Jam Pelajaran Pertama – Dari Seorang Ibu kepada Anak-Anaknya – Taman Sritanjung dalam Kenangan – Pelabuhan Ketapang Pagi Hari

Karya . Dikliping tanggal 25 Januari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi
Jam Pelajaran Pertama
Tak ada pelajaran bagi bagi anak-anak pagi ini
Selain menghapal Pancasila
Yang salah satu silanya dilupakan para orangtua
Tak ada yang ditugaskan bagi anak-anak pagi ini
Selain mengibarkan bendera tinggi-tinggi di ruang jiwanya
Sesudah skeian lama hanya menjadi pajangan di tiang upacara
Tak ada lagu untuk dikoorkan anak-anak pagi ini
Selain Indonesia Raya, agar mereka memaknai kemerdekaan 
Bukan sedangkal yang diteriakkan di mulut saja
Tak ada yang diteladankan bagi anak-anak pagi ini
Selain Garuda: burung yang selalu mengajarkan
Bagaimana menghadapi teroro badai dengan perisai di dadanya
0309 4014

Dari Seorang Ibu kepada Anak-Anaknya

Tak ada yang dibekalkan seorang ibu. Selain doa yang menjadikan jiwa anak-anak seteguh karang.
Atas bayang-bayang badai yang berderap serupa barisan pasukan teroris dari negeri kegelapan.
Tak ada yang dimohon seorang ibu pada Tuhan. Hendaklah samudera selalu membuka jalan bagi anak-anak. Pelaut-pelaut kecil yang merangkakkan perahu dengan layar cinta. Hingga memahami kebiru-hijauan air yang diberkati matahari.
Tak ada yang diharapkan seorang ibu siang-malam. Agar anak-anak selalu ingat mercusuar di pelabuhan, yang selalu mengingatkan untuk pulang. Sebelum mereka terjebak dalam kemabukan gelombang hingga kandas perahunya.
0106 2014

Taman Sritanjung dalam Kenangan

Pagi masih menyisakan embun padarerumputan. Ketika kau hendak meninggalkan Taman Sritanjung. Lantaran putus asa, seusai berulang kali gagal mempuisikan makrifat cinta dari kekasihmu, yang tertoreh di ujung keris berluk sembilan. Hingga, kau menjadi setolol Sidapaksa. Betapa gagap! Saat kau memaknai energi darah yang mewangikan seluruh air telaga.
Seperti seekor kekupu yang terbang dengan gerakan sayap-sayap lunglai, kau tinggalkan Taman Sritanjung. Seusai bunga-bunga yang dimekarkan oleh tangkai cinta hanya menjanjikan wanginya di pengujung mimpi. Tak pernah terasakan lagi, saat kau menghabiskan malam panjang di losmen pinggir jalan. Bersama kekasihmua. Kenangan lama yang telah gagal diabadikan ke dalam puisi.
Banyuwangi – Cilacap, 0707 2014

Pelabuhan Ketapang Pagi Hari

Laut tidak sedang bertenaga pagi ini. Serupa lelaki bongkok yang semalam tak kuasa menggedeburkan gelombang berahinya ke batas pantai. Hingga istrinya yang masih pelabuhan terbuka bagi kapal terbesar, hanya menghabiskan sisa malam dengan selimut kabut.
Matahari di timur masih semerah kemarin, tapi tak sanggup membakar bekuan karang. Kapal-kapal masih seperti dulu, tapi tak sanggup membelah lautan. “Hah!” Lelaki bongkok menghentakkan napas. Teringat sewaktu muda, melempar sauh di depan isterinya hanya dengan satu tangan.
Lesu angin, satu-satunya harapan yang tersisa dari lelaki bongkok. Barangkali di ambang senja nanti, kapal tua kembali dapat diderukan mesinnya. Buat mengarungi lautan bersama isterinya.
Banyuwangi – Cilacap, 1107 2014

Ketika Menyaksikan Tari Kuntulan

Rebana menghentak-hentak. Tembang yang dilantunkan seorang sinden, semagis mantram pengundang  roh-roh dari negeri paling gaib. Roh-roh yang menyerupai sekawanan kuntul berbulu kapas.
Merasuk ke dalam setiap jiwa sehampa ruang goa di kaki Bukit Somawana. Sekelam kejahiliyahan Rahwana yang menghalalkan segala cara dengan mengatasnamakan cinta.
Penari-penari bergerak seirama tepak kendang yang selalu berujung pada gaung gong. Membentuk lingkaran seperti sekawanan kuntul yang tengah menggantang harap di langit terpuncak. Tentang berulangnya kejayaan Ayodia ketika zaman Semar. Di mana kawula dan Gusti serupa sepengantin warna yin yang. Sebelum dinodai Shinta yang menggadaikan cinta Rama ke Negeri Alengka.
Banyuwangi – Cilacap, 1507 2014


Sri wintala Achmad, tinggal di Cilacap Jawa Tengah


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sri wintala Achmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 25 Januari 2015