Ikan dan Rumahnya – Daun Mencium Bunga – Di Kaki Candi

Karya . Dikliping tanggal 11 Januari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Ikan dan Rumahnya

Ikan-ikan di kolam
memnadangi batas rumahnya
ada sudut, garis hitam melintang
seperti tak pernah putus-putus
ikan-ikan itu berpikir
Siirp yang dipasang di tubuhnya
hanya dipinjamkan, karena
mereka tahu akan ada kematian
dan tetap saja ikan-ikan itu
tak pernah sampai-sampai
ketika memandangi batasrumahnya
2013

Daun Mencium Bunga

Aku muhrimmu
yang lahir dari perut musim
lalu kau menjadi wangi
sedang aku menjadi sangat hijau
Lalu kita saling berciuman
menggetarkan batang pohon
dan pagar rumah

Ikan-Ikan Kecil

Ikan-ikan kecil itu tidak mesti bernama teri
mereka bisa saja cakalang atau gabus yang
berbaju kotak-kotak kecil seperti ikan-ikan bonsai
mereka bersayap lembut seperti sisik-sisik perak
yang bernyanyi, yang menari
yang melagukan nyanyian-nyanyian malam
Ikan-ikan kecil itu rakyat bagi negara lautan
anak-anak yang terus menjaga garam
dan seisi zat-zat di laut yang bersisik perak
mereka menjalani cara belajar renang
hingga jam renangnya bisa menyerupai 
ikan-kan yang tubuhnya besar dan tambun
Lautan ikan-ikan kecil adalah negara
bagi wilayah yang tak membutuhkan bendera
dan simbol-simbol laut 
atas kuasa ombak dan karang
2014

Di Kaki Candi

Jonggrang tersedak di balik candi
membakar bulan, lalu abunya
ia taburkan di wajah Bandung
“Hai lelaki malam. Hai kaki yang dibalut abu 
dan tulang-tulang yang menguning”
Matahari sudah sejam berangkat dari candi 
semua yang dilalui kaki-kaki angin adalah sedu mimpi
atas peperangan dan syahwat yang menembus
dinding candi yang bisu, tak pernah tahu
dan mau menentukan dari mana arah cinta
anak manusia yang menjalani ritus untuk pujaannya
namun kekalahan itu adalah isyarat
dan jaminan bagi kekekalan cinta
bukan dari siapa-siapa
bukan pula dari Jonggrang, apalagi keringat dan
syahwat lelaki yang tak pandai memainkan drama
seperti Bandung dan seribu lelaki tanpa nama itu
2014

Buku Yang Bernama Obituari

Buku itu kau balik,
di belakang jadilah tinja
toilet rumah kita jadi penuh aksara
berjajar mereka membawa lampion dan lampu minyak
merobek-robek teori yang basi, tak sanggup lagi
memuliakan kita menjadi lentera dan asupan malam
bagi para penjaga burung-burung malam
Ia fisioterapi bagi lidahmu
bagi mata yang mengatup
bagi telinga yang kenyal seperti karet
ia dulu daun pandan yang menyebarkan wangi
anak-anak belukar butuh selimut kasih sayangnya
Bukuku menanis, dilolong sepi ia mengigau
namun saja tak ada yang sudi membezuk jasadnya
merana di rak dan lemari tua
ia seperti wujud sebuah kematian
mengerikan seolah ia sedang menjalani prosesi
sebagaimana orang yang bernama: obituari

Sunyi

Kau membisu, tentu saja batu-batu itu kecewa
diam menyelimuti sleuruh waktu
yang kau belanjakan untuk asupan diamku
“Jika langit saja diam, lalu dari mulut siapa 
kupinjam kesaksian ini”
tanyamu pada suatu ketika, saat itu hujan diselingi
dentuman batu yang menghajar sekujur muka
dan tubuhmu
Segala yang telah berlalu
tanpa meninggalkan jejak waktu
adalah kekalahan yang menikam-nikam
jantung para pejalan
yang terkuras di kebun-kebun kering,
sumur-sumur tanpa air
sendang membatu, telaga mengapur
tak ada lagi selarik kata yang tersampaikan
Diam itu telah menjadi kuburan
sunyi bagi para pejalan
senyap seperti rombongan para pelayat
yang menghadiri pemakaman 
seorang koruptor yang mati
di atas tumpukan pasal, bukan sesal
dari balutan sunyi-sunyi bekas
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budhi Wiryawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 11 Januari 2015