Ivonne [8]

Karya . Dikliping tanggal 1 November 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Majalah Femina
Theo terkejut melihat gadis yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu mengenakan busana yang sangat ketat, berusaha keras mempertontonkan lekuk tubuhnya yang, hmm… memang terlihat indah. Tapi, karena dibalut dengan busana yang terlalu ketat, jadi terlihat murahan!
”Siapa Anda?” tanya Theo, kemudian terbatuk-batuk. Indra penciumannya tercemar oleh bau artifisial yang disemprotkan secara membabi-buta ke seluruh tubuh gadis ini.
Gadis di hadapannya tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putih. Tapi, senyumnya tampak palsu. Tidak tulus.
”Saya Novelita, panggil saja saya Ita. Saya adalah personal assistant-mu, Theo.”
Theo mengernyit. Gadis ini belum berkenalan resmi dengan dirinya, tapi sudah memanggilnya dengan nama panggilannya. Berbeda sekali dengan….
Theo terkesiap. “Di mana Ivi, maksud saya Ivonne?” Bukankah Ivonne adalah personal assistant-nya? Mengapa kini yang muncul adalah gadis ini?
Gadis di hadapannya mengerucutkan bibirnya, “Ivonne meminta saya untuk menggantikannya. Ini berkas laporan kunjungan customer kemarin.” Novelita menyerahkan berkas laporan yang diserahkan Ivonne tadi pagi. 
”Apa rencanamu untuk hari ini?” tanya Novelita, tapi Theo tidak mendengar. Benar apa yang ditakutinya. Ivonne menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang terjadi kemarin. Kini dia kembali  pada ritual ajaibnya, dan … menjauhi dirinya. Kembali menutup diri terhadap segala hubungan pertemanan yang ditawarkan. 
Hubungan pertemanan?
Benarkah hanya pertemanan yang ditawarkannya?
Theo jadi bertanya-tanya sendiri dalam hatinya. 
“Apakah hari ini kamu ingin bersantai sejenak sebelum mulai beraktivitas?”
Perkataan Novelita membuyarkan lamunan Theo. Telinga Theo terasa panas mendengar cara Novelita mengatakan ’bersantai’. Apa sebenarnya maksud gadis ini? Apakah dia bermaksud menggoda Theo?
”Coba jelaskan apa yang  Anda maksud dengan ’bersantai’?” tanyanya. Ada ketegasan yang sarat dengan kemarahan dalam intonasi suaranya.
Tapi, Novelita tidak menyadari intonasi berbahaya dalam suara Theo.  
”Yah…,” Novelita maju, mencondongkan tubuhnya ke arah Theo. Blusnya yang berpotongan leher rendah mempertontonkan lekuk indah belahan dadanya. ”Mungkin seperti ini….” Novelita mengelus lembut lengan Theo dengan payudaranya.
”Tolong. Jaga  kelakuan. Anda,” geram Theo. Kali ini suaranya terdengar amat sangat berbahaya. 
 Novelita segera menarik tubuhnya. Kali ini dia dapat merasakan kemarahan dalam nada suara Theo.
”Silakan Anda keluar sekarang juga!” Theo membuka pintu kamarnya. Posisi yang cukup jelas bahwa kehadiran Novelita sangat tidak diharapkan.
Bibir Novelita bergetar. Dia tidak pernah ditolak oleh laki-laki. Kali ini dia bahkan diusir! Wajah Novelita memerah. Menahan rasa malu yang sebenarnya tidak tertahankan. 
Theo tidak memandang wajahnya. Tangannya masih memegang kenop pintu.
Novelita keluar. Tangisnya hampir tumpah.
Pak Joko, sopir kantor yang lain, telah menunggu di lobby hotel saat Theo turun beberapa waktu kemudian. Novelita tidak tampak lagi. Mungkin dia sudah kembali ke kantor. Baguslah! Theo tidak tahan apabila harus berada dalam satu mobil dengan gadis itu. 
Sesampainya di kantor, Theo langsung menghampiri meja kerja Ivonne. Dilihatnya gadis itu sedang serius memperhatikan layar komputernya. Ketika jarak Theo hanya dua meja lagi dari meja Ivonne, gadis itu bangkit berdiri. Membawa tumpukan berkas yang tebal dan meninggalkan mejanya. 
Ivonne menghindarinya!
Ivonne kembali menutup dirinya lagi. Kembali menghindari segala bentuk hubungan yang ditawarkan orang lain. 
“Theo….” 
Theo berbalik. Pak Darmawan tampak terkejut melihat kehadirannya.
“Kamu sudah tidak apa-apa?” tanya Pak Darmawan dengan khawatir.
“Saya tidak apa-apa. Saya bisa kembali kerja lagi.”
Pak Darmawan mengangguk-angguk, masih tampak ragu. “Oke kalau begitu. Hmm… bagaimana personal assistant-mu yang baru, Novelita? Kenapa dia kembali ke kantor sendirian?” Pak Darmawan mengalihkan pandangan ke meja kerja Novelita. Theo mengikuti arah pandang Pak Darmawan dan mendapati Novelita buru-buru membalikkan badannya, berpura-pura sibuk.
”Maaf, tapi saya merasa kurang dapat bekerja sama dengan Novelita. Kalau boleh tahu, mengapa Ivi tidak mau menjadi personal assistant saya? Setahu saya, kami tidak bermasalah.”
Pak Darmawan menggeleng. ”Entah, dia tidak mengatakan alasan apa pun.” 
Theo mengangguk-angguk, ”Kalau begitu, lebih baik saya bekerja sendiri. Hari ini saya minta ditemani oleh Jonas saja,” Theo menyebutkan nama manajer marketing yang lainnya. Akibat kecelakaan kemarin, Alexander Natanegara masih harus beristirahat di rumah. 
”Anda yakin?” Pak Darmawan masih terlihat ragu. ”Tidak apa-apa kalau memang Anda butuh istirahat terlebih dahulu.”
Theo menggeleng tegas.
Dada Ivonne bergemuruh melihat Theo mendekatinya. Dia sama sekali tidak ingin lagi berada di dekat Theo. Dia berpotensi besar menyebabkan Theo  mendapat celaka dan dia tidak ingin Theo celaka. 
Ivonne tercekat, kaget menyadari pemikirannya barusan. Dia tidak ingin Theo celaka, apakah dia mulai… peduli  pada Theo? Kalau begitu, berarti dia sama sekali tidak boleh berada di dekatnya. Semua orang yang dekat dengannya akan berpotensi mendapat kecelakaan. Lihat saja kedua orang tuanya….
Ivonne segera bangun dari duduknya. Beranjak pergi sambil membawa setumpuk berkas yang tebal. Ivonne berbelok dan berhenti. Dia memperhatikan Theo. Wajah lelaki itu bingung, sekilas terlihat seperti… terluka. Ivonne menahan kuat keinginannya untuk mendekati Theo. Ini demi keselamatan lelaki itu sendiri. 
Ivonne masih tetap memperhatikan. Kali ini Pak Darmawan datang dan mereka berdua berbincang-bincang sebentar. Jonas datang, berbincang sebentar dengan Theo, kemudian mereka berdua turun. Ivonne sedikit heran, mengapa Novelita tidak ikut? Theo melewati meja kerja Novelita tanpa menoleh sedikit pun. Novelita juga tampak pura-pura sibuk, seolah juga menghindar dari Theo.
Ketika pintu lift sudah menutup, Ivonne baru keluar dari tempat persembunyiannya. Pintu lift sudah menutup, sama seperti hatinya yang harus ditutup juga. 
”Ivonne…,” Diah, seorang rekan kerjanya, memanggilnya. ”Kamu dipanggil Pak Darmawan, tuh.” 
Diah memicingkan matanya. ”Kenapa hari ini rambut kamu digelung lagi? Kemarin kamu kelihatan cantik banget, lho, digerai…,” puji Diah.
Ivonne hanya tersenyum tipis, tidak membalas perkataan Diah. Dia meletakkan berkas di mejanya, lalu menemui Pak Darmawan.
”Pak Darmawan Sejati mencari saya?” tanya Ivonne, begitu masuk ke dalam ruangan Pak Darmawan.
Pak Darmawan mengangguk. ”Ada apa dengan kamu dan Theo?”
Ivonne terkesiap. Tidak menyangka Pak Darmawan akan bertanya tentang Theo. 
”Tidak ada apa-apa antara … antara kami,” Ivonne merasa jengah menyebut kata ‘kami’. Seolah-olah antara dia dan Theo sudah menjalin hubungan yang intim.
”Sampai kapan kamu mau menutup diri seperti ini?”
Ivonne menatap Pak Darmawan. Ada sorot perhatian dalam pandangan mata Pak Darmawan, pamannya sendiri. 
Ivonne berusaha menjawab, ”Sampai…,” dia menghela napasnya, tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Dia menggeleng pelan.
”Kecelakaan yang mengakibatkan kematian kedua orang tuamu bukanlah kesalahanmu, Ivonne,” ujar Pak Darmawan, bijaksana. 
”Saya permisi dulu, Pak Darmawan Sejati.” 
Ivonne tidak tahan lagi melanjutkan pembicaraan tentang kedua orang tuanya. Masih terlalu menyakitkan baginya.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irene Tjiunata
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”