Jalan Ini dan Jalan-Jalan Itu, Sepanjang Pantura

Karya . Dikliping tanggal 28 Mei 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Aku sedang mengubah posisi tas punggung ke depan dada saat debu terminal buyar diterpa angin akibat laju bus tua yang cukup karatan. Tidak ada bus menuju Surabaya lagi. Artinya, aku harus menanti meski tak tahu berapa lama.

Seorang nenek berjilbab hitam datang mendekatiku yang duduk di dekat musala Terminal Terboyo. Kulitnya hitam dan keriput. Peluh membasahi permukaan wajahnya.

“Mangga, Mas. Lima ribu saja,” katanya menawariku koran.

Aku mengambil satu eksemplar. Hitunghitung buat bahan baca agar tak begitu bosan saat sudah naik bus.

Matur nuwun, Mas,” ucap dia setelah menerima selembar uang kusut dariku. Nenek penjual koran itu segera pergi menuju calon pembeli lain. Entah kenapa, aku tiba-tiba ingat Mamak. Aku membayangkan Mamak saat berjualan pecel di kampung. Beliau pasti sama dengan nenek itu, berteriak-berteriak, menjajakan dagangan.

Rasa rindu kepada Mamak tibatiba menggelegak. Aku merasa bersalah tidak pulang hampir selama satu semester. Padahal, aku hanya kuliah di salah satu universitas di Semarang dan kampung halamanku Pati. Jarak kedua kota itu tidaklah jauh.

“Aku belum bisa pulang, Mak. Maaf,” ucapku beberapa kali saat kami tersambung via telepon.

Mamak dan Bapak hanya bisa mengiyakan sambil berpesan yang baik-baik. Baru kali pertama ini aku lama tidak pulang. Tiga semester yang sudah-sudah, aku selalu pulang dua minggu sekali. Paling lama satu bulan sekali. Namun karena semester ini banyak sekali tugas dan kegiatan luar kelas yang harus kukerjakan, tradisi pulang itu agaknya memunah.

“Sabar ya, Mak, Pak,” kataku tiap kali hendak menutup telepon. Aku tahu orang tua akan selalu menanam kerinduan begitu besar pada anakanaknya, sebesar apa pun, setua apa pun sang buah hati telah tumbuh. Aku bersyukur pada H-3 hari raya ini aku bisa pulang. Aku sudah tak sabar mencium tangan Mamak dan Bapak, melihat segores senyum di wajah mereka

Sekitar setengah jam menunggu, akhirnya ada dua bus masuk terminal. Dua-duanya bus jurusan Semarang-Surabaya. Aku lekas berdiri dan mendekati kedua bus itu bersama belasan orang lain. Kondektur bus pertama berwarna hijau bilang akan berangkat satu jam lagi, sedangkan bus kedua bisa langsung berangkat. Praktis, aku dan para calon penumpang segera antre. Kami berdesakan. Aku pikir, rindu adalah penyebab semua ini.

Saat hendak naik bus, seseorang tiba-tiba menepuk bahuku. Aku menoleh. Sosok yang tak asing. Tiba-tiba aku diselimuti rasa bahagia.

“Wah, assalamu’alaikum, Pak Imron,” sapaku.

Pak Imron adalah guruku waktu MTs dan MA. Beliau mengajar mata pelajaran fathul qarib dan akidah akhlak.

“He-he, wa’alaikumussalam. Ayo naik dulu,” ajaknya.

Pak Imron memegang tengkukku sambil sedikit memijat. Aku jadi ingat waktu masih sekolah. Hampir tiap bertemu denganku beliau selalu melakukan hal itu.

Kami mendapat tempat duduk di bagian tengah-kanan. Pak Imron kupersilakan duduk di dekat jendela. Karena bus hampir penuh, sopir langsung menginjak gas. Aku pun membuka dialog.

“Pak Imron dari Semarang atau dari mana?”

“Ungaran, Bu. Tadi ada acara di sana.”

“Sendirian, Pak?”

“Iya, tapi sekarang ada teman. He-he.”

Pak Imron memang guru agama yang hobi bercanda. Namun beliau tak pernah kehilangan wibawa. Murid-muridnya selalu menaruh hormat sebab pria berperawakan agak gemuk itu tahu menempatkan candaan.

Kami ngobrol ngalor-ngidul soal kuliahku, perkembangan madrasah, dan hal-hal lain dari remeh-temeh hingga yang penting. Kalimat demi kalimat, curhatan demi curhatan, dan nasihat demi nasihat hadir sepanjang jalan pantura. Aku rasa, koran yang kubeli hanya akan jadi kipas penghalau gerah dalam bus. Sekarang sudah ada Pak Imron yang memberikan ilmu dan hiburan buatku.

“Oh, ya, bagaimana si Mulud, Pak?” tanyaku. Mulud adik kelasku yang terkenal bandel dan konyol.

“Ya masih kayak dulu. Dia masih sering godain cewek. Segitu kesepian dia,” jawab Pak Imron.

Aku ingin terkekeh. Namun mengingat sedang di bus dan di samping Pak Imron, yang keluar hanya tawa kecil yang kututup dengan tangan.

Jalan Ini dan Jalan-Jalan Itu, Sepanjang PanturaDi pinggiran jalan pantura, aku melihat banyak yang membuka gubuk-gubuk kecil menjual blewah, buah khas Ramadan. Sepanjang jalan pula, aku menemukan banyak baliho dari berbagai lembaga yang menyambut Ramadan. Tiba-tiba sebuah pertanyaan yang tak pernah kupikirkan melintas: mengapa bulan Ramadan ada? Mengapa Tuhan menciptakan Ramadan?

Pertanyaan itu terus membuntuti. Meski muncul keraguan dalam hati, aku akhirnya bertanya pada Pak Imron.

“Pak Imron, saya ada pertanyaan.”

“Mangga.”

“Kenapa Allah menciptakan Ramadan?”

“He-he kamu mulai kritis ya, Bu,” tanggap dia.

Aku hanya tersenyum sambil mengingatingat betapa dulu aku jarang bertanya pada guru. Kalaupun bertanya, ya pertanyaan retoris.

“Allah rindu. Oleh karena itulah, Dia menciptakan Ramadan.”

“Kok bisa, Pak?”

“Ya bisa. Kita ini makhluk-Nya yang supersibuk. Sepanjang tahun kita bekerja, datang menghadiri berbagai acara yang kita anggap penting, dan jalan-jalan ke mana saja kita mau. Tanpa sadar banyak hal penting kita lalaikan. Nah, Ramadan sinyal agar kita merenung. Ben eling. Bulan suci ini juga jadi sinyal kerinduan Allah pada kita. Allah sebenarnya ingin dekat dengan kita.”

Aku menyimak penjelasan Pak Imron.

“Jangan pikir yang bisa kangen hanya kita. Tuhan pun merindu. Kenapa rindu, karena Dia mencintai kita,” lanjut dia.

“Jadi ikatan kita dengan-Nya ini ikatan cinta. Cinta, Bu, Dia mencintai kita. Maka kehadiran Ramadan itu agar kita mencintai Dia. Cinta adalah hakikat kita denganNya. Itu maqom tertinggi yang bisa seorang hamba capai. Oleh karena itu, salah satu julukan Nabi adalah Habiballah, kekasih Allah.”

“Bagaimana kita tahu kita cinta Dia, Pak?”

“Ya bila kita ikhlas melakukan sesuatu, bukan karena takut siksa atau ingin pahala. Mencintai itu kan ikhlas memberi dan lapang menerima. Yang jelas kita senantiasa rindu pada-Nya. Tak heran kita sering dengar orang rindu Ramadan. Insya Allah mereka pencinta Allah.”

Obrolan kami pun terus berlanjut, sementara bus sudah sampai di wilayah Kudus. Beberapa penumpang turun, berganti penumpang lebih banyak. Bus makin penuh. Banyak yang berdiri berdesakan.

“Oleh karena itu saat Ramadan ada puasa. Kita disuruh menahan nafsu. Itu jalan pembersihan diri. Jalan takwa. Puasa adalah puisi cinta Tuhan.”

Aduh, aku terkesima mendengar kalimat Pak Imron. Selain penuh makna, untaian kalimatnya indah. Kalimat-kalimat itu membawaku ke sebuah perenungan. Dan, aku sampai ke titik kesetujuan dengannya.

“Coba kamu pikir: kalau tidak ada Ramadan, masihkah kita mendekatkan diri kepada Tuhan? Kenapa Tuhan cuma ngasih Ramadan sebulan dari dua belas bulan selama setahun, karena supaya bulan suci ini dianggap istimewa. Kan kita suka yang istimewa baru mau ngerjain. Yang biasa kayak salat lima waktu malah sering kita tinggal karena harus dikerjakan tiap hari.”

Deg! Pertanyaan dan pernyataan itu langsung menamparku. Aku merasa berdosa, seakan sudah mempermainkan Allah. Benar memang kata Pak Imron. Aku kemudian bercermin: aku memang suka yang istimewa. Aku lebih suka tarawih, tetapi kerap lalai salat lima waktu. Padahal, salat lima waktu wajib hukumnya. Aduh, ya Allah, ampuni aku yang berlogika kacau ini.

Bus terus melaju, seperti diskusiku dengan Pak Imron. Tanpa sadar, kami sudah sampai di Pati. Beberapa menit aku akan sampai di tempat penurunan penumpang. Sebab rumah berbeda dari Pak Imron, aku minta pamit.

“Saya pamit, Pak,” ucapku. Aku mencium tangan Pak Imron dan mengucap salam. Aku turun dari bus saat sampai di alun-alun Juwana.

Suasana begitu ramai saat aku turun. Namun kebisingan jalan masih kalah dari penjelasan Pak Imron yang masih membekas. Ia bersemayam, berdiskusi denganku di sini.

Ah, aku baru tahu, ternyata Tuhan juga bisa rindu. Barangkali seperti rindu seseorang pada kekasihnya, atau rinduku pada Mamak-Bapak dan sebaliknya. Ah, tidak, tidak. Rindu Allah rasanya jauh lebih romantis. Tak bisa disamakan dengan rindu makhluk. Terbukti, Dia memberikan hadiah berupa Ramadan yang begitu indah.

Jalan Ramadan ini mengantarkan kepada Tuhan yang Mahaperindu, sementara jalan itu, jalan-jalan di pantura itu, mengantarkan aku kepada Mamak yang sudah menungguku di depan pintu rumah. Ah, kerinduan memang mengasyikkan. Bukankah begitu? (28)

Sekaran, Mei 2019: 23:23 WIB

Ahmad Abu Rifai, kelahiran Pati, mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.


[1] Disalin dari karya Ahmad Abu Rifai
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 26 Mei 2019