Jejak Kesangsian – Kutulis Puisi – Seperti Daun – Seperti Waktu

Karya . Dikliping tanggal 11 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Jejak Kesangsian

Aku selalu sangsi
tanda-tanda datang silih ganti
tak pernah sampai pada makna
dan aku tak bisa nerima aksioma
meski sudah berkali dicoba
sekian kali semua henti pada sia
Lakon apa yang akan dimainkan
untuk sampai henti kebimbangan
Seperti tanah musuh yang Hanoman datangi
kuawali seret langkah dengan kaki kiri
Kuziarahi diri yang karena keangkuhan saban hari
terasa asing dan sulit dikenali
Namun aku terjerembab
pada segala yang kutahu asal musabab
Aku termangu sejejer pohon jati berlaku kaku
dan ekkacauan ini meruntuhkan ziarah
serupa kuning daun nunjam tanah
Ai mak jang
kasunyatan macam apa yang
sedang aku perjuangkan
Tak puas khidmat dalam tapa
kulanjutkan langkah mengembara
Kukitari jalan tak rata
untuk sempurnakan dharma
Meski kadang tanda-tanda
tak mampu kubaca sampai makna
Perjalanan jadi sikap yang kuamalkan
untuk menemu hangat keharibaan
Yogya, 2015

Kutulis Puisi

Lantaran sepanjang wkatu suntuk
bergulat dalam dekap tata warna
berkamuflase menyesuai lakon
bermetamorfosis sebab kebutuhan
maka kutulis puisi
pertanda kewarasan perlu pasti
Lantaran derita datang bertubi
harapan doa melulu gagal terwujud
persuaan yang imaji
rindu kobar melebihi api
maka kutulis puisi
senantiasa setia menghibur diri

Seperti Daun

Seperti daun
rela gugur bersentuhan tanah
seperti daun
rela sujud menyembah pada Maha
seperti daun burai demi tumbuh tunas muda
seperti daun 
persiapkan diri jadi tiada
Maka
seperti daun, serahkan ranting
untuk tangkai-tangkai muda
Jejak Imaji, 2015

Seperti Waktu

Seperti waktu
logika dilampaui segala
gugur daun-daun, ranting mengering
pertanda perjalanan mendesing
kicau burung-burung, ringkik klakson
bergantian, menyerupai kehendak
menggelora dalam hati-benak
Udara dipenuhi moksida
kelakar dan teriak memenuhi udara
sabda dan dusta menjaring udara
angin dan udara memenuhi udara
Seperti waktu
lahir mati manusia
tak henti, tumbang satu tumbuh seribu
tangisan penyambutan, tangisan perpisahan
cuma saduran cerita-cerita tak berkesudah
seperti cerita-cerita yanng sudah-sudah
Iqbal H Saputra: lahir di Belitong, 8 November 1989. Pernah kuliah di UAD dan UGM Yogyakarta. Saat ini mengabdi di UAD, fakultas Sastra Budaya dan Komunikasi, sebagai teman belajar mahasiswa. Aktif di komunitas belajar sastra Jejak Imaji.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iqbal H Saputra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 11 Oktober 2015