Ivonne [9]

Karya . Dikliping tanggal 1 November 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Majalah Femina
Ivonne kembali ke mejanya. Novelita menghampirinya denganwajah masam. 
”Theo memintamu untuk menghubungi PT AsiaTex dan PT Kimia Industri. Bikin janjiuntuk besok siang,” ujarnya.
”Kenapa aku? Bukannya kamu sekarang adalah personal assistant-nya TheofilusLundenberg?” tanya Ivonne, heran.
”Tanya saja kepadanya langsung!” ujar Novelita ketus, lalu beranjak pergi darimeja Ivonne. 
Ivonne heran dengan sikap ketus Novelita. Bukankah Novelita sangat mengharapkanbisa menjadi personal assistant Theo?
Ivonne mengangkat bahu, lalu menghubungi dua customer yang diminta Novelita.Dia menuliskan pesan untuk Theo dan meletakkannya di meja Jonas.
Sore hari, ketika dia sudah tiba di rumahnya, dia melihat sosok seseorangsedang menunggunya di pekarangan rumah kecilnya. Mata Ivonne memicing. Diakedatangan tamu? Dia tidak pernah kedatangan tamu. Siapa yang bertamumalam-malam begini? 
Ivonne turun dari mobilnya dan membuka pintu pagar.
”Hai, Ivi….” 
Ivonne terkesiap. Theo menunggunya di sana….
Ivonne tampak terkejut melihat kehadirannya, tapi Theo tidak mau mundur lagi.Kalau Ivonne menghindarinya di kantor, maka dia akan menemuinya di rumah!
“Untuk apa Anda ke sini, Mr. Theofilus Lundenberg?” tanya Ivonne. Wajahnya kakutanpa senyum. “Apa yang Anda inginkan?” 
“Apakah saya tidak boleh masuk dulu?”
Ivonne tampak ragu, namun kemudian tangannya terulur membuka pintu rumahnya.Dia menggesekkan kakinya tiga kali –sempat melirik Theo sebentar, seolah ingintahu bagaimana reaksi lelaki itu– lalu masuk ke dalam rumahnya.
Theo ikut masuk. Mendapati rumah yang bersih, cemerlang, dan, hmm… Theomenghirup napas dalam-dalam, bau cairan antiseptik. Jadi rumah Ivonne antikumanjuga? 
”Kamu sudah tidak apa-apa lagi?” tanyanya, sambil menatap Ivonne.
Ivonne tidak menjawab. Lingkar di bawah matanya tampak kehitaman. Sepertinyagadis itu tidak tidur semalaman.
”Kamu tidak tidur, ya?” 
”Saya menyelesaikan laporan kunjungan kemarin.”
”Sampai tidak tidur? Saya kan sudah bilang laporan itu boleh kamu serahkan soretadi. Kenapa kamu sampai mengorbankan waktu tidurmu?”
Ivonne tidak merespons pernyataan Theo. ”Saya sudah menghubungi PT AsiaTex danPT Kimia Industri. Saya bukan personal assistant Anda lagi. Harap lain kali,Anda memberikan tugas tersebut kepada Novelita.”
”Ivonne…,” Theo meremas rambutnya dengan gusar. ”Kenapakamu jadi bersikap seperti ini kepada saya? Saya tidak pernah melakukankesalahan apa-apa kepada kamu, ’kan?”
Ivonne diam saja. Tidak menjawab.
”Kalau semua ini karena kecelakaan kemarin, aku….”
Ivonne berjalan ke arah pintu dan membukanya lebar-lebar.
“Tidak ada lagi yang dapat kita bicarakan, Theo. Saya harap Anda segerakeluar!”
Theo menarik tubuh Ivonne. Memaksanya duduk dan mengunci kedua pergelangantangannya.
“Kecelakaan kemarin bukanlah kesalahanmu, Ivi!” ujarnya, dengan tegas. Theomerasakan napas Ivonne mendesah ketakutan. Mata Ivonne terbelalak lebar, tapiTheo tidak melepaskannya. “Itu sama sekali bukan kesalahanmu!”
Ivonne memberontak, tapi Theo malah mempererat cengkeramannya.
“Coba ingat-ingat, sebelum tabrakan terjadi, kamu sedang apa?”
Ivonne memejamkan matanya kuat-kuat. Kelopak matanya bergetar.
”Ayo, jawab Ivonne!” Theo menuntut.
”Aku… aku sedang melihat ke jendela.
“Apa yang menabrak mobil kita kemarin?”
Ivonne bergerak-gerak gelisah, tetapi Theo tidak mau melepaskan cengkeramannya.
”Jawab Ivonne. Apa yang menabrak mobil kita kemarin?” Theo mengguncang tubuhIvonne.
”Mo… motor.” Ivonne mengalah. Dia menjawab.
“Apa kamu kenal dengan pengendara motor yang menabrak mobil kita?!” 
Ivonne, masih memejamkan matanya, menggeleng lemah.
”Tabrakan kemarin adalah kesalahan si pengendara motor! Sama sekali bukankesalahanmu! Kau dengar itu, Ivi? Tabrakan yang dialami kedua orang tuamu jugabukanlah kesalahanmu! 
Berhenti menyalahkan dirimu sendiri!”
Ivonne menggeleng kuat-kuat…. Tubuhnya bergetar hebat! 
Kilatan lampu motor, suara tabrakan benda keras, jeritan Mama dan Papa, bauhangus ban yang bergesekan dengan aspal jalan. Semuanya itu masih dapat diingatIvonne dengan jelas! 
”Mama! Papa!” Ivonne berteriak. Dia menangis! Tangisan pertama dalam sepuluhtahun terakhir ini!
”Ivi… Ivi sayang…,.” Theo merengkuh tubuh Ivonne dalam pelukannya. Ivonnetidak menolak. 
”Semua itu bukan kesalahanmu. Berhenti menyalahkan diri sendiri…,” ujar Theo,sambil mengelus-elus lembut rambut Ivonne. Terasa sangat nyaman. Dia butuhpelukan ini. Dia butuh elusan lembut ini. Dia butuh Theo! 
Kesadaran itu menghantam Ivonne. Lebih keras dan lebih hebat dibandingkansebelumnya. Dia sama sekali tidak boleh berada di dekat Theo!
”Kamu… kamu harus pergi!” Ivonne mendorong tubuh Theo. ”Kamu tidak bolehberada di dekatku!”
Dahi Theo berkerut. ”Kenapa?”
”Aku mendatangkan celaka pada setiap orang yang berada di dekatku!” 
Theo memeluk Ivonne lagi, ”I’ll take that risk!” ujarnya. 
“Tidak!” Ivonne menggeleng. Mendorong tubuh Theo dengan lebih keras lagi. “Andatidak mendengar, ya? Saya mendatangkan celaka bagi siapa saja yang dekat dengansaya. Saya berbahaya untuk nyawa Anda, Mr. Theofilus Lundenberg!”
Ivonne bangkit berdiri dan berdiri di sebelah pintu. “Saya harap Anda sekarangkeluar, Mr. Theofilus Lundenberg. Dan jangan sekali-kali Anda dekati sayalagi!”
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irene Tjiunata
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina” 

Baca juga:  Pintu Hijau (3)