Intelijen Oren

Karya . Dikliping tanggal 16 Desember 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
SELAMA karirku menjadi tukang pos, ini alamat paling sulit yang pernah kucari. Sepuluh tahun aku menjadi tukang pos dan aku tak pernah gagal menjalankan tugas. Semua alamat dengan mudah kudapat. Baik yang jauh maupun yang dekat. Karena itulah kadang muncul sedikit sombongku. Ketika kawan kerjaku, Winyoto, membawa kembali paket milik Siti Tilis di Kampung Kontil, Jln. Ontal-Antil, dengan sedikit guyonan kupelintir peribahasa lama, “Kuman di seberang lautan saja tampak, apalagi kebo di pelupuk mata, hehe…”
Begitulah. Sebagai tukang pos, karirku cukup cemerlang. Aku bahkan pernah diganjar medali bersimbol sepeda ontel: tukang pos teladan. Ada pula sebutan khusus buatku: Intelijen Oren. Tentu gampang ditebak, sebutan itu merujuk kesigapan dan warna seragamku. Karena itu, aku tak pernah dipanggil dengan namaku, melainkan Intelijen Oren. Aku yakin, hanya beberapa kawan kental saja di kantor itu yang tahu asli namaku. Apa boleh buat. Semua terlanjur sepakat dengan gelar kebesaranku. Tapi siang ini, sungguh apes nasibku. Sebuah bungkusan hitam bertuliskan Sumoto d/a. Kampung Kimpet, Jln. Peret, No 69, telah kubawa mengitari kawasan ini sejak pukul sembilan pagi. Hasilnya nihil.
Bagi tukang pos, Kampung Kimpet memang tergolong ruwet. Karena itu, ketika mendapati alamat ini, Winyoto langsung melempar bungkusan itu padaku. “Intelijen Oren, ini rejekimu!” Ku tangkap bungkusan itu: “Bup!” Lumayan berat. Mungkin isinya benda dari bahan logam. Aku pun sadar, aku akan blusukan ke gang-gang gawat. Ketahuilah, Kampung Kimpet termasuk kampung tua di kota ini. Wajar bila kampung ini padat penduduk, dengan rumah-rumah berdempet-dempet dan jalan-jalan sempit bercabang. Seperti labirin.
Di kampung ini, terdapat tiga kuburan kuno yang cukup tersohor. Ada kuburan orang Cina yang banyak belingnya dan tampak mewah. Ada kuburan orang Yahudi yang agak jauh ke sana, tampak bersih dan sepi-sepi saja. Ada juga kuburan orang Belanda yang dijaga pagar besar hingga aku seumur-umur tak berani mengintipnya. Mungkin karena Kakek pernah melarang aku dekat-dekat dengan apa saja yang berbau Belanda, termasuk kuburannya.
Kuburan ini boleh jadi kuburan paling unik di muka bumi. Di kuburan ini mengalir banyak sumber rejeki. Datanglah ke sini malam hari, maka akan kau dapati kuburan ini jadi semacam pasar malam.  Sepanjang jalan utama yang menghubungkan gang-gang sempit dan kuburan akan kau temui banyak warung kopi, kios jamu, gerobak soto, rombong ronde, tenda mie plus nasi goreng, juga lesehan sego sambel. Pengunjungnya juga macam-macam: ada para remaja, mahasiswa, sopir, tukang pijit, tukang becak, tukang odong-odong, tukang tato, tukang togel. Bahkan kalau tengah malam, bisa kau temui para wadam dengan parfum dan riasan berat, bertebaran di sekitar nisan seperti kunang-kunang raksasa.
Memang betul kampung ini mempunyai lorong-lorong berbelit-belit. Tapi, sebagai kampung tua dan tersohor, tentu aneh jika ia punya alamat yang tak bisa ditemukan. Berkali-kali gang-gang sempit itu kulalui, tapi alamat yang kutuju tak ada. Telah kuputar motorku melewati tepi kuburan Cina, masuk ke gang sempit, berbelok ke kanan, kemudian ke kiri, kemudian ke kanan lagi, lurus belok kiri, belok kanan lagi, mengikuti lorong sempit yang hanya cukup satu motor, kemudian keluar tembus ke kuburan Belanda, namun alamat yang termaktub di bungkusan itu tetap tak ada. Aneh. Kembali kubaca tulisan tangan di bungkusan itu, barangkali aku salah baca. Tapi tidak. Bungkusan itu jelas menyebut Sumoto d/a. Kampung Kimpet, Jln. Peret, No 69. Aku turun dari motor. Berjalan ke tenda perempuan penjual rujak cingur. Di situ ada tiga perempuan. Kulepas helm dan kusebutkan nama di bungkusan itu. Si penjual rujak, sambil mengulek kacang, cebe, garam, gula merah dan petis itu menggeleng.  Sementara dua perempuan lain tampak mengangkat bahu. Kuucap terimakasih, sambil melirik rambut ketiak penjual rujak yang sesekali tampak.
Kembali kunyalakan motor. Keluar ke jalan besar dan berhenti tepat di depan kuburan Belanda. Kali ini, kulanggar nasehat kakekku. Kuparkir motor di bawah trembesi di samping kiri kuburan itu, lalu kusulut sebatang rokok. Hari bertambah panas. Beberapa orang berseliweran. Satu dua orang kutanya alamat Sumoto dan semua mantap menggeleng. Kembali kunyalakan rokok. Merokok di pinggir kuburan Belanda membuat aku teringat Bung Tomo, orang yang konon pernah membuat tentara Belanda keder. Aku jadi curiga, jangan-jangan Sumoto yang dimaksud alamat ini adalah Sutomo. Mungkin tertukar saja T dan M-nya. Tapi apa mungkin, Sutomo alias Bung Tomo masih hidup? Sukar dipercaya. Kuingat orang tua semprul dan berantakan yang kutemui tempo hari, yang mengaku sebagai Supriadi, pemimpin PETA yang lenyap secara misterius itu.
Sebuah benda basah terjatuh persis di pelipisku. Bangsat! Seekor kutilang yang berloncatan di batang trembesi itu menjatuhkan tai. Kubersihkan tai kutilang itu. Kuisap rokokku dan kulempar puntungnya ke arah kuburan. Lalu kembali kupakai helm dan kunyalakan motor. Kulewati tepi kuburan itu sebelum masuk gang kecil dengan palang melintang bertuliskan huruf gotik AWAS, NGEBUT BENJUT! Spontan kupelankan motor, menekuk ke kiri, lurus, menekuk ke kanan, dan menekuk ke kiri lagi, sebelum terhenti sebab tertumbuk gang buntu. Di sebelah kanan gang itu ada musala. Dan dari toanya terdengar Syiir Tanpo Waton, syair Jawa karya Kiai Sahlan, kiai kharismatik dari kota Krian.
Tak terasa hari hampir lohor dan tetap tak kutemukan alamat itu. Kuputar motorku, berbalik arah, menekuk ke kiri, ke kiri lagi, lalu lurus merunut gang sempit yang tampak sepi, kemudian ke kiri lagi. Di ujung gang itu, kudapati pohon asam yang sudah tampak sangat tua,  dengan cecabang merunduk ke bawah sehingga segerumbul daunnya tampak mencium tanah. Pohonnya menempel tembok, membuat tembok itu rompal dan akar-akarnya juga telah merusak jalan paving yang kulewati.
Ilustrasi Oleh Munzir Fadly
MELIHAT pohon masam, jalanan paving yang koyak, juga tembok yang membentang sepanjang gang, aku merasa tengah tersesat. Aku mulai curiga, jangan-jangan aku tengah disesatkan jin penunggu kuburan. Melihat kondisi gang yang sepi, sepertinya gang ini jarang diinjak kaki. Hanya dedaun berserakan dan lumut bercukulan di tembok. Kuamati gang ini lebih teliti. Motorku yang pelan, kupelankan lagi. Dan sampailah aku di ujung gang yang mirip terowongan. Di mulut terowongan itu, akar pohon asam melingkar seperti ular penjaga.
Kumatikan motor. Kulepas helm. Dan sebelum helm itu sempurna lepas dari kepalaku, aku dikejutkan suara perempuan.
“Sampean mencari Sumoto?”

Alamak, dari mana perempuan itu tahu maksudku?
Perempuan itu lalu membuat isyarat agar aku mengikutinya. Aku ragu, tapi anehnya, kuikuti si perempuan memasuki –maksudku, menuruni– lorong. Merasai suasana yang suwung, aku yakin lorong itu berada tepat di bawah kompleks kuburan. Aku berjalan menuruni undak-undakan. Aku mengikuti si perempuan lurus lalu menekuk kelokan demi kelokan. Di luar dugaan, lorong itu seperti gua raksasa, dengan ruas yang makin lama makin jembar. Tampak pula kamar-kamar dari kayu kasar yang pintunya tertutup. Perempuan itu terus membawaku menyusuri lorong. Lorong ini seperti kampung malam permanen. Lampu teplok bertebaran, membuat lorong terasa pengap. Mendengar langkahku dan perempuan berjalan, satu dua kepala mulai menyembul dari pintu.
“Siapa itu, Mami?” seorang perempuan berteriak.
“Pak Pos!” balas si Mami setengah membentak.
Pintu kembali ditutup.
Kami terus berjalan, tapi aku hampir terjerungup sebab kakiku tertumbuk sebongkah batu. Oh, bukan. Bukan batu. Ternyata kakiku tersandung tengkorak. Dalam remang, kulihat tengkorak itu dan baru aku sadar tulang-tulang berserakan di sekitarku. Aku cepat-cepat membuntuti perempuan itu. Ia pun berhenti di sebuah pintu. Pintu dibuka dengan cara digeser. Kami pun masuk ke ruangan yang mirip ruang tamu. Dan sebagaimana lumrahnya ruang tamu, di ruang itu ada meja dan kursi. Di meja itu ada dua gelas pring. Kursinya terbuat dari bongkahan akar. Perempuan itu menyuruhku duduk. Aku pun duduk. Tanpa babibu, perempuan itu melompat naik ke meja, kemudian duduk dengan posisi paha membuka, persis di depanku.
“Sampean mau ketemu Sumoto?”

“Betul!”
Perempuan itu membuka pahanya lebih lebar. Seberkas terang berpijar di pangkal pahanya. Apa perempuan ini keturunan Ken Dedes, perempuan yang menurut kitab Pararaton Farjinya –dan bukan betisnya– bercahanya? Ia pun mengangkat kepala, memejamkan mata, menggenggam tangan dan berteriak kuat-kuat seperti hendak melahirkan. Ketika teriakan itu memuncak, astaga, seekor kelinci melompat dari pangkal paha perempuan itu. Kepala kelinci itu bersimbah darah, punggungnya yang putih berlumur lendir. Panjang kuping dan sungutnya tampak ganjil. Matanya pun cuma sebelah, mirip mata begejil. Si Mami, perempuan yang “melahirkannya” terkulai lemas dengan nafas ngos-ngosan, kemudian pingsan. Kelinci itu pun melompat ke arahku.
Si kelinci kemudian mendekat ke gelas pring yang berada tepat di hadapanku. Kedua kupingnya bergerak-gerak. Mulutnya memuntahkan lendir kental ke gelas itu.
“Minumlah, sekadar cukrik ringan.”
Edan. Kelinci ini bisa bicara bahasa manusia. Aku melongo. Melihat kelinci itu. Melihat gelas pring yang telah penuh lendir dari mulut si kelinci.
“Sampean jangan heran,” ia menambahkan, “di bawah tanah, semua bisa terjadi.”
“Siapa Sampean?”
Sambil menunjuk dan mengedipkan matanya yang cuma sebelah, ia berkata: “Sumoto!”
Aku terdiam. Seperti ada tangan gaib membungkam mulutku.
“Aku pemuka warga bawah tanah. Awalnya, aku adalah kunang-kunang. Ketahuilah, di atas kuburan ini tugasku menerangi jalan para wadam. Mereka bertebaran dari nisan ke nisan agar beroleh temapt kencan yang aman. Namun, entah bagaimana mulanya, suatu malam kuburan ini diserbu gerombolan perempuan putus asa. Kabarnya, kompleks tempat mangkal mereka ditutup. Aku kuwalahan. Cahayaku terlalu cilik. Maka aku berdoa agar badanku jadi sebongkah cahaya putih dan cukup menerangi mereka semua, tapi entah mengapa aku malah jadi kelinci. Aku pun bertapa, angslup ke kemaluan, mingslep dari beban dan godaan…”
“Aku mengantar ini,” aku potong khotbahnya yang mulai ngelantur.

“Semprul! Jenius betul mereka.”
“Maksud Sampean?”
“Ini ulah perempuan-perempuan itu. Bertahun-tahun kami hidup di bawah kuburan. Dan baru kali ini kami tak dapat mayat.”
“Maksud Sampean?”
“Setiap ada orang mati, selalu ada yang mendahului kami, mengambilnya.”
“Maaf, bukankah Sampean termasuk jenis vegetarian?”
“Sudah kubilang, di bawah tanah semua bisa saja terjadi.”
“Jadi kalian hidup dari orang mati?”
“Tidak persis begitu. Kami bukan golongan rakus. Dulu aku makan akar dan umbi-umbian. Begitu pula kuanjurkan pada perempuan-perempuan itu. Mereka hanya sesekali makan orang mati untuk kebutuhan protein. Sampean tahu, terowongan ini seluas kotamu yang mengangkangi kampung kami. Bertahun-tahun kami hidup tenang di sini, tapi…..”
Di luar terdengat suara perempuan pada ribut. Rupanya perempuan-perempuan itu telah berkumpul di depan pintu. Pintu dicakar dan digedor-gedor. Si Kelinci memberi komando agar mereka tenang. Perempuan-perempuan itu terus menjerit-jerit tak jelas. Tubuhku gemetar. Kelinci itu menyilangkan kedua kupingnya, kaki kanannya menunjuk gelas pring di depanku.
“Minumlah. Sampean tenang saja. Mereka tak akan memakanmu.”
Kembali pintu digedor dengan kasar. Pintu itu pun jebol dan membentur meja di depanku. Aku terjingkat. Jantungku seolah terhenti. Entah apa yang telah terjadi. Aku seperti tersadar dari mimpi. Ketika kuinsyafi, ternyata hari telah gelap. Di sekelilingku hanya ada nisan, nisan, dan nisan. Kudapati motorku munting, tersangkut nisan besar berhias beling. Barang bawaanku tercecer. Dan kepalaku terasa pening.
Aku kumpulkan tenaga untuk bangkit. Seorang wadam tiba-tiba menjawil pantatku. Mulutnya yang ndower bergerak nakal. “Sedooot. Kena gigi uang kembali.”
Surabaya, 2014

A. Muttaqin tinggal di Surabaya. Buku puisinya yang terbaru, Tetralogi Kerucut (2014).
Rujukan: 

[1] Disalin dari karya A. Muttaqin, 

[2] Tersiar di surat kabar “Koran Tempo”  pada 14 Desember 2014