Jalan Trem, Belinyu – Hedwig

Karya . Dikliping tanggal 19 Februari 2017 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Jalan Trem, Belinyu

: Bang Yuliandi

telah ia bayangkan kurang lebih seabad silam,
ketika serangkaian kereta mungil bertolak
dari pelabuhan berok ke simpang limo, lalu
memotong bukit penyep lulus menembus
bukit juna
: ah, sampai jua ke rapuh ingatan!
“ke mantung! ke mantung!”
begitulah gegas para pegawai BTW
memburu jam kerja di pertigaan,
sesayup sampai ditimpali langkah gemulai
noni-noni cantik pakai rok kembang
tetapi senja di kota kecil itu seperti jelaga
batubara yang mengepul dari loko tua
“di Belinyu, sejarah bukanlah gambar hidup
yang bisa ditayang ulang,” lamat-lamat ia
mendengar seseorang berujar
—seakan nujum dari masa depan
dan di simpang bioskop yang tak lagi ada,
sembari memesan seloyang kue hoklo pan
dilihatnya jarum jam pada tugu enggan
berputar
kenangankah itu, yang terbenam bersama rel
di muka toko anam? tanyanya jerih
membayangkan waktu
makin pipih dilindas roda-roda besi
namun senja yang berserbuk
tak juga beranjak pergi
Yogyakarta, Maret 2016

Hedwig*

: Ichsan Mokoginta

karena pungguk rindukan bulan,
kuantar jua surat mereka
yang sarat kangen tertahan
: dari Hogwarts sampai kutub selatan
kuyup-beku sekali pun sayap-sayapku
menembus badai dan hujan,
bakal kujemput tiap kabar terang
yang terbit dari hati anak-anak riang
sebab begitulah suratanku di alam sihir
yang penuh khayal—ah, sangkamu
aku merpati pos kesasar?
tapi di negerimu, tuan, tempat
matahari sungguh benderang
memang pernah kudengar
hujah yang turun lebat seperti hujan,
lebih dari sekadar kias
bagi kasih tak kesampaian
maka dengarlah, betapa
kicauku mencemaskan
mereka yang berhati rawan;
yang terus memasang
tanda dan perlambang
serupa perangkap maut
di tiap persimpangan…
ah, jika sampai ke petaling aku nyasar
kian buruklah alamat, tuan! celaka pula
namaku sebagai satwa malam
sebab bisa-bisa tak lagi aku
berbalik ke sarang ke sangkar, lantaran
dituduh kuwok yang sial—ai, burung gaib
yang galib terbang telentang
menjemput nyawa orok-orok malang
oh, adakah salah bila suaraku
menggetarkan jiwa-badan
yang hendaknya menghadap ajal?
hingga kelak orang-orang arif
menetaskan telurku jadi momok
bagi tikus-tikus yang kemaruk
memangsa pohon penghidupan
duh tuhan, bukankah aku
makhluk menawan?
Yogyakarta, Februari 2016
*) Burung pungguk piaraan Harry Potter dalam cerita anak-anak karya JK Rowling.

Sunlie Thomas Alexander, Lahir 7 Juni 1977 di Belinyu, Pulau Bangka. Telah menerbitkan beberapa buku, antara lain Malam Buta Yin (2009), Istri Muda Dewa  Dapur (2012), dan Sisik Ular Tangga (2014). Belum lama ini sejumlah cerpen dan puisinya juga terbit dalam bahasa Mandarin di Taiwan dengan judul Y’ulíng Chuán (Brilliant Time Bookstore, 2016)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunlie Thomas Alexander
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 19 Februari 2017