Jalan Cilame – Tangan

Karya . Dikliping tanggal 24 November 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

JALAN CILAME

Baru saja sebutir kedelai
meluncur bergulingan
Sebelum roda seorang tukang becak
Menggilasnya pecah berserak
Becak tua langganan pedagang pasar lama
Terkelupas catnya tersebab basuhan hujan garam
Juga keringat tangan para pelancong
yang tak henti menunjuk bertanya
Pada gudang begitu kumuh
Rumah berhantu separuh rubuh
Dan timbunan sampah wihara sebelah
Cilame seketika bagai museum terlupa
Ibarat pencuri sembunyi dari kejaran waktu
Menyelinap di gang-gang kecil
Menyamar tikus tanah, coro yang lemah
Atau ratap sedu seorang kuli bocah
lalai abainya disesali berkali-kali
Nanas-nanas dikupas sekenanya
Seperti kucing penuh kutu
Melompat dari keranjang ke keranjang
Menukik naik ke atap, mengincar remah ikan goreng
Lalu hinggap dalam catatan perjalanan
Sekilas tinjauan mata
Dari satu wisatawan
Atau wartawan amatiran
Seorang kakek penunggu warung
Melambai pelan padamu
Sambil menawarkan obat mujarab
Buat menghalau kepikunan usia renta
Tapi inilah Cilame sekarang
Sisa aroma kecap kedelai hitam
Yang meresap ke celah dinding
Menyusup hingga ke masa depan
Di mana tak seorang pun kuasa mengingatnya
2014

TANGAN

Tanganku, apa yang selama ini sudah kau buat?
Mengapa semua tidak bisa lagi kau ingat?
Mari ke sini, kita baca buku lagi
Berhentilah membuat puisi tentang maut
Percayalah kita akhirnya akan abadi
Kenangkanlah genggam lembut jari kekasih
Yang membuatmu tak henti mengirimkan surat-surat
Sajak-sajak dan pesan-pesan. Kau kirimkan padanya.
Seolah kau lebih cinta padanya. Daripada yang kutahu
Lebih liar, tanganku. Bikinlah sesuatu yang lebih liar
Dari bulan musim gugur. Dari cermin hilang bayang
Buatlah aku takut oleh fantasimu
Mengayun bersama malam. Melampaui mimpi demi mimpi
Mengapa kau cemas pada guratan nasib buruk
Nujuman penyihir tua sebuah sirkus waktu silam
Tidakkah kau lebih percaya padaku
Bahwa itu ramalan biasa, pelipur bagi mereka
yang kepingin mencuri masa depan
Tanganku, jangan kau abai dan ingkari aku
Kalau kau mati, aku tak mau
Aku tak siap kehilanganmu
2014
Ni Made Purnama Sari lahir di Klungkung, 22 Maret 1989. Mendirikan Komunitas Sahaja di Bali. Kini ia menempuh Program S-2 di Magister Manajemen Pembangunan Sosial, FISIP, Universitas Indonesia. Buku puisinya adalah Bali-Borneo (2014).
Rujukan
[1] Disalin dari karya Ni Made Purnama Sari
[2] Tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 30 November 2014