Ikrar – Mesin ATM Itu Menyembunyikan Tuhan – Malam Tahun Baru

Karya . Dikliping tanggal 27 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Ikrar

Musim bergerak secepat kilat
tak terdengar lagi riwayat sunyi
apalagi nyanyian tikus trotoar,
lampu jalan yang makin redup
dan cekalan-cekalan di sekelilingnya
sebagai ikrar kepada ruang kedap suara,
dan kita kembali mempertanyakannya.

Waktu ke waktu malam berwajah semu
orang-orang berjalan setengah giwang
melawat kedai kopi sambil membawa
setandan gagasan, masing-masing
berusaha mewarnai langit kota
dan sebagian pelataran masa depan,
dan kita mulai menyingkir.

Adakah kelapangan sendiri
sebagai jalur ketentraman terdekat?

Dan kita mulai menerimanya.
terkadang jarak kita
hanya barang sepipi
sebatas teks-teks lembut
memiliki jantung sendiri
dan kita saling peluk lutut
melihat bayangan masing-masing
dalam mata saling tatap

bintang-bintang kecil
dalam benak sudah tidur.
Betapa kecil kita memang
menggambari muka sendiri
warna-warni kesukaan
hanya saja, asin sekali ini
sesuatu yang meledak di dadaku.

2017

Mesin ATM Itu Menyembunyikan Tuhan

Cinta bangkit atas rasa saling membutuhkan
juga berlaku alasan yang sama ketika ia berkurang.
Jika kau telisik dengan benar,
masih banyak ruang yang belum kita masuki
berputar-putar sebentar. Lalu memutuskan
antara melakukan suatu tindakan di sana
atau kembali ke pintu utama
— dan itu juga termasuk tindakan di sana.

Seperti ini.
Sebentar lagi kita akan menimba cinta
kotak mesin berlayar biru adalah sumur
yang tidak pernah kering oleh rasa ingin.
Angka-angka kita acak dengan teratur,
sangat hati-hati seakan jika satu digit saja keliru
neraka berisi sekawanan Tyranosaurus-rex akan mencolot
dari lubang AC itu. Dan menelan kita. Dan mengambil cerita kita.

Tapi itu cuma cerita lama.
Kita memang terlalu suka mendewakan kecemasan.
Terus-menerus.
Memohon panjang usia.
Semoga dunia tak usai.
Ah, mengapa tak sekalian saja kita carikan agama untuk
uang?

“Tuhan jangalah aku setidaknya sampai awal bulan.”
Begitu bukan?

2017

Malam Tahun Baru

Di kota yang gemuruh hujannya
telah bercampur dengan mesin pabrik.
Para pegawai pergi ke luar kota
muda mudi perantau turun ke jalan,
sedang cucu berlari-lari
para pensiunan bercengkrama
dengan menantu mereka.

Di rumah yang pernah kau rubuhkan
dengan paksa, kemudian kau jadikan
lapangan parkir alat-alat berat.
Malam tahun baru adalah
malam kemarin
dan kemarinnya lagi,
anak-anak rewel batuk seharian
kami tidurkan mereka lebih cepat
sebelum terompet memekak
di langit-langit kota,
seakan tak ada bahagia tanpa suara keras.

Di tanah yang kau tanam pembatas itu
petugas berseragam haram senyum dan sapa.
Malam tahun baru adalah
malam kemarin dan
kemarinnya lagi,
orang-orang saling bersinggungan
kelengangan adalah kembang api
yang siap meledak sewaktu-waktu.

2017

Nugroho Adi, lahir di Blora, 1997. Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya ini aktif di Komunitas Rabo Sore Surabaya dan jurnalis pers kampus Gema Unesa. Puisi dan cerpennya dimuat Solopos, Denpost Bali, Koran Merapi, Radar Surabaya, Radar Mojokerto, Magelang Ekspres, Radar Bojonegoro, Simabala.com, Kibul.in. (44)

 

[1] Disalin dari karya Nugroho Adi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi 26 Agustus 2018