ialah seorang raja bernama Ibrahim. Ibrahim dari Barus…
NAMA Tuan Ibrahim, lengkapnya Sultan Ibrahim Syah, mula-mula kukenal dari buku Sejarah Raja-raja Barus suntingan Jane Drakard[2]. Tapi jauh sebelum itu aku sudah mendengar cerita tentang seorang Minangkabau yang menjadi raja di Barus; meski perihal duduk perkaranya aku tak tahu benar karena cerita itu tak menyebut nama. Sungguh pun begitu, alur kisah dan cara orang tua-tua di kampungku menuturkannya sangat mengesankan, indah serupa orang bakaba[3]. Kisah inilah tinggal lebih lama dalam diriku.
Di dalam buku Drakard, silsilah dan nama-nama disebut dengan jelas. Tentu saja, karena buku itu menukil kronik raja-raja Barus, dari dua manuskrip berbahasa Melayu tinggalan abad ke-18. Disebutkan, pada abad ke-16, di Barus bertakhta dua raja: Raja Hulu dan Raja Hilir. Raja Hulu bernama Sutan Marah Sifat, menguasai jalur perdagangan ke pegunungan. Tuan Ibrahim adalah Raja Hilir yang menguasai pantai, dan dengan sendirinya juga menguasai pelabuhan. Itu artinya perannya lebih besar. Tapi sebenarnya keduanya bekerja sama: Raja Hulu pengumpul rupa-rupa hasil hutan Bukit Barisan, Raja Hilir menampungnya di gudang dan lambung kapal.
Karena tertarik membaca literatur Barus, termasuk soal Hamzah, maka aku berkunjung ke negeri yang kini berada di Tapanuli Tengah itu. Pada hari Itsnayn Rabiul’awal 1434 Hijriyah, aku mulai berziarah ke makam-makam tua di kompleks Mahligai, Papan Tinggi, Batu Badan hingga nisan-nisan tak terawat yang bertebaran di bekas wilayah Barus Raya. Adapun makam Tuan Ibrahim kutemui di belakang rumah penduduk, setelah kubaca petunjuk di tepi jalan.
Saat itu aku merasa aneh: justru di Barus, Hamzah Fansuri tak berjejak. Tak ada batu nisan maupun bekas tapak rumahnya, bahkan tiada seorang pun yang tahu ketika namanya disebut. Kecuali hotel sederhana tempatku menginap yang memakai nama mursyid Qadariyah itu, tak ada lagi selain itu. Tak apa, toh aku bisa memusatkan perhatian pada Tuan Ibrahim yang jalan hidupnya tak kalah menyedihkan dibanding Hamzah Fansuri. Apakah karena Tuan Ibrahim memiliki hubungan asal-muasal dengan diriku? Mungkin saja. Tapi kurasa ini lebih karena penghormatan pada sebuah nama, asal-usul dan silsilah. Hanya dengan begitu kisah yang bergerak di sepanjang aliran Sungai Aek Sarahar, ternukilkan.
Begitulah, Tuhan menciptakan asal-usul manusia berlapis-lapis melebihi kulit bawang bahkan lapis langit yang kau kenal. Tak akan habis dirunut ke belakang; jika pun selesai di dunia, ke alam malakut pun ia menjangkau: alam rahim, alam roh, bahkan sejak alam belum berkembang. Tuan Ibrahim dari Barus, sejatinya bukan benar-benar berasal dari Barus, tapi dari tanah kelahiranku, di selatan. Tepatnya Tarusan, sebuah kecamatan yang berbatasan dengan kota Padang. Kau tahu, pantai dan pulau-pulau kecil di Tarusan sangatlah indah sehingga banyak disewa investor asing, tapi celakanya, ada beberapa tempat yang menolak turis lokal. Mereka hanya mau tamu bule. Ini perlu kusinggung sedikit karena apa yang dipraktekkan di situ sekarang pastilah ditertawakan moyangku dulu.
ALKISAH, di Tarusan ada satu kerajaan kecil pernah tumbuh. Namun karena dikacau orang Peranggi, sebagaimana sarang serangga diguncah burung tanah, pertumbuhannya terhenti. Pangerannya memutuskan pergi, berlayar ke utara. Hanya raja tua yang tetap tinggal. Oleh raja tua, pangeran diberi sebungkus tanah kampung halaman. Jika kelak ada tanah yang sama aromanya, di sanalah kalian tinggal, katanya berpesan. Begitulah, pangeran itu berlayar hingga ke Nata, daerah yang datar, lama-lama menjadi Natal. Dihidu kepal tanah dalam bungkusan; aromanya sama belaka. Maka di Natal mereka tinggal, beranak-pinak, membangun puak.[4]
Mereka menyebar menuju tapuan nauli, tepian laut yang cantik—sekarang dikenal sebagai Tapanuli—berbaur dengan puak setempat, hidup berbilang kaum. Bahkan seorang pangeran bergerak lebih ke utara, masuk ke pedalaman, dan beroleh pengikut di akara dan Pasaribu dekat Danau Toba. Dari pedalaman lembah Silindung itu ia kembali ke pesisir, sampai naik takhta menjadi raja di Barus. Dialah Tuan Ibrahim.
Seperti Hamzah si anak dagang, Ibrahim juga membawa peruntungan dari bandar ke bandar. Ia dan rombongan diterima dan menerima. Tak ada perkara asli atau pendatang. Asal tahu saja, ketika keturunan Ibrahim berkuasa di Tarusan, keluarganya pun bukan sejak buyut tinggal di situ. Nenek-buyutnya sendiri berasal dari Indrapura, kerajaan yang berpusat di Muara Sakai, seratus kilo lagi ke selatan. Karena Indrapura diserang VOC, orang-orang istana lari menyebar ke Muko-muko dan Bintuhan, Bengkulu. Sebagian dari mereka sudah lebih awal berlayar ke Bandar Sepuluh, melewati Pulai Cingkuk di muka Kota Painan, lalu menetap di Tarusan.
Kuceritakan ini pertama-tama bukan lantaran klan Ibrahim turun-temurun menjadi raja, tapi semata begitulah sejatinya hidup di dunia: tak membedakan asli atau pribumi, anak jati atau bukan. Sebab jika klan Ibrahim pun hanya warga biasa, aku yakin mereka juga akan diterima sebagaimana orang-orang berbagai bangsa mukim dengan damai di Barus atau kota-kota lain di pantai barat Sumatera. Toh kita juga tidak tahu, sebelum di Indrapura, klan Ibrahim entah pernah ada di mana lagi. Mungkin di Persia atau Yaman, mungkin di Aden, India lalu masuk ke Sumatera. Dan jika dirunut ke atas lagi bisa jadi berhubungan dengan silsilah Rasulullah, sebagaimana silsilah raja-raja Jawa. Kita pun tak tahu, selepas keruntuhan kota Barus yang misterius itu, entah ke mana lagi keturunan Tuan Ibrahim pergi.
DI makam Tuan Ibrahim, di bawah keteduhan pohon enau, aku bersimpuh. Kuusap batu nisannya yang dibalut kain kuning lusuh. Angin tengah hari berhembus semilir, dan bersamaan dengan itu imajinasi dan pengetahuanku membaur. Kaba dan buah tutur orang-orang tua di kampungku mendengung kembali, menuntun anganku ke langit tinggi. Nama-nama dan silsilah yang kudapat dari buku-buku pengetahuan menggenapkan anganku tegak di bumi. Bersama semua itulah, tak terduga, diriku terasa mulai mengembarai alur kisah seolah aku ada di dalamnya.
Tuan Ibrahim, kutahu, adalah raja yang adil, tapi ia diadu dengan Raja Aceh yang lebih digdaya. Itulah perbuatan Raja Hulu, Marah Sifat, yang merasa kalah bersaing. Utusan Raja Hulu meminta Aceh untuk mengirim pasukan ke Barus sebab dikatakannya Barus menantang Aceh berperang. Negeri bawah angin yang memang sedang menggila di pantai barat dan timur itu dengan senang hati meladeninya. Barus Hilir diserang, dan Tuan Ibrahim tak tinggal diam. Perang pecah berhari-hari, membuat pelabuhan ditinggalkan kapal-kapal. Serangan Aceh tak ubahnya gergasi, raksasa dari laut yang melumat kota dengan hasrat tak berampun. Memasuki pekan kedua, istana Ibrahim di Ujung Tanah dikepung. Tuan Ibrahim ditangkap, dan kepalanya dipenggal. Aneh bin ajaib, saat pemenggalan itu berlangsung, bibirku ikut menjerit, nama lain seketika bangkit, menyeruak di ruang kepala: Husein, Husein—Husein di Karbala!
Bersama itu pula, sosok Hamzah Fansuri yang sejak tiba di Barus terpaksa kulupakan, tiba-tiba ambil bagian. O, lihatlah, mursyid yang kau kira telah melupakan tanah kelahirannya itu, ternyata tidak. Sufi yang kau anggap hanya berkhidmat di bilik-bilik suci tempat memuja itu, ternyata sangat peduli pada api dan matahari. Begitulah, saat Barus diserbu, Hamzah berbenah, sebagaimana dulu ia berkemas meninggalkan Istanbul dan Coromandel menuju negeri bawah angin yang diguncang prahara. Ia dan murid-muridnya menyampaikan protes kepada Sultan lewat “syair-syair politik” yang sampai kini tersuruk di bawah keagungan “syair-syair sufistik”. Boleh jadi syair-syair itu telah sirna dibakar pengikut Nuruddin Ar-Raniri, musuh tasawuf sekaligus musuh Fansuri. Yang jelas, syeikh tak diam ketika istana mengirim pasukan ke selatan. (Kuamsal persis ulama Aceh di Jakarta yang memprotes operasi militer ke Serambi Mekkah.) Syeikh bahkan meneteskan air mata ketika mendengar kepala sang raja Barus dipenggal.
Kepala Tuan Ibrahim dibawa dalam bungkusan—serupa tanah kelahiran yang dibawa berlayar. Tapi tidak dibuka di Natal, melainkan di bawah singgasana Sultan Aceh Darussalam.
Begitulah si musuh dipersembahkan.
Di luar dugaan, ketika kepala itu dipersembahkan oleh panglima perang, Sultan Iskandar Muda terlihat gemetar. Apa yang terbuka di depannya sungguh tak biasa. Wajah itu, mata itu! Wajah yang memesona, dengan debu dan darah yang mengering tak mampu menutupi kemurniannya. Sepasang matanya masih nyala, seolah menyimpan sumber api yang tak padam oleh sakit dan derita.
Mata Iskandar Muda meremang, wajahnya memucat. Kepala Tuan Ibrahim tak ubahnya kepala rusa persembahan Si Purbah dalam kisah awal raja-raja Barus. Kepala rusa yang dibuat sedemikian rupa dari kain-kain leluhur Toba dan Dolok Sanggul itu, membuat Alang Pardoksi, Raja Barus awal, gemetar ketakutan sehingga bebaslah Si Purbah, klan Si Namora, dari upeti.
Begitu pula Iskandar Muda kini. Sultan bercambang lebat itu perlahan undur, diikuti tatapan panglimanya yang tak mengerti. Kepala itu seharusnya digalah dan diarak di jalan raya, begitu Sultan tertawa puas sebagaimana lazimnya. Atau dijadikan bola mainan yang bergulir dari kaki-kaki prajurit. Tapi itu mustahil. Sultan toh sudah tumbang sebelum sempat meludah dan tertawa.
Balairung heboh oleh bisik dan selidik. Sultan yang kuat dikalahkan oleh tatapan sepasang mata dari sepotong kepala yang tak berdaya, kata orang-orang. Apa yang terjadi? Apa yang akan terjadi? Tak ada yang mengerti. Ya, kami telah melihat Sultan menggigil dan nyaris ganti ditandu ke peraduan jika tidak cepat dibimbing para uleebalang. Kini, para panglima pun ikut gemetar. Kepala dalam bungkusan itu menjadi momok yang mengancam.
Ada semacam sugesti yang kemudian menjalar ke seluruh angkatan perang bahkan rakyat banyak sekalian. Betapa pun juru bicara istana menjelaskan bahwa Sultan baik-baik saja, semata saking jijiknyalah maka beliau undur diri. Tapi para panglima yang melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Sultan gemetar, tak mempan membendung sumber sugesti!
Hari itu juga akhirnya tersiar kabar. Sultan jatuh sakit. Para tabib berlomba meramu obat. Hamzah Fansuri sendiri kulihat sudah selesai menyeka air mata, secepat ia kembali pada cinta Wujudiyah, dan kini ikut memberi Sultan air ramuan yang sudah didoakan. Hamzah juga mulai bicara tentang penyebab sakitnya Sultan. Sultan, kata Hamzah, menyerang Ibrahim tanpa menyelidiki kebenaran kabar utusan.
Ucapan Hamzah cepat bergema, kelak mempercepat keterusirannya dari istana. Jelas ia dianggap mendukung Raja Barus, betapa pun ia berusaha bijaksana, sebagaimana ia mengecam “meditasi bulan purnama” yang sering dilakukan Sultan.
Sungguh pun begitu, berkat nasehat Hasan dan Jamal, dua murid kesayangan Hamzah, akhirnya ditemukan jalan keluar: istana mesti membuat “Upacara Pula Batee”.
“Tapi bukankah upacara itu untuk raja?” protes seorang uleebalang. Ya, sebenarnya itu upacara pemasangan nisan keluarga raja dengan mengerahkan karnaval gajah dan pesta air.
“Tuan Ibrahim adalah Raja, keturunan raja…,” jawab Hasan tenang.
“Tubuhnya sudah dikubur di Barus, apalagi yang diinginkan?” sela seorang orang kaya[5].
“Kepalanya harus dikubur bersama tubuhnya,” tukuk Jamal. Mereka terbiasa menghadapi debat bahkan menyangkut hakikat, dengan penantang Wujudiyah yang paling keras sekalipun.
Tercekam oleh sakit aneh Sultan yang belum ditemukan obatnya, orang istana tak bisa mengelak dari saran Hasan dan Jamal. Apalagi saat itu beredar desas-desus bahwa Raja Usuf, anak Tuan Ibrahim telah menyusup ke istana untuk membalas dendam. Maka, para uleebalang dan para orang kaya atas persetujuan Sultan yang masih bisa mengangguk dengan wajah pucat di peraduan, sepakat mengadakan upacara besar-besaran mengarak kepala Tuan Ibrahim dari istana. Bukan untuk digalah dan dipermalukan. Tapi untuk dibawa kembali ke Barus, disatukan dengan tubuhnya, dan sekaligus dengan itu Barus akan dibebaskan dari upeti.
Tapi alasan apa yang harus dibuat supaya rakyat dan dunia tahu bahwa raja Aceh telah berbuat tepat? Bagaimana menjawab duta besar Turki Usmani yang dikenal jeli mengulik segala ihwal, layaknya mata-mata? Bagaimana meredam keingintahuan guru-guru dari Hejaz, Mesir dan Yaman? Hasan dan Jamal, dengan laku tasawufnya yang penuh cinta, tinggal membacakan syair gurunya yang agung, dan itu sangat diplomatis kurasa:
Subhanallah Allah terlalu kamil
Menjadikan insan alim dan jahil
Dengan hamba-Nya da’im Ia wasil
Itulah mahbub bernama adil
Mahbubmu itu tiada berlawan
Lagi ia alim lagi bangsawan
Kasihnya banyak lagi gunawan
Olehnya itu beta tertawan[6]
Maka semaraklah jalanan Kutaraja di bawah samanera dan panji-panji kerajaan. Meriam-meriam ditembakkan. Gemerincing gelang-gelang perak dan tabuan dap, mengiringi tarian dan lagu dipuji delapan belas biduan bidadari. Barisan tujuh puluh ekor gajah, masing-masing dengan menara merah-kuning di punggung, keluar dari benteng. Prajurit-prajurit berpedang panjang berjalan di sisinya dengan seragam yang mewah. Bunga dalam air berkendi-kendi ditaburkan kepada hadirin yang berbaris di tepi jalan. Mereka mengelu-elukan sepotong kepala terhormat yang lewat, sampai ke batas Kutaraja.[7]
Setelah tembakan meriam penghabisan, kepala dalam baki berselempang tujuh lapis kain sari itu pindah ke tangan pasukan berkuda yang membawanya melaju ke arah Tapaktuan, Subulussalam, Singkil, terus ke Barus Raya. Betapapun kesal dan tak habis mengerti, panglima pasukan yang mengantar kepala itu tak bisa berbuat banyak selain patuh pada kehendak takdir. Mereka yang semula maju berperang untuk kepala musuh, sekarang membawa kepala itu kembali dengan persembahan yang besar. Mereka tunduk dalam kemenangan, takluk dalam kebesaran.
Sesekali muncul niat mereka untuk menukar kepala itu dengan kepala kambing atau benda lain, tapi tak mungkin ada yang berani. Mereka tak bisa lepas dari sugesti sepasang mata dalam bungkusan aroma kesturi. Gerak-gerik mereka seolah diawasi entah oleh siapa, membuat siapa pun merasa dilaknat Allah jika tak membawa kepala itu kembali bersatu dengan tubuhnya.
Begitulah cerita Raja Barus mengalahkan Raja Aceh—mengingatkanku pada anak kerbau Pagaruyung yang mengalahkan induk kerbau Majapahit. Kau toh sudah tahu kisahnya.
Yang belum kau tahu mungkin keadaanku. Setelah jiwaku lelah mengembara, orang-orang menemukanku tertelungkup di bawah pohon enau. Sebelum diangkat ke serambi sebuah rumah di samping bengkel, tanganku kuat menempel ke batu nisan yang terbungkus kain kuning lusuh itu. Nisan itu kuamsal sepotong kepala, yang membuat aku menjerit dan menangisinya dalam irama dendang, berulang-ulang, “Kepala keramat, kepala keramat, salam hormat anak dagang!”
Itu yang diceritakan orang-orang setelah aku siuman.
Cerita yang membuat aku ganti tercengang.(*)
Barus-Yogya, 2013-2014
Catatan:
[1] Kisah dimaksud ditulis Azhari, “Hamzah dari Fansur”, Koran Tempo, 31 Oktober 2010.
[2] Lihat Jane Drakard, Sejarah Raja-raja Barus, Dua Naskah dari Barus (2003).
[3] Kaba, bakaba, tradisi tutur Minangkabau.
[4] Kisah negeri Natal, sebagaimana dikutip buletin Forum Lintas Rantau (volume VII, 2007) dari buku Natal Ranah Nan Data karangan Puti Balkis (1966).
[5] Uleebalang dan orang kaya, dua tiang Kesultanan Aceh Darussalam; berarti hulubalang raja dan konglomerat istana.
[6] Puisi Hamzah Fansuri yang dikutip Abdul Hadi W.M. dalam Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber (1999). Gambaran Hamzah Fansuri bersumber dari sini.
[7] Lihat Anthony Reid, Menuju Sejarah Sumatra (2010).
Raudal Tanjung Banua mengelola Komunitas Rumahlebah dan Akar Indonesia di Yogyakarta. Buku puisinya yang mutakhir, Api Bawah Tanah (2013).
Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Raudal Tanjung Banuah
[2] Pernah dimuat di “Koran Tempo” pada 20 Juli 2014