Jantung Kerupuk Tiga Seribu – Pagi – Kenapa Saya Berhenti Menulis Sajak setahun ini – Pohon Kelapa yang Tumbuh do Belakang Rumah – Jalan Maut

Karya . Dikliping tanggal 5 Juli 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Jantung Kerupuk Tiga Seribu

dengan isi jantung kerupuk tiga seribu
kupinang cintamu
yang minuman segar
sepuluh ribu satu.

aku nekat
cintaku keramat!

dan dengan sekarung tepung terigu ini
kujamakkan pinangan itu.

rumah makanmu akan menumbuhkan bunga barusekali mendecaskan adonan
dalam penggorengan itu.

kau tinggal duduk-duduk saja
di beranda rumah sambil menikmati puisi minggu ini
menelurkan keringat biru dari botolmu yang perlahan menjadi dingin.

kau tinggal baca puisi itu
tak perlu bersusah-jadah jadi penyair
hanya untuk menjadi puisi.

puisi akan menjemputmu sendiri.

sebab di dasar lambungku
ada kriuk gembus
yang hanya mampu diremukkan
dengan air cintamu.

tidak juga kau mau menikah denganku?

Pagi

pagi dengan hari yang masih serupa
rebusan air di tungku mati

retak seribu pada akik setelah diasah
atau sayur bayam seminggu yang lalu.

pagi dan segala yang berbau mleati.
adakah hari yang lebih
selain pagi speerti ini?

pagi ini, masih lantang suaramu
bagai getar seruling di ujung belati.

Kenapa Saya Berhenti Menulis Sajak Setahun Ini

bila kau bertanya kenapa saya berhenti menulis sajak setahun ini
tanyakan kepada kertas-kertas putih yang tergelapar di atas meja itu
mungkin putihnya bisa menjelaskan
kenapa saya berhenti menulis sajak setahun ini
dan tak pernah tiba saat diundang membacakan sajak
di tugu pancoran.

bila saat kau bertanya
kepada kertas-kertas putih yang tergelepar di atas meja itu
tentang kenapa saya berhenti menulis sajak setahun ini
tetapi putihnya tak mampu menjelaskan
mungkin ia trauma pada patahan mata pensil
bercak tinta di meja
dan kertas kusam penuh coretan itu.

Pohon Kelapa yang Tumbuh do Belakang Rumah

pohon kelapa yang tumbuh di belakang rumah
sudahkah kau berbuah?

sebab di halaman
batang pinang mulai menyiulkan tampuknya.

akar-akarnya menyulam tanah,
menjala cacing penggembur ubi talas
jai menu makan malam.

sayuran ulat
dan anai-anai yang hendak menyemai
kulit mati di kayu
tumbang sendiri.

di sebelah kandnag
ayam dan ituk tercirit di kaki
sebab di mulut mereka sepasang lipan bercinta.

kuda dan sapi memangsa sarang laba-laba
semenjak kawanan burung menerbangkan biji rumput ke tanah lain.

di halaman kini tinggal mengkudu dan buah ara
beruk dan musang menaiki tangga surga usai mengeduk sarinya.

sedang di dapur,
adakah yang bisa dimatangkan
oleh sabut kelapa
yang lama menahan diri
jadi apa?

pohon kelapa yang tumbuh di belakang rumah,
sudahkah kau berbuah?

sudahkah air mata rawa
ke pangkal tampukmu
sekedar berbagi
rasa payau?

sudahkah kau mengisi putikmu
dengan embun malam
dan angin rabun
yang berputar
di tunas akar?

mungkinkah kau masih bersuka cita
mengisi pelepahmu
dengan biji kopi
dan getah damar?

kelapa yang tumbuh di belakang rumah,
aku rindu
dan ingin memelukmu
sebab sudah lama aku tak ke belakang

semenjak batang pinang
menyingkirkan pot kembang
memindahkan bunga kaktus
ke dalam rumah.

Jalan Maut

ada yang bernaung di kelopak matamu:
kilometer yang mengikis rentang tali hidupmu.

ada yang menjalar-jalar di tali jantungmu:
ular hitam yang tak bersimpang itu.

Ramoun Apta lahir di Muara Bungo, Jambi. Belajar di Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ramoun Apta
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 5 Juli 2015
`