Imam Kami Mati

Karya . Dikliping tanggal 6 Desember 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
Hari itu dimulai dengan pagi
seperti biasa. Siang lantas
datang seperti biasa. Begitu
juga sore. Malam sepertinya juga
bakal biasa. Sampai seorang pria
berseragam mengendarai sepeda
motor berwarna hijau datang di
depan gang. Dia berhenti di dekat
gapura. 
Kampung kami memiliki satu
jalan yang tak begitu lebar sehingga
hanya bisa dilalui sepeda motor.
Mobil tak bisa masuk. Kalaupun
ada yang datang menggunakan
mobil, dia harus parkir di depan
gang, dekat gapura tempat pria
berseragam tadi datang. Rumah-rumah
berderet sepanjang gang itu.
Di antara rumah-rumah, ada beberapa
gang kecil yang hanya bisa
dilalui dengan jalan kaki. 
Jalan menuju gapura sedikit
naik. Atap rumah terdekat
dengan gapura mungkin separo
dari tinggi gapura
bertuliskan tanggal, bulan,
tahun kemerdekaan negara.
Karena itu, siapa saja yang
berada di depan gang
pasti terlihat dari bawah. 
Sebelum aparat itu
datang, kami di kampung tengah
berbincang tentang apa yang
tengah ramai dibicarakan, temuan
mayat-mayat bertato di tepi jalan.
Koran yang dibeli Pak Pani, guru di
kampung, sering berpindah tangan
karena banyak yang ingin membaca
berita tentang itu. Warung Lik Sardi
semakin riuh oleh perbincangan
dari Karyo yang sok tahu, Pardi
yang terus bertanya, dan Parman
yang kerap menimpali. 
Kejadian itu mulai ramai diberitakan
sekitar dua atau tiga bulan
terakhir. Mayat-mayat bertato,
sebagian besar lelaki, tiba-tiba ditemukan
begitu saja di jalanan.
Sebagian besar mayat itu diceritakan
memiliki luka lubang akibat
peluru. 
’’Pasti mati ditembak,’’ kata
Karyo. 
’’Belum tentu, siapa tahu mati
dulu terus ditembak,’’ timpal
Parman. 

Sebenarnya kami sama-sama
tidak tahu. Misteri itu menjadi
bahan perbincangan berulang sampai
pria itu datang mengendarai
sepeda motor berwarna hijau. 

Pria berseragam tersebut berhenti
di dekat gapura, tepat di bawah
satu -satunya lampu di sana. Dia
tidak turun dari motor dan tidak
turun pula ke kampung. Dia tetap
duduk di atas motor. 
Kami: aku, Karyo, Pak Pani, Lik
Sardi, dan yang lain yang kebetulan
tengah berkumpul, melihatnya
waktu dia kali pertama datang. Dia
kemudian melambaikan tangan
pada Toni, bocah cilik anak Yu
Pari. 
Toni segera berlari dan setelah
sampai di dekat gapura, dia menerima
selembar kertas darinya. Tak
lama kemudian, pria berseragam itu
menyalakan sepeda motornya yang
berwarna hijau dan pergi. 
Sejak itu, kampung kami tak
biasa lagi. Hari selalu dimulai
dengan pagi yang berbeda.
Dilanjutkan dengan siang yang
beda pula. Dan sore serta malam
yang tak pernah sama.
Satu-satunya yang sama adalah
kedatangan pria berseragam dengan
sepeda motor hijau. Bahkan kehadirannya
semakin sering. Dia selalu
berhenti di dekat gapura, tepat di
bawah lampu. 
Satu-satunya
lampu di
mulut gang
kampung
kami. 
Pria berseragam itu juga
tak pernah turun dari sepeda
motornya yang berwarna
hijau. Dia
berhenti
di sana,
mematikan
mesin, lalu memanggil bocah, siapa
saja, yang mau dipanggil. Setelah
menyerahkan kertas, pria berseragam
tersebut lantas menyalakan
lagi sepeda motornya yang berwarna
hijau dan pergi. 
Ingin sebetulnya kami bertanya
siapa dia dan apa maksudnya
datang ke kampung kami, tepatnya
ke muka gang kampung kami. Tapi
kedatangannya tak pernah bisa ditebak
kapan. Yang pasti selalu
malam. 
Pernah kami bersepakat untuk
menunggu dia datang. Hingga
bermalam-malam berjaga, ternyata
pria tersebut tak datang-datang.
Setelah menyerah dan memutuskan
tak berjaga lagi, dia justru muncul.
Sama seperti sebelumnya, mengendarai
sepeda motor hijau, berhenti
di depan gang dekat gapura di
bawah lampu, dan memanggil
seorang bocah untuk dititipi kertas. 
Ah ya, kertas. Kertas-kertas yang
diberikannya pada bocah-bocah ternyata
hanya kertas. Tak ada tulisan,
goresan, atau gambar di sana. Tak
juga angka-angka yang mungkin
bisa memberi pencerahan bagi
sebagain warga kampung yang
pecandu togel. 
Kertas putih polos tanpa pesan.
Awalnya kami menduga dia sedang
berlagak menjadi nabi yang
menyampaikan ayat-ayat. Tapi tak
ada apa-apa yang bisa dibaca. Lagi
pula, sejak kapan dia menganggap
kami umatnya
sementara
berbicara saja tidak. 
Yu Pari dan juga ibu bocahbocah
yang pernah
dipanggil
pria berseragam
itu pernah
bertanya
pada mereka. 
’’Waktu kau menerima kertas.
apa pria berseragam yang mengendarai
sepeda motor berwarna hijau
itu berbicara sesuatu. Sebuah pesan
mungkin?’’ 
Toni dan para bocah menjawab
tidak. Menurut mereka, pria itu
hanya bilang, ’’Nyoh.’’ 
Kertas-kertas itu dikumpulkan
Warno, pimpinan kampung kami.
Dia yang mengaku dekat dengan
aparat berkata akan melaporkan
kejadian ini. 
Menurutnya, kedatangan pria
berseragam di depan gang pada
malam-malam tertentu telah membuat
resah. 
Ada yang khawatir anakanaknya
yang dipanggil untuk
menerima kertas kosong itu nanti
akan jatuh sakit. 
Ada pula yang risau kertas-kertas
itu nanti ternyata sudah diguna-guna.
Tapi tak sedikit pula yang
berharap kertas itu berubah menjadi
uang sehingga bisa dibagikan untuk
menutup utang. 
Warno kemudian membuat
undangan untuk warga kampung
berkumpul. Kami semua datang di
halaman rumahnya yang paling luas
dibanding yang lain. Bahkan sebenarnya
hanya rumahnya yang
memiliki halaman.
Malam itu Warno mengumumkan
telah bertemu dengan aparat
yang dekat dengannya. Dia telah
melaporkan kejadian datangnya
pria berseragam yang mengendarai
sepeda motor hijau pada malam-malam
tertentu. Saat kami menunggu
apa jawaban aparat yang dekat
dengan pimpinan kampung, tiba-tiba
dari arah gapura seorang
berlari kencang sambil berteriak,
’’Pak Imam mati. Pak Imam mati!’’ 
Sontak kami bubar dan menghampiri
Joko, lelaki yang berlari
itu. Dia mengaku melihat mayat
Pak Imam tergeletak di gapura.
Benar saja, begitu kami semua
berlari ke gapura, sosok Pak Imam
tampak duduk bersandar di gapura.
Kami semua terkejut. Ibu-ibu
menangis. Bocah-bocah termangu.
Pak Imam adalah anutan bagi
kami. Warga kampung memanggilnya
Imam atau Pak Imam
karena dia kerap kami pilih
untuk memimpin doa. Kami
bahkan sudah melupakan nama
aslinya. Dia tinggal sendiri di
sebuah rumah mungil tengah
kampung. 
Kami langsung memakamkannya
malam itu juga. Setelah itu, kampung
menjadi sunyi. Semua masuk
ke dalam rumah masing-masing. 
Mungkin kami sama-sama
berharap pagi segera datang menggantikan
malam. Bahkan, bila pria
berseragam itu datang, barangkali
tak ada bocah yang bisa dipanggil
karena memang tak ada yang tampak
di jalan. 
Keesokannya, kami masih membicarakan
kejadian semalam. Kami
coba menerka mengapa imam kami
mati. Kenapa dia tergeletak di
gapura? Di Warung Lik Sardi
semua menumpahkan pertanyaan-pertanyaan
itu ditemani kopi dan
ketela goreng. Kami kadang
mengiyakan tapi tak jarang pula
saling membantah. 
Setengah berlari, Karyo yang
kali itu terlambat bergabung di
warung, datang menghampiri dan
langsung bertanya pada kami. 
’’Apa semalam ada yang tahu,
tato Pak Imam bergambar apa?’’
(92) 
Desember 2016 

Catatan: Cerpen ini terinspirasi
oleh cerita dan karya Konde, perupa
asal Kota Semarang yang tengah
melangsungkan pameran tunggal
bertajuk ’’Petrus’’ di Pojok Kreatif
Merak, Kantor Suara Merdeka,
Kota Lama Semarang, 1-9
Desember 2016.
Adhitia Armitrianto, penulis
kelahiran Kota Semarang,
bergabung dengan Mangga Pisang
Jambu Project dan komunitas
halah.co.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adhitia Armitrianto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 4 Desember 2016