Jadi Hantu

Karya . Dikliping tanggal 19 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
Bola Mata Begal
BOLA mata pecah begal itu tertinggal di tepi parit, dekat perempatan, tempat tadi ia disergap orang-orang kampung, yang menghajarnya ramai-ramai menjelang Zuhur. Itu juga setelah dicari orangorang
kepolisian karena tidak seorang pun yang mau membantu mencari, meski orang kepolisian sibuk menelusuri setelah si mayat dimasukkan kantung serta diangkat ke mobil bak terbuka.
”Mata kirinya,” kata seseorang. Mereka merunduk-runduk menelusuri, dan akhirnya menemukan selaput mata, yang seperti pembungkus es mambo pecah, isinya, cairannya, yang mengucur di busur ruang di sepanjang garis celat, meresap dan hilang di tepian yang setengah pasir dan tanah liat. Lenyap jadi kelembaban amis, nyaris tidak terendus karena disamarkan dengan onggokan pasir kering.
Aku berpikir, sebagai hantu dia akan tak sempurna: mutlak bermata picek. Dan saat kerumunan bubar, aku melihatnya sendirian di sana, setengah kebingungan, dan tak tahu harus ke mana. Maka aku mendekatinya dan menepukbahunya. ”Matamu diketemukan, tapi itu tak akan sempurna dipakai—kecuali kau mau menyedoti cairan mata dan sekalian dengan darahmu,” kataku sambil menunjuk telau-telau yang ditutupi pasir. Arwah itu tak bereaksi. Termangu saja. Aku mendekat—dengan menembus sosoknya sehingga berada di depannya—, lalu berbalik menatapnya. Tapi ia tak bereaksi.
”Bagaimana istriku akan menguburkan aku?” gumamnya, setelah sangat lama bisu, dalam bingung tak mengerti, padahal sangat butuh uang untuk melahirkan bayi pertama kami…” Aku menjauh. Duduk di puncak kersen, serta menatap hantu yang bingung cari duit untuk menguburkan tubuhnya. Tapi haruskah bingung, kalau penguburan itu urusan orang hidup? Atau memang di situ persoalannya, karena yang hidup serta bersikewajiban menguburkan tubuhnya tak punya uang? Ya! Bahkan kebutuhan inti yang mendesak telah membuat nekat jadi begal dengan diantar teman, si yang lari entah ke mana? Apa yang kuasa dilakukan dalam ketakberdayaannya sebagai hantu? Terus terang, aku pun bingung. Meski aku menganjurkannya agar berlaku seperti semua orang mati dan hantu sejati tak terlalu repot dengan urusan keduniawian. Bebas bahkan bisa lepas berbuat usil.
Lidahnya Memanjang
SOSIAWATI itu menggantung diri di dahan cempedak. Tubuhnya mengejang serta geliatan sakitnya sukses memicu orgasme, meski mulut dihiasi busa ketika udara, napas, dipompakan dengan pelicin ludah tak bisa keluar menembus sekat yang pembuntu. Coba diletupkan saat tidak ada ruang luang yang bisa dibuat, meski dengan memaksakan lidah menjulur makin tipis, memenjang dan tak jadi penghalang, dan seiring dengan bola mata sekuatnya disibelalakkan untuk memperhebat tekanan udara dalam rongga dada. Sia-sia malah Sosiawati terberak. Bahkan terkencing dan orgasme.
”Sudahlah,” kataku, pada rohnya, yang telanjur terenjankan, meskipun tubuh tetap hangat, dan geletaran refleks syarafiah masih spontan mensidenyutkan otot. Roh melirik. Tajam menatap. ”Kau tidak mengerti,” katanya. 
”Anak ini masih delapan bulan…” Aku tersenyum. Kehidupan punya roh tersendiri, punya takdir tersendiri, karena itu tidak bisa dimusnahkan dengan fakta: Sosiawati gagal memaksa si pacar menikahinya—sebab cuma satu lelaki yang dipacarinya selama setahun terakhir. ”Tapi aku belum lulus kuliah,” kata si pacar. ”Tapi ibu menuntut aku kerja dan membiayai kuliah adik-adikku,” katanya lagi. Sosiawati menggertakkan gigi. ”Ini bukan soal adik-adikmu, tapi anakmu,” katanya, ”ini bukan soal ibumu tapi aku sebagai Ibu anakmu.”
Pacarnya lari. Tidak kuliah, tidak pulang ke rumah, tidak ada di manamana, dan itu mendorong Sosiawati memilih dahan cempedak untuk menggantung diri. Ia mati, tapi ki Gohar menemukannya tergantung, berteriak-teriak hingga orang perumahan berdatangan, dan membawa tubuhnya yang masih hangat itu ke RS. Dan seorang dokter, gadis yang lagi menempuh spesialisasi G & K, memutuskan untuk mendodet perutnya, dan memaksa si bayi terlahir. Bayi itu terlahir sehat, jadi anak angkat si dokter gadis, serta diberi nama Eva Caesarisatia. Dan itu yang membuat Sosiawati terus mengawal dengan penuh kasih tak jadi kuntilanak pengganggu orang. Bahkan suka rela mengawal perempuan yang akan melahirkan, sehingga para hantu memilih menjauh dari momen penuh darah itu.
Anak Hantu
IBNU Dampar dibuang ke ember besar butut keranjang sampah TPL di tepi pantai, pada saat fajar masih jauh, saat si nelayan masih menariki jaring terakhir. Perkampungan masih sunyi, tak ada kegiatan bahkan rumahrumah mematikan TV, meski lampu teras dinyalakan sebagai pedoman untuk nelayan. Semua istirahat agar bisa segar bergegas saat menyambut kapal berlabuh, menurunkan tangkapan, dan pelelangan jual beli menggeliat.
Segera sebelum semua sirna ketika matahari semakin menebarkan cahaya kemilau seiring remang yang perlahan surut. Semua lelaki, biasanya, beristirahat, tinggal para perempuan menggarap ikan yang tak laku, di dalam ruap bau amis yang mulai kehilangan kesegaran bersama terik. Di saat itu si bayi itu di keranjang sampah menjerit lapar dan kepanasan.
Zinulikah yang pertama menemukannya, menjerit. Perempuan-perempuan menjerit, dan para lelaki bergegas kembali ke pelelangan. Semuanya heran dengan bayi itu, si yang matanya memsibelalak itu, yang rakus mengisap-ngisap telunjuk penuh lendir serta darah ikan yang sedang dibeteti perutnya, yang tak sadar dimasukkan Zinulikah ke mulut besar si bayi. ”Ia lapar,” kata seseorang. Beberapa orang spontan menyebut Nyiurma, yang lagi menyusui setelah melahirkan sepekan yang lalu. Dan semua beriring—bahkan anjing juga ikut mengantarkannya ke rumah Nyiurma dan minta untuk membagi sedikit air susunya. Dan di situ ia tinggal sampai Zinulikah bersiketetapan akan memeliharanya. Anak siapa? Anak hantukah? Dan aku berkeliling bertanya ke setiap hantu, jin, setan, mambang, serta apa saja, untuk memaksanya mengaku. Tapi tak satu pun yang mengaku.
Dan aku, berpengalaman sebagai hantu 33 tahun-tahu hantu itu ber-KB tak bisa memastikan. Itu anak manusia, sengaja dibuang manusia ayah, atau hanya ibunya saja, karena itu kami hantu, jin, setan, mambang, atau apa saja bersepakat buat menjaganya. Bukankah ia disebut anak hantu? Hampir segolongan dengan kami? Jadi hati-hati, jangan mengganggu Joko Dampar, yang anak manusia serta setan sekampung pesisir ini. Dan itu berlaku sampai Joko Dampar dewasa, menikah, tua, dan mati sah menjadi warga arwah dan jadi hantu sejati
kampung pesisir Gresuek.
Suami Siluman Laut
ZAMURI tersesat ke Pulau Setan, dan menikah dengan siluman tidak pernah mau mengakui, apa itu siluman biawak, atau siluman ular, dan bahkan hanya siluman kepiting. Katanya ia punya anak lima, dua perempuan dan tiga lelaki yang diam-diam, bergantian, mengirim ikan tangkapan untuk biaya hidup sebagai bujangan lapuk. Karenanya ia selalu berlayar sendirian, dan tidak satu pun dari orang kampung yang berani lagi mengintainya, setelah kapal Mutakhir itu mendadak karam tanpa sebab jelas. Dia hilang selama sebulan, meski Zamuri bilang: selama tiga puluh lima tahun sampai istrinya meninggal.
Mutakhir sebenarnya marah, tapi si orang sekampung lebih marah lagi, dan berbalik mengancam akan mengusirnya. Kenapa? Karena yang tersesat, terdampar, bahkan yang nyaris karam itu bisa mendadak selamat dengan bilang: ia itu keluarga jauh Zamuri, oleh karena itu meminta pertolongan keselamatan dari sedulur keturunan dan ipar-keponakan Zamuri. Sudah sangat lama tidak pernah ada lagi kecelakaan laut apapun bagi orang dari kampung kami, sehingga para jin, hantu dan apapun ikut memilih berompromi tak mau berurusan dengan Zamuri, keluarganya, atau siapapun dari kampung nelayan Gresuek. Si Zamuri itu tokoh berpengaruh, kuasanya menakutkan meski tidak pernah jahat dan kasar pada siapapun. Ia menantu Raja Pulau Setan, dan menikah dengan salah satu putrinya. Si yang entah biawak, ular, atau cuma kepiting—karena ia tidak pernah mau mengakui fakta itu, sehingga para jin dan siluman sepakat tak menyebut identitas siluman istrinya. 
Dan itu dikisahkan, sebagai peringatan leh Jin Laut kepada para Jin Pesisir, dan ia menuturkannya lagi dengan disertai ancaman akan siksaan Raja Pulau Setan kalau kami berani melanggar serta menggangunya kepada setan, hantu, dan siluman lainnya. Kami tahu itu, dan karenanya kami menjaga Zamuri, dan bahkan denganku ia sering bercakap-cakap sambil merokok di bawah beringin angker di muara, ketika santai memancing itu seusai meminta tak siapapun mempengaruhi ikan-ikan.
Cara Sederhana jadi Hantu
SETELAH 50 tahun banyak yang bertanya, bagaimana cara aku jadi hantu, dan tak mau mengaku, karena itu memalukan masalah miskomunikasi, kesalahan mensibangun referensi, keluguan tak punya referensi, dan terutama kesembronoan si yang baru pertama kali mati: aku mau berterus terang. Saat itu aku memang tak berpengalaman. Pada saat mau meninggal ada yang datang, pakai jubah bercahaya, dan dengan wajah ramah.
”Kau masih ingin menikmati saat terakhir di Dunia, dengan menuntaskan keinginan terakhirmu …” katanya. Menarik. Itu rahmat pikirku. Aku sepakat. Perjanjianpun ditulis. Ditandatangani. Dan jadilah aku hantu. Karena itu bukan Tuhan, bukan malaikat, tapi malah Iblis si yang suka menyesatkan itu. Jadilah aku hantu, dengan perilaku yang sangat Islamis gemar ikut pengajian di mana-mana dan mulai suka dakwah ke mana-mana. Sungguh, saestu! ❑ – k
Caruban, Oktober 2015
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Beni Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 18 Oktober 2015