Isak Siak

Karya . Dikliping tanggal 5 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia
SAYA bergegas mengejar ibu. Lumpur yang diangkat ke atas pematang semakin mempersulit langkah saya. Kaki saya terasa berat. Ia menenggelamkan telapak kaki saya hingga mata kaki. Sesekali, tanpa menoleh ke kaki yang berlumpur, saya menggesek-gesekkannya ke rumput yang rimbun di tubir pematang. Saya terus berjalan. Setengah berlari.
Musim tanam telah tiba. Orangorang mengangkat lumpur dari tepi sawah mereka ke atas pematang, agar pematang lebih tinggi dan kukuh, agar tepi sawah mereka tidak terlalu tinggi. Saya mempercepat langkah di atas pematang itu. Napas saya semakin tidak teratur. Ibu akan berang jika saya tak cepat datang! Pagi-pagi sekali ibu membangunkan saya. Menyuruh saya ikut ke ladang.
Ibu menyuruh saya makan terlebih dahulu sebelum berangkat. Nasi itu kini terasa melonjak-lonjak di perut saya; pangkal perut saya terasa sakit.
“Turut saja nanti!” kata ibu ketika saya masih menggeliat-geliat di atas dipan karena mengantuk. 
“Jangan sampai kau tak turut pula!” suara ibu masih bergetar di telinga saya.
Dari kejauhan daun-daun kelapa tampak berkelepak ke sana-kemari.
Buah-buah kapas yang masak satu-satu lepas dari tangkainya. Pelepah pisang tinggalkan bunyi mengelepak di udara.
Di kejauhan lain, nun di atas pematang, saya melihat ibu berhenti. Tampak pula adik saya mengikutinya di belakang.
Entah kenapa Siak tak pergi sekolah pagi ini, padahal dia telah mengenakan seragam putih-merah. Beberapa saat, saya lihat ibu berjalan lagi.
Siak mengikutinya pula di belakang, bersiginyang. Saya mengejar mereka.
“Sudah pergi ayah kau ke pasar?” tanya ibu kepada saya yang terengahengah ketika tiba di dekatnya, di belakang Siak tepatnya. Saya mendengus pelan, setengah keheranan.
Napas saya belum teratur sudah dihantam pertanyaan. “Ketika tadi terjaga, ayah sudah tak ada, mungkin benar telah pergi,” kata saya pula meningkahi ibu setelah lama diam.
Mata ibu terus menatap saya seperti mengharapkan jawaban. Mungkin benar, pagi-pagi sekali ayah telah pergi ke pasar. Sebab, ketika bangun saya sudah tak lagi menemukan ayah di rumah. Membawa durian muda, mungkin saja. Durian yang kemarin sore kami jatuhkan dari batangnya, yang tak pernah sempat masak karena tupai-tupai akan melubanginya dan membuatnya busuk sebelum jatuh dengan sendirinya.
Ayah memilih menyewa beruk untuk menjatuhkannya lebih dulu.
“Jalan ibu lambat, dululah kau!” kata ibu memecah kesunyian di antara kami, dan memberi saya jalan.
Saya melewati Siak. Dia tak menoleh ke arah saya. Dia menunduk, seperti ada sesuatu yang diperhatikannya di tanah. Saya menepuk pangkal pahanya.
“Tak sekolah kau?” kata saya, tapi dia diam saja. Saya lalu berjalan melewati ibu. Ibu dan Siak tertinggal di belakang saya. Siak terus mengikuti kami sampai ke tepi tebing sungai yang beberapa kaki dalamnya dengan sedikit landaian.
Pada landaian itu terdapat jalan setapak menyibak semak mansiang berduri menuju ke sungai. Di bagian lain, munggul-munggul pohon aur yang dihanyutkan air tumbuh liar tak tertata. Ibu beberapa kali menoleh kepada Siak. “Pergilah, nanti kau terlambat ke sekolah!” kata ibu, saya menguping. Tapi Siak tak menyahut.
Dia tetap menggugu di belakang ibu. Kadang dia menggigit-gigit kukunya yang hitam, untuk kemudian dikelupaskan dengan kukunya yang lain.
Saya meluncur terus menuruni jalan setapak itu menuju tepi sungai.
Saat berada di bibir sungai, dingin pagi mulai terasa membekukan aliran darah, membuat saya harus menciptakan hangat dengan menghembus-hembuskan napas ke kedua ujung ibu jari.
Air sungai keruh, di hulu mungkin tanah runtuh. Tak ada pilihan lain selain mencemplung ke sungai yang dingin itu untuk bisa sampai ke ladang kami yang terletak, jauh di puncak rimba sana, tempat muasalnya kakekbuyut kami dulu mendapatkan jatah meneruka. Saya mulai masuk ke air. Tubuh saya terkejut oleh dingin.
Seketika lutut hingga ujung jari kaki saya kini telah berada di dalam air.
Ada gemetar di kedua bibir saya ketika kedua bibir itu terbuka. Saya ragu-ragu melanjutkan penyeberangan. Batu yang saya injak terasa tak kesat, licin.
Ketika saya menoleh ke belakang, saya bertemu tatap dengan ibu. “Dululah kau!” kata ibu, seakan mengetahui hati saya yang ragu.
Sementara Siak masih memegang ujung kain ibu. Matanya merah hendak menangis. Jika akhirnya harus menyeberang dengan air sedingin ini, saya tidak ingin membiarkan ibu menyeberang sendirian. Lutut ibu tentu telah gampang gemetar. Semalam hujan turun, air sungai bertambah deras dan besar. Batu-batu kian waktu bertambah licin pula kini. Ikan-ikan pemakan lumut sudah habis disetrum orang.
“Ibu sedang tak punya uang sekarang. Bawa saja nasi ini sebungkus, sama saja artinya dengan berbelanja!” Ibu menyerahkan satu bungkusan nasi kepada Siak. Nasi yang sebenarnya untuk makan kami di ladang. Nasi beras pirang dan sepotong telur dadar yang dibungkus daun pisang. Sebelum berangkat ke ladang, saya juga makan nasi dan sambal yang sama. Tak ada yang lain, beras hasil panen tahun lalu sudah habis dijual ayah ke pasar untuk membeli seragam dan sepatu Siak yang akan masuk sekolah. Hanya beras pirang pembagian pemerintah itulah yang tersisa, diambil sekali tiga bulan di Kantor Wali Nagari.
Siak tak mau mengambil bungkusan nasi itu. Dia masih juga menekur, memegang ujung kain ibu, kadang menarik-nariknya pelan, menggigitgigit kuku-kukunya yang hitam.
Sesekali dia memandang ke arah ibu. Selebihnya dia hanya menatapi nanar riak-riak kecil air sungai yang menghempas gundukan pasir yang diciptakannya sendiri dengan ujung kaki kanannya. Lalu dia memandang ke arah perbukitan yang berkabut.
Saya yang telah berada di air ikut pula ditatapnya beberapa kejap.
“Matahari sudah tinggi juga, nanti kalau hari panas, tak mau pula kau bekerja,” kata ibu tiba-tiba kepada saya, saat saya diam mematung di air sungai yang terasa semakin dingin. Pagi itu kabut masih belum beranjak dari perbukitan. Perbukitan yang mengikuti aliran sungai yang bertabur lubuklubuk dalam, batu-batu licin dan besar.
Saya mulai menyeberang. Ibu bergerak ke hilir, ke arah semaksemak tepi sungai. Ia mematahkan satu ranting. Ranting-ranting lain ikut bergoyang, sementara daun-daunnya yang uzur jatuh bergeraian, meninggalkan bunyi lesat yang dilamun deras air. Mata ibu membelalak tajam ke arah saya, lalu ke Siak. “Turut ayah kau ke pasar!” ibu melecutkan ranting berduri itu ke kaki Siak yang telanjang. Siak tak bergerak, tak tergerak untuk mengelak. “Anak celaka kau!” ibu melecutnya lagi. Dia tak menangis, hanya matanya yang kian merah. Mata yang sebesar telur itik serati. Menyembul di antara batang hidungnya yang hampir datar.
“Tak tahu diuntung kau. Berhenti sajalah kau sekolah!” ibu melecutnya lagi dengan ranting berduri itu. Betis yang telanjang, yang hitam legam karena berpanas-berhujan, kini bergaris-garis merah sisa lecutan. Mata Siak melembap. Dari jejak lecutan, mengalir darah.
Ibu terengah-engah seperti orang habis berlari. Saya mematung, masih di dalam air yang dingin, melihat ke arah belakang, ke arah ibu dan Siak.
Pergilah sekarang, celaka kau nanti dipukul ibu, kata saya dalam hati. Kau tahu bagaimana kalau ibu berang? Pergilah sekarang, celaka kau nanti! Siak diam saja. Ibu melecutnya lagi.
“Biarlah tak ada seorang pun yang sekolah. Kakakmu mau berhenti karena kau merengek-rengek minta sekolah pula. Kini kau membuat perangai,” ibu merenggut tas Siak dari bahunya. Tas sandang lusuh yang sudah menyembulkan buku-buku karena rompak, karena jahitannya sudah lepas. Empat buah buku tulis, yang sekali pernah saya periksa, kosong dari tulisan dan gambar-gambar, entah sekarang mungkin telah diisinya. Lalu ibu membuka baju seragamnya dengan paksa. Lalu celana merah yang disemat dengan semat karatan pada bagian ritsletingnya karena tak lagi berfungsi itu, turut pula dibuka.
Siak kini telanjang. Siak kini menangis. Tahu rasanya dia bagaimana asinnya air mata. Tahu rasanya dia bagaimana ibu murka. Jika marah, ibu akan melampiaskan kemarahannya pada apa saja. Marah ibu seperti tanah runtuh! Kini ibu merendam Siak ke dalam air, sambil sesekali melecuti betisnya. Ketika sampai di air, ibu membenamkan kepalanya, lalu mengangkatnya kembali setelah beberapa detik. Siak kini benarbenar menangis. Dia terisak, dia tersedak. Saya hanya bisa mendengar tangisnya di antara deru air. Matanya merah serupa bara menyala. Ibu membenamkannya lagi. Tubuhnya gemetar. Ingusnya meleleh ke bibirnya yang berubah hijau tua.Ingus itu tak sempat dilapnya dengan punggung tangan, seperti yang biasa dilakukannya sehingga kali kini mungkin tertelan olehnya. Ingus yang asin. Seperti air susu ibu. Mungkin.
Air sungai terasa semakin deras menyeret saya ke hilir, semakin dingin.Saya hanya bisa melihat bibir Siak yang hitam mengatup-membuka mereguk air mata yang singgah di tepinya. Betis Siak yang hitam keruh kini semakin dipenuhi garis-garis merah. Dari garisgaris itu menetes darah. Tak berani lagi dia menoleh ke arah ibu, ke arah mana saja. Dia menekur saja. Entah apa yang ada di pikirannya kini. Matahari sudah tampak jelas. Kabut yang semula menimbun lereng bukit perlahan-lahan terkuak.
Arah ke atas, di bibir tebing, beberapa saat kemudian, ayah berdiri memanggul cangkul, berselempang tas rajut.
“Siak, tak sekolah kau?“ Saya dan ibu memandang ke arah tebing. Ke arah ayah yang tampak kecil.Kosong mata masing-masing.
2015 
Deddy Arsya, menulis puisi dan cerpen. Bukunya, Odong-Odong Fort de Kock (2013)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Deddy Arsya
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 4 Oktober 2015