Istri dalam Perjalanan – Kasih Sayang Tembang – Menanti Hadirmu

Karya . Dikliping tanggal 18 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Istri dalam Perjalanan

sudah semestinyakah perjalanan ini
baru saja tadi pagi memetik melati
disematkan di dada sambil berkata
: ini cinta sejati
kita jaga jangan sampai mati
dan senyum pun begitu tulus
mengukirkan kebahagiaan begitu halus
kenapa langkah kaki ini berdarah
sungguh, di hati tak ada belati marah menggores wajah
apalagi menikam dada menembus jantung
langkah ini hanya mencari sampai di mana cinta dikhianati
demi melanskap pulau berkabut dan badai laut bergelut
sambil kauteriakkan lantang
: akulah lelaki jalang
tak ada yang berani menghalang
percayalah, aku pasti kembali pulang kembali air kujerang
kuramu dengan kesegaran air kembang
untukmu mandi sepulang kerja
karena sesungguhnya aku masih cinta dan setia

Kasih Sayang Tembang

Rebah di pangkuan Ibu, alangkah indahnya
Meresapkan belaian di kepala, alangkah bahagianya
Dari ketulusan, keikhlasan, dan kasih sayang
Ibu mengalunkan tembang, merdu suaranya
Aku bertanya, ”Ibu, bagaimana aku lahir ke dunia?”
Kata-kata Ibu pun berirama, ”Seperti indahnya tembang
Mijil, anakku. Hangatnya rahim Ibu mesti kautinggalkan
untuk menyambut kehangatan dunia ini dengan tangismu
yang menggetarkan hati. Namun itulah sebuah getaran
kekuatan mengawali menjalani kehidupan”
Aku bertanya lagi, ”Bahagiakah Ayah dan Ibu menerimaku?”
Ibu memekarkan senyuman, ”Sudah tentu, anakku. Tembang
Maskumambang menyambutmu. Air mata kami berlinang
tanda bahagia. Kau bagai emas mengapung di sungai
surga. Sorot matamu takjub menatap dunia pertama, dunia
penuh warna”
Aku masih bertanya, ”Ceriakah masa kecilku dulu, Ibu?”
Ibu memelukku, ìSungguh ceria, anakku. Karena itulah Ibu
lantunkan tembang Kinanthi. Kami membimbingmu, mengarahkanmu,
agar ceriamu tetap bermakna. Kau buah hati
tumpuan harapan. Kau dinanti menjadi manusia sejati, berakhlak
mulia, berbudi pekerti luhur.

Menanti Hadirmu

Menantimu di sini
di beranda rumah senja telah menyambangi
Ia mendengar ceritaku tentang pagi hingga sore tadi
yang telah usai kumaknai
Tinggal aku berharap kisahmu tak kalah menarik
tentang lembah-lembah hijau yang kaulintasi
atau sungai-sungai jernih yang kauseberangi
Mungkin juga kau ingin bercerita
tentang pohon-pohon yang kautanam di lembah sana
atau ikan-ikan kecil yang kausebarlepaskan di sungai sana
Aku masih menantimu di sini
Angin senja telah mampir menyampaikan akan hadirmu
mendesakkan rasa rindu
Terbayang kembali waktu kita berlari saling mendahului
menyusuri sebuah jalan di bukit yang banyak ditumbuhi pohon jati
Burung-burung bernyanyi menyemangati
Ketika aku yang lebih dulu sampai kau berjanji
akan menebus kekalahan suatu waktu nanti
Kini aku menunggumu mengabarkan kemenangan
sebelum ambang malam menggantikan
Sanggar Kalimasada Kutoarjo, Purworejo, 2015
Ustadji Pantja Wibiarsa, lahir di Yogyakarta, 4 Agustus 1961. Tinggal di Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah. Ketua Sanggar Kalimasada Kutoarjo dan Komite Sastra Dewan Kesenian Purworejo. Menulis sastra Indonesia dan sastra Jawa. Aktif menggiatkan penulisan sastra melalui sanggar sastra bagi penulis-penulis pemula, anak-anak dan remaja di wilayah Purworejo.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ustadji Pantja Wibiarsa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 18 Oktober 2015
Beri Nilai-Bintang!