Ivonne [7]

Karya . Dikliping tanggal 1 November 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Majalah Femina
Sore harinya, ketika mereka bermobil kembali ke kantor, Ivonne merasa lebih tenang. Tadi siang, Theo kembali membuatnya menghentikan kebiasaannya menepuk punggung tangannya, dan saat mereka kembali mengunjungi customer, semuanya berjalan dengan lancar. 
Tidak akan ada hal buruk yang terjadi kalau kamu tidak melakukan kebiasaan-kebiasaan itu. Kata-kata Theo terus terngiang di benak Ivonne.
”Ivi….” 
”Ya, Mr. Theofilus Lundenberg,” sahut Ivonne. Mengalihkan tatapannya dari jendela mobil.
Theo tersenyum. ”Berapa kali harus saya bilang, panggil saja saya Theo.” 
Ivonne ikut tersenyum, tapi tidak menjawab.
”Saya minta laporan lengkap hasil kunjungan ke customer hari ini, ya. Besok siang, kalau kamu tidak keberatan,” pinta Theo.
Ivonne mengangguk. ”Saya rasa saya sanggup menyerahkannya besok pagi,” ujarnya,
Theo mengangguk, masih tersenyum.
Ivonne kembali mengalihkan pandangannya ke jendela. Ivonne suka melihat deretan gedung yang tampak berlari menjauh.  Tapi… mobil mereka tiba-tiba oleng! Ban mobil berdecit keras saat beradu dengan aspal. Kilau lampu motor menyorot tajam ke arahnya. Napas Ivonne tercekat. 
Suara itu! Suara yang dia dengar saat mobil Papa dan Mama bertabrakan dengan motor dan terpental jauh sebelum terempas kembali ke aspal.
Kilau lampu itu!!! Kilau lampu yang dia lihat sesaat sebelum kehilangan kesadaran!
”Ivi!’ 
Ivonne sempat mendengar Theo meneriakkan nama panggilannya, sama seperti suara Papa. Suara terakhir Papa yang sempat didengarnya….
Jantung Theo bertalu-talu. Tubuhnya limbung karena gerakan mobil yang tiba-tiba menjadi liar. Dia sempat melirik ke arah Ivonne dan dia terkejut melihat reaksi gadis itu. Wajah Ivonne pucat pasi. Seolah seluruh darah di tubuh gadis itu menguap entah ke mana. Tubuhnya juga kaku, seperti bilah papan yang tidak bernyawa. Theo takut sekali melihat keadaannya. 
Mobil yang mereka kendarai disalip oleh sebuah motor. Mobil oleng dan Pak Andi kehilangan kendali kemudinya. Terdengar suara tabrakan keras saat mobil menghantam sisi jalan. Pak Andi dan Alex menunduk, berupaya melindungi diri mereka saat lampu jalan yang terhantam badan mobil terjatuh dengan posisi mengarah ke atap mobil. 
”Ivi!” Theo menerjang ke arah Ivonne dan menarik tubuh gadis itu. Memaksanya untuk menunduk.
Ketika semuanya berakhir, orang-orang mulai berdatangan. Theo tidak merasakan sakit sama sekali pada tubuhnya. Yang dia perhatikan hanyalah tubuh kaku Ivonne yang berada dalam pelukannya. 
”Ivi! Ivi!!!” Theo mengguncang tubuh kaku itu.
Ivonne tetap tidak bergerak. Matanya terbuka lebar. Menatap nyalang. Tampak sangat ketakutan. 
Ivonne tidak terluka, dia terselamatkan oleh perlindungan tubuh Theo. Tapi, kondisi gadis itu malah yang paling parah. Sampai malam ini, dia belum sadar juga. Tubuhnya masih terbaring kaku dengan mata menatap nyalang. Menurut dokter yang menanganinya, Ivonne mengalami shock berat karena kejadian yang mengakibatkan kedua orang tuanya meninggal, terulang kembali. Istilah psikologisnya, post-traumatic stress disorder. 
Theo sangat mengkhawatirkan keadaan Ivonne. Sebenarnya dia sudah diizinkan untuk pulang, tapi dia bersikeras untuk tinggal dan menemani Ivonne di UGD. Tapi, sampai saat ini pun, walau  banyak rekan kantor yang berdatangan menjenguknya, Ivonne masih terbaring kaku di tempat tidur sebelah Theo.
Ivonne berjalan mantap memasuki rumahnya. Tadi, dia bersikeras untuk pulang, walaupun beberapa petugas rumah sakit memaksanya untuk tetap tinggal di kamarnya. Ivonne menepukkan punggung tangannya tiga kali, lalu masuk ke dalam rumah. Tubuhnya masih gemetar, perasaannya masih mencekam, tapi dia tidak menangis. Tidak ada gunanya menangis. Di rumah sakit, dia sempat melihat perban di kepala Theo. Pak Andi dan Alex juga pasti mendapat perawatan dari rumah sakit. Mereka pasti terluka cukup parah sehingga membutuhkan perawatan intensif dari rumah sakit. Sementara dia? Dia tidak kurang suatu apa pun. Ya! Karena dialah yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi!
Ivonne mengutuk dirinya sendiri. Sudah pasti kecelakaan itu terjadi karena dia menggerai rambutnya! Karena dia makan di tempat umum! Karena dia tidak menepuk punggung tangannya tiga kali! Dia sudah tahu, semua yang tidak dia lakukan akan menyebabkan sesuatu yang buruk terjadi. Dia heran mengapa dia dapat begitu lengah! Membiarkan Theofilus Lundenberg menguasai dirinya, sehingga mengakibatkan kecelakaan yang sangat fatal! Dia mengutuk dirinya sendiri. Bersumpah dalam hati bahwa dia tidak akan pernah lalai melakukan ritualnya lagi! 
Satu hal lagi! Dia tidak akan pernah berada di dekat Theofilus Lundenberg lagi. Ivonne mulai menyadari bahaya yang siap sedia menyergap Theo ketika dia terus berada di dekat lelaki itu!
Ivonne menyalakan laptop-nya. Mengerjakan laporan kunjungan customer yang telah mereka lakukan. Rencana sudah tersusun rapi dalam benak Ivonne. Besok pagi, dia akan menyerahkan laporan ini, lalu meminta Novelita untuk menggantikannya sebagai personal assistant Theo. Dia tidak boleh berada di dekat Theo. Dia dapat membahayakan nyawa Theo! 
Pukul tujuh pagi, dia menyelesaikan laporan setebal empat puluh halaman itu! Tubuhnya penat, raganya lelah, tapi dia bergegas ke kantor. Tidak lupa melakukan ’ritual tiga’-nya, seperti yang biasa dia lakukan. Tidak boleh ada yang terlewat kali ini atau akan ada lagi hal buruk yang akan terjadi.
Kantor masih sepi saat dia tiba di sana. Beberapa koleganya tampak terkejut saat melihat kemunculannya. Ivonne tidak menggubris mereka. Dia berjalan lurus, menuju ruangan Pak Darmawan.
”Masuk…,” sahut Pak Darmawan, ketika dia mengetuk pintunya. Pak Darmawan juga tampak terkejut melihat dirinya.
”Ivonne, kamu sudah tidak apa-apa?” tanyanya, cemas.
Ivonne mengangguk, tidak tersenyum. ”Saya mau menyerahkan laporan kunjungan customer kemarin. Saya juga ingin mengundurkan diri sebagai personal assistant  Mr. Theofilus Lundenberg. Akan saya cari pengganti yang baik untuk Mr. Theofilus Lundenberg,” ujarnya, dengan gaya profesional.
Pak Darmawan memahami apa yang tengah bergejolak dalam diri Ivonne. Beliau tidak ingin memaksa Ivonne melakukan apa yang tidak dia sukai. 
”Baiklah,” ujarnya dengan bijak. ”Tolong kamu cari penggantinya. Theo masih akan berada di sini sampai lusa. Mungkin lebih lama lagi, mengingat kecelakaan yang terjadi kema….” 
”Baik, Pak Darmawan Sejati, terima kasih,” potong Ivonne. 
Dia keluar dari ruangan Pak Darmawan dan langsung menuju meja Novelita. Novelita meliriknya sekilas. Tidak tampak kesan simpatik dari lirikannya. 
”Novelita Arimbi,” panggil Ivonne. Berusaha untuk tidak peduli terhadap wajah tidak suka yang diperlihatkan Novelita. Novelita tidak menyahut.
”Aku minta tolong kamu menggantikanku sebagai personal assistant Mr. Theofilus Lundenberg,” ujarnya.
Novelita menoleh cepat. Tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Senyumnya langsung merekah begitu mendengar nama Theofilus Lundenberg. ”Tentu saja, Ivonne. Dengan senang hati aku akan menggantikanmu.”
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irene Tjiunata
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”