Jas Merah – Perut di Atas Bejana

Karya . Dikliping tanggal 5 Juni 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat
Jas Merah
Tuan, jasmu sudah tidak merah lagi
luntur lalu memudar dalam lusinan orang
yang mereka sbeut terlahir untukmu
Pada akhirnya apa yang tergantung
hanya pajangan tak bernyawa
diteriaki bukan diteriakkan
Tuan, kau tak usah khawatir dengan kami
ibu pertiwi masih memiliki
tongkat dan batu yang menjadi tanaman
setidaknya itu cukup untuk memberi makan
perut-perut kecil kami yang kelaparan
Tuan, kau juga tak usah bersedih
selama namamu masih disebut
prajurot masih berdiri siap siaga
mengantar putra terbaikmu
berteriak lantang menyebutkan tanah
yang lahir dengan keringat darahmu
Tapi Tuan,
Apakah negeri ini masih elok dipandang mata?
Padaherang, Desember 2015

Perut di Atas Bejana

Periuk belum terisi penuh saat gelas-gelas kristal
telah berjajar di atas meja kayu jati
Piring-piring seharusnya telah tersaji
karena siang sudah mulai menjelang
Begitu pun saat matahari di atas ubun-ubun
sampai akhirnya sudut jam mengerucut
Katanya dunia harus terhenti di ketiga waktu itu
menyediakan tempat untuk mengisi bejana
Tapi lihat, kursi itu kosong ditinggal tuannya
yang selama ini terikat
Makanan yang tersaji sudah tak menarik
jika sang tuan dipandang sebagai budak
padahal kastil ini seharusnya nyaman
tidak sesederhana saat kau hanya mengurus urusan perut
Kau memang terlalu sibuk membentuk guci
menjadi sempurna sesuai lingkungan yang kau damba
Padaherang, Desember 2015


Tyssa Kurniaty, tinggal di Desa Karangpawitan, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tyssa Kurniaty
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi 5 Juni 2016