Inilah Kisah – Di Depan Kursi Yang Mengahadapmu – Perkenalkan Aku – Harapanku

Karya . Dikliping tanggal 14 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Inilah Kisah 

kusaksikan alam raya ini berguncang
selepas hujan musim kemarau
angin datang, menandakan bumi sedang meriang
dan masih menyeruak sisa air matamu

apakah engkau tahu, tentang deru laut dadaku,
tentang riak darahku, tentang denyut nafsuku
dan tentang segala-galanya yang menunjukkan aku
-ingin sampai kepadamu

berkali-kali aku berharap badai menderaku
agar segala yang membuatku gerah
menjadi tetes keringat syahdu
yang nikmatnya melimpah ruah

rupanya bukan soal nikmat atau tidaknya
apalagi peristiwa yang sengaja kutanggung amisnya,
namun bagaimana langitku berubah terang
yang takperlu takut pada ancaman dan kekecewaan.

Kutub, 2016 

Di Depan Kursi Yang Mengahadapmu 

selepas aku tenggelam dalam diam
kuberkata pada malam, ìtak usah beranjak dari hadapankuî
sebab dinginmu telah kutampung dalam dada
menjadi rubaiat suci, yang kupanjatkan
dengan jantungku yang berdendang

Baca juga:  Berguru Kepalang Ajar - Tafsir Dua Pejuang - Berhitung Setebal Iqra

di depan kursi yang mengahadapmu,
kusaksikan gelas plastik memanggilku
meja dan kursi memantauku
seperti pisau yang sengaja diam di depanku,
dan seolah berkataîjangan kau lukai dia,
sebelum kau benar-benar tahu siapa dia î

lagi-lagi aku tak mau menjauh darimu, malam!
es dari mana yang telah kamu tempelkan di dadaku
hingga gigilnya, mematahkan kakiku. Beranjak, menjauh.
dan di dekatmu, malam.
aku tak perlu bertanya, pada siapa hatiku membeku.

Kutub, 2016 


Perkenalkan Aku 

kukirim lagu kedasar sungai
agar tak ada yang tahu tentang liriknya
namun jika tiba-tiba nadanya menguap
dan bersenandung, maka tak usah kau mendengarnya apala
gi mencoba
mencarinya, sebab itu hanyalah lagu ikan-ikan
yang berharap mengenalmu
sebagaimana aku ingin mengenal keteduhan senyummu


Kutub, 2016 


Harapanku 

di suatu malam, ditempat yang aku tak tahu dimana letaknya
orang-orang yang berbincang tentang perubahan
semisal ada yang berkoalisi dengan hutan dan diam,
ada yang berdiskusi dan ada pula yang
duduk diam sambil melihat kayu dibakar.

Baca juga:  Ode Kota - Ode Rumah Sakit Jiwa - Ode Sebuah Teratai

hatiku membatin; tentang hal-hal yang tak mungkin
0, rupanya aku telat,
lalu dibiarkan tanpa pertanyaan apa-apa.

dan aku pun berucap,î malam ini akan kulepas jasadkuî
agar tak ada yang tahu kesangsian macam apa
yang telah kau limpahkan padaku

di pagi hari, dimana kudapati daunan hijau
dari pohon tua entah apa namanya,
batu-batu yang membelukar

dan arang yang berserakan sisa semalam
telah membuatku terpingkal-pingkal
lantaran tetap saja aku belum melihat engkau

bahkan jika sebentarlagi matahari bangkit
di sela-sela rerimbunan pohon tua
yang entah apa namanya itu,
dan engkau, masih saja tak ada
maka, akan kusimpan sinarnya
agar kau menjadi pagi yang sempurna

Baca juga:  Putik Magnolia dan Duka

bahkan jika ia telah sampai di atasku
dan ia pun masih saja bertanya tentang engkau
maka akulah yang akan memberitahunya
dan berkata, engkau telah lebih dulu tahu
bagaimana harus mengadu dan tak usah ditunggu
untuk sekedar membuat laporan palsu


Kutub, 2016 





Ainul Amien, lahir di Sumenep Madura. Aktivis Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Dan tercatat sebagai Mahasiswa FADIB UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia tinggal di Jl Parangtritis KM
Rujukan:

[1] Disalin dari karya Ainul Amien
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu, 15 Mei 2016