Ivonne [6]

Karya . Dikliping tanggal 1 November 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Majalah Femina
Apa, sih, maunya lelaki itu? batin Ivonne dengan kesal.
Kemarin dia sudah melanggar ’peraturan pribadi’-nya dengan makan malam di rumah Oma Rima. Semalaman dia tidak bisa tidur nyenyak. Menanti-nanti kejadian buruk apa yang akan terjadi. Hari ini, dia kembali harus melanggar ’peraturan pribadinya’-nya. Ivonne tidak suka itu!
Dia sibuk mengaduk-aduk tasnya. Mencari-cari apakah dia membawa tusuk konde lain. Tidak mungkin dia membiarkan rambutnya tergerai seperti ini. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi karena dia menggerai rambutnya? Dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri!
”Hai, Ivonne…,” sapa sebuah suara.
Ivonne menghentikan apa yang sedang dia lakukan. Dia mengenali suara itu. Suara Alex….
“Hai…,” balas Ivonne.
Alex tersenyum. Dada Ivonne berdesir. “Pak Darmawan sudah menunggu kamu. Katanya ada dokumen yang harus kamu serahkan pagi ini.” 
Ivonne mengangguk.
”Kamu…,” mata Alex memicing. ”Kelihatan lain hari ini. Kamu kelihatan lebih cantik dengan rambut tergerai.”
Wajah Ivonne memerah. 
Alex tersenyum melihat reaksi Ivonne, kemudian berlalu pergi.
Ivonne menghela napas putus asa. Dia tidak menemukan satu pun tusuk konde di dalam tasnya. Sepertinya, dia harus bertahan dengan keadaan rambut tergerai sepanjang hari ini. Dia menarik napas panjang dan menepuk punggung tangannya tiga kali, kemudian berjalan ke arah ruangan Pak Darmawan.
”Permisi,” sapa Ivonne, sebelum membuka pintu ruangan Pak Darmawan. Theo rupanya juga sedang berada di ruangan Pak Darmawan. 
”Selamat pagi, Ivonne.” Pak Darmawan terkesiap melihat penampilan Ivonne. ”Kamu kelihatan segar sekali hari ini,” pujinya, tulus.
Ivonne tersenyum tipis. ”Terima kasih, Pak Darmawan Sejati. Ini dokumen yang harus saya serahkan.” Ivonne menyerahkan beberapa dokumen yang telah dijanjikan.
”Hari ini saya, Ivi, dan Alex akan mendatangi beberapa customer. Saya rasa kami akan seharian berada di luar kantor. Saya minta izin untuk meminjam sekretaris andalan Bapak,” ujar Theo, sambil melirik Ivonne sekilas.
Pak Darmawan tersenyum. “Tentu! Selama Pak Theo berada di Jakarta, Ivonne telah saya tugaskan untuk penjadi PA  Anda.” 
“Kalau begitu, kami akan mulai bekerja sekarang.” Theo menoleh ke arah Ivonne, “Ayo, Ivi. Kita berangkat sekarang.”
Ivonne keluar dari ruangan Pak Darmawan bersama dengan Theo. Sepanjang perjalanan menuju lift, teman-teman sekerjanya memuji penampilannya. 
”Ivonne, kamu kelihatan lebih cantik hari ini.”
”Nah, gitu, dong. Sekali-sekali rambutnya digerai, jangan digelung terus.”
”Ivonne!!! Ternyata rambut kamu bagus sekali!!!”
Hanya Novelita yang mencibir ketika Ivonne melewati cubicle-nya.
Ketika masuk ke dalam lift, Ivonne tersenyum kecil. Di dalam hatinya berdesir perasaan hangat yang sudah lama tidak dia rasakan. Dia senang mendapat perhatian dari teman-teman sekerjanya. Ternyata, mereka semua memperhatikannya selama ini. 
”Wajah kamu lebih cerah…,” komentar Theo, ketika pintu lift tertutup. ”Mendapat pujian dari teman-teman adalah suatu hal yang positif. Hal positif yang kamu dapat karena kamu telah menggerai rambutmu.”
Ivonne hanya mengangguk. Perasaannya jauh lebih ringan. Mungkin kata-kata Theo benar. Mungkin memang tidak ada yang perlu ditakuti. Toh, hanya masalah menggerai rambut.
Perjalanan ke beberapa klien PT Kimia Utama berjalan dengan lancar. Presentasi yang dilakukan Theo dan Alex juga berjalan dengan lancar. Ivonne sendiri dapat melakukan semua tugasnya dengan baik. Hati Ivonne sedikit tenang. Mungkin memang tidak ada korelasi negatif antara menggerai rambutnya dan kejadian yang terjadi pada hari itu.
Ketika Theo mengajak mereka makan siang, Ivonne dapat menyikapinya dengan lebih santai lagi, walaupun tak urung hatinya berdebar juga. Tidak mudah menghilangkan kebiasaan yang sudah bertahun-tahun dia kondisikan. Tapi, Theo tersenyum lembut kepadanya. Memberi semangat sambil menganggukkan kepalanya.
Dan, Ivonne pun kembali mencoba untuk makan. Perlahan namun pasti. Ternyata, makan di tempat umum sama sekali bukanlah hal yang sulit. Dia dapat melakukannya. Dia bahkan menyukainya. 
Ivonne tersenyum kepada Theo. Senyumnya lebih lebar sekarang.
”Ivonne, kamu benar-benar kelihatan berbeda hari ini,” ujar Alex. Dia tidak tahu kalau Ivonne tadi tersenyum kepada Theo. Sangkanya, Ivonne tersenyum kepada dirinya. ”Kamu lebih ceria, lebih santai, dan tampak sangat menikmati hari ini. Tidak seperti kamu yang biasanya. Tegang, tertutup, seolah setiap hari adalah hari terakhir hidupmu….”
Ivonne kembali tersenyum. Agak geli mendengar analogi yang disimpulkan Alex. Tapi, memang benar adanya begitu. Ivonne selalu waspada, tidak pernah lengah.
Sekarang dia lebih santai, lebih relaks. Dan dia menyukainya. Theo memang telah membuat dirinya berubah. Berubah ke arah yang positif.
Mata Theo memicing melihat Ivonne tersenyum kepada Alex. Senyum Ivonne terlihat lebih lebar dan lebih hangat. Ada rasa yang menggelitik dalam hatinya. Cemburu? Theo menggeleng. Membuang jauh rasa itu. Siapa dia? Siapa Ivonne? Siapa mereka?
Alex terlihat berbincang lagi dengan Ivonne. Ivonne tersenyum lagi. Theo mempertajam pendengarannya. Ingin mengetahui obrolan apa yang dapat memancing senyum Ivonne. 
Ivonne kembali tersenyum. Senyum itu kembali menarik perhatian Theo. Seperti magnet yang menarik besi. Theo kembali memperhatikan Ivonne. Alex masih terus saja asyik berbicara.
Pak Andi, sopir yang mengantar mereka, ikut memperhatikan Ivonne. 
”Bu Ivonne dan Pak Alex sempat dekat,” kata Pak Andi.
Alis Theo terangkat.
”Setahun yang lalu, Pak Alex gencar mendekati Bu Ivonne, tapi Bu Ivonne tidak pernah membalas semua perhatian Pak Alex. Bu Ivonne selalu menghindari Pak Alex. Sekarang, setahu saya, Pak Alex sudah pacaran dengan gadis lain,” ujar Pak Andi. Theo tersenyum. Dia menyadari nada suara Alex yang berbeda setiap kali dia menyebutkan nama Ivonne. Jadi Alex pernah menyukai Ivonne? Apakah Ivonne juga menyukainya?
Ivonne terlihat sudah selesai makan. Dia bangkit dari tempat duduknya. Menepuk punggung tangannya, dengan cepat, tiga kali, lalu berdiri untuk mencuci tangannya. Theo buru-buru mengikutinya.
Dia ikut mencuci tangannya di wastafel sebelah Ivonne. Theo melirik Ivonne dari pantulan cermin. Ivonne tersenyum tipis kepadanya. Dia tampak sudah selesai mencuci tangannya. Dia mengeringkan tangannya tiga kali, lalu saat terlihat bahwa dia akan menepuk punggung tangannya, Theo menahan kedua tangan itu.
Mata Ivonne terbelalak menyadari bahwa tangan Theo mencengkeram kedua tangannya. Cengkeramannya kuat, namun tidak menyakitkan. Tegas, namun tidak memaksa. 
“Tidak usah menepuk tanganmu tiga kali,” ujar Theo, dengan pelan. 
Tangan Ivonne mengejang. Bola matanya berputar dengan gelisah. Tangan Theo tetap menahan tangan Ivonne.
”Ayolah…,” bujuknya. ”Kamu tidak perlu menepuk tanganmu tiga kali, Ivi.”
Perlahan, Theo merasakan ketegangan Ivonne mengendur. Ivonne menghela napas panjang, lalu mengangguk.
Theo mengangguk, menyemangatinya.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irene Tjiunata
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina” 

Baca juga:  Ivonne [7]