Jejak Air

Karya . Dikliping tanggal 2 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat
JAROT kecil hanya bisa melihat kakeknya mengejang di ujung ajal. Namun, sebelum benar-benar mengembuskan napas terakhir, suaranya terdengar pelan dan terbata, “Kau tak perlu cemas. Nanti akan datang orang yang kita tunggu itu, laki-laki yang di setiap bekas jejak kakinya mengalir air yang begitu  bening untuk kita semua di sini.”
SELEPAS mengatakan itu, sang kakek meninggal. namun, ucapannya seperti tak pernah hilang dari kepala Jarot kecil. Mungkin kisah itu telah begitu merasuk dan menjadi kisah paling mengagumkan yang pernah didengarnya. Jarot kecil bahkan sampai bisa membayangkan, di antara senja yang meredup, laki-laki itu pergi menuju arah matahari, seakan-akan ia benar-benar berumah di sana. Setiap jejak yang ditinggalkannya perlahan-lahan akan membuat air merembes keluar. 
Lama-lama, jejak-jejak itu menjadi genangan-genangan kecil. Saat laki-laki itu nyaris tak lagi terlihat, genangan-genangan kecil itu mulai menyatu satu demi satu dan membentuk sungai kecil yang sesekali meliuk-liuk bagai ular.
Oleh karena itulah, setiap kali kawan-kawan mengeluhkan kekeringan di desa, ia akan selalu berujar, “Sabarlah, sebentar lagi akan datang orang dengan jejak kaki yang mengalirkan air untuk kita.”
Ilustrasi oleh Dede Wahyudin
Tapi, kawan-kawannya malah mencibir. Jarot kecil bisa memahami ketidakpercayaan mereka. Sudah puluhan kali ia mengucapkan kalimat itu, tapi laki-laki yang dimaksud tak pernah benar-benar datang.
Sampai akhirnya Jarot kecil beranjak remaja. Ia memutuskan untuk tak lagi mengucapkan kalimat itu. Walau di dalam hati, ia sebenarnya masih mengharapkan kehadiran laki-laki itu. Di kepala, ia masih menyimpan secara rinci kisah tentang laki-laki itu. Itu adalah kisah yang paling kerap diceritakan kakek, selepas ayahnya meninggal, terutama saat mereka tengah menahan diri dari kekeringan yang kian melanda desa.
Semakin dewasa, Jarot semakin mengerti apa yang sebenarnya terjadi di desanya. Kisah yang diceritakan sang kakek itu hanyalah semacam harapan, terutama sejak perusahaan air kemasan di pinggir desa semakin besar. Ia ingat, dulu, mereka hanya membeli beberapa hektare tanah dari penduduk desa. Tanah itu merupakan tanah di mana mata air mengalur tanpa henti. Namun kini, siapa nyana, 
Perusahaan itu berkembang pesat. Luas pabriknya bahkan hampir sama dengan luas desanya. Begitu terlihat mencolok karena seluruh bangunan tertutup tembok setinggi atap rumah. Belum lagi ratusan karyawan, yang berasal dari desa-desa di sekitar sini, selalu nampak berkerumun bagai semut hitam.
**
JAROT mengenang, dulu, desanya merupakan desa tersubur dari semua desa yang ada di sekitar sini. Ada sungai yang terus mengalir tepat membelah desa. Airnya jernih dengan ikan-ikan besar yang mudah ditangkap. Bersama kawan-kawannya, Jarot kerap menghabiskan waktu untuk berenang dan menyeser ikan. Kadang, ia bahkan membakar ikan untuk mengganjal perutnya.

Sekarang, semua itu tak lagi bisa terjadi. Jarot tak lagi ingat secara pasti sejak kapan sungai itu mulai mengering. Dulu, ia pernah menanyakan itu kepada kakeknya. Jawaban sang kakek sama seperti orang-orang tua lainnya, “Sungai hulang itu kehendak alam. Kehendak Gusti Allah. Tapi kita jangan pernah takut untuk kekurangan air karena mereka akan selalu memberikan air buat kita.”

Jarot tahu yang dimaksud “mereka” adalah perusahaan air kemasan itu. Ia ingat sekali, dulu, semasa ayahnya masih hidup dan menjadi kepala desa, pimpinan perusahaan itu datang meminta izin. Sebenarnya tak hanya perusahaan itu, tetapi ada ratusan perusahaan lainnya. Tapi, sebagian dari mereka hanya mengambil air secara teratur. 

Hanya perusahaan air kemasan inilah yang berniat membuat perusahaan di sini.

Mereka tak sekadar meminta izin. Mereka juga berjanji akan menerima para pemuda di desa ini bekerja di perusahaan. Selain itu, mereka juga akan membantu memakmurkan desa dengan puluhan program-program yang sudah dirancang. Karena janji-janji itulah, ayah dan juga warga desa lainnya kemudian ikhlas memberi izin.

Awalnya semua terasa indah.  Para karyawan perusahaan air kemasan itu, dibantu warga desa, segera membangun tempat-tempat penampungan air bersih dan juga MCK di beberapa sudut desa. Pipa-pipa besar untuk menunjang aliran air pun juga tak ketinggalan dibuat.

Namun, keadaan harmonis itu hanya berlangsung beberapa tahun. Semakin lama, seiring dengan berkembangnya perusahaan, air perlahan-lahan tak lagi mengalir ke pipa-pipa itu. Penampungan-penampungan pun mulai kosong. Satu per satu kemudian rusak, pipa-pipanya bahkan dipotong dan dicuri.

“Tak akan ada air lagi di sini!” seorang warga tua yang terkenal pemarah pernah berteriak kepada ayahnya. “Mereka memakai pompa raksasa untuk menyedot air tanah kita. Mereka terlalu serakah. Lihat beberapa tahun lagi, desa kita akan kekeringan!”

Tapi, teriakan itu seperti tak tergubris. Semua hanya berpikir, ini hanya kekeringan yang akan segera tergantikan oleh musim penghujan. Tapi siapa yang menyangka, ternyata pada tahun-tahun kemudian pun musim penghujan tak cukup bisa menyingkirkan kekeringan ini. Perlahan-lahan, sungai mulai surut, hilang seiring dengan ikan-ikannya yang pergi entah ke mana. Air sumur pun tak lagi bisa ditimba. Air seakan lenyap dari desa ini.

Jarot tahu sekali, di tengah kondisi seperti ini, ayahnya sempat mendatangi perusahaan air kemasan itu untuk menanyakan janji-janji perusahaan yang tak lagi ditepati. Namun, upaya itu tak membuahkan hasil. Hingga ayahnya kemudian meninggal lantaran memikirkan itu.

Sejak itulah kakeknya mulai menceritakan kisah tentang laki-laki yang jejak kakinya mampu mengeluarkan air. Namun, kini, kisah itu bagai sebuah dongeng bodoh bagi Jarot. Kadang, ia masih saja merutuki diri, bagaimana bisa kisah itu begitu merasuk dalam dirinya.

**

SEMUANYA memang sudah benar-benar berubah. Jarot telah dewasa dan warga telah pula menunjuknya sebagai kepala desa. Ini sebenarnya sama sekali tak diinginkan Jarot, tapi ia tak bisa menolak keinginan warga.

Mungkin, karena ia memang tak memiliki sifat seorang pemimpin, keadaan desa semakin kacau. Beberapa pemuda kini mulai berani melampiaskan kemarahan kepadanya, terutama yang bersangkutan dengan perusahaan  air kemasan itu. Mereka mulai menuntutnya agar mengusir perusahaan itu dari desa.

Tentu Jarot bisa mengerti keinginan ini. Namun, tentu saja, ia tak bisa meluluskan keinginan itu begitu saja. Ia tahu, perusahaan air kemasan itu dibekingi oleh beberapa pejabat dari kota. Maka yang bisa dilakukannya hanyalah membiarkan para pemuda itu berdemonstrasi di depan perusahaan itu. Ia menganggap ini sesuatu yang layak. Sebagai desa yang dulunya begitu makmur karena air yang melimpah, kini mereka bahkan harus beriuran untuk membeli air dari kota. Ini tentu sesuatu yang sangat ironis.

Apalagi perusahaan air kemasan itu dinilainya memang sudah begitu berlebihan. Semua bisa melihat bagaimana iklan-iklan mereka di televisi. Perusahaan itu begitu menampakkan diri bagai sosok malaikat yang membawa kejernihan air kepada masyarakat yang dahaga. Sungguh, setiap melihat iklan-iklan itu, Jarot selalu ingi menangis. Saat melihat orang-orang di seluruh penjuru negeri meminum air dari perusahaan air kemasan itu, ia merasa setiap kesegaran dari tegukan air di kerongkongan mereka adalah kehausan yang teramat sangat bagi kerongkongan orang-orang di desanya.

Tapi, malamnya, beberapa jam berselang dari demonstrasi itu, rumah Jarot didatangi oleh orang-orang tak dikenal. Awalnya ia tak bisa mengenali mereka sebagai orang-orang suruhan dari perusahaan air kemasan itu karena tak memakai seragam seperti biasanya. Namun, saat mereka mengungkapkan tujuan, jarot langusng mengerti. Terlebih saat salah satu dari mereka mengangsurkan sebuah tas kecil berisi lembaran-lembaran uang.

“Kami memohon sekali bantuan bapak,” seseorang berwajah ramah tersenyum padanya. “Bapak tentu bisa membuat para pemuda itu tak lagi berdemo. Ini adalah sedikit bantuan dari kami.”

**

ITU adalah kejadian beberapa tahun lalu.

Namun, keadaan desa ini nampaknya tetap seperti dulu. Beberapa tahun setelah itu, Jarot memang sudah digantikan oleh orang yang dinilainya lebih layak menjadi kepala desa. Namun, itu pun nampaknya tak membuat keadaan menjadi lebih baik. Bahkan, semakin tahun, desa ini semakin meranggas.

Meranggas seperti tubuh Jarot yang nampak lebih tua dari usianya. Kekurangan air selama bertahun-tahun seakan membuat tubuhnya lebih cepat mengeriput, lebih cepat pula sakit. Seperti sekarang ini, sudah hampir seminggu ia tak lagi bisa bangkit dari tempat tidurnya.

Beberapa tetangganya sempat menjenguk dan bercerita, “Walau kita masih kekeringan, tapi setidaknya sekarang tak ada lagi demo. Semua sepertinya sudah bisa disumpal dengan uang.”

Jarot terdiam. Matanya terasa berair. Hatinya meranggas seperti setiap jengkal tanah di desa ini. Ia ingat, dulu orang-orang itu pernah berniat memberinya tas berisi uang, tapi ia menolaknya dengan keras. Ini adalah sesuatu yang sudah dipikirkannya sejak dulu.  Masih diingatnya bagaimana ayahnya dulu, dengan diam-diam, menerima uang seperti itu. Sejak itulah ia mulai nampak begitu tak tenang dan selalu sakit-sakitan.

Kini, nampaknya penggantinya juga tak bisa menolak tawaran itu. INilah membuatnya ingin menangis. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Dulu saat ia menjadi kepala desa pun, ia tak bisa melakukan apa-apa?

Pada saat-saat seperti inilah, Jarot tiba-tiba teringat dengan kisah yang pernah diceritakan sang kakek dulu. Kisah tentang seorang laki-laki yang setiap bekas jejaknya mampu mengalirkan air. Entahlah, di hidupnya yang mungkin tak lama lagi, ia tiba-tiba berharap sekali kejadian itu benar-benar terjadi padanya.

Seperti sebuah mukjizat, saat Jarot baru saja hendak memejamkan mata, ia tiba-tiba seperti mendengar orang-orang berteriak-teriak di luar kamar. Awalnya, suara itu terdengar pelan, tetapi lama-kelamaan semakin keras, seakan-akan begitu dekat dengannya. Jarot dengan susah payah segera bangkit dan bergerak ke arah jendela. Tak dihiraukan suara istri dan anaknya yang mencoba menahan dirinya.

Ia seakan tak lagi mendengar suara apa pun, selain suara hiruk pikuk di luar sana. Dari jendela, dilihatnya senja mulai datang di kejauhan. Sinarnya masih menyilaukan mata, tetapi itu tetap membuatnya bisa melihat punggung laki-laki itu berjalan menjauh ke arah matahari.

Tiba-tiba, air mata Jarot lepas. Ia menangis tergugu. Matanya yang lamur seakan mulai melihat genangan-genangan kecil yang terbentuk satu demi satu di belakang punggung laki-laki itu. Lalu, dalam sesaat, genangan-genangan itu menyatu dan menjadi sungai kecil di depannya.***

Yudhi Herwibowo, aktif di buletin sastra Pawon, Solo.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yudhi Herwibowo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 31 Mei 2015

Beri Nilai-Bintang!