Jenny & Mahdi

Karya . Dikliping tanggal 3 November 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
AKHIRNYA mereka memutuskan memakan kayu itu. Nyam, nyam. Merobeknya, menyentakkannya ke atas, mengunyahnya dengan geligi dari pensil. Lalu keanehan pun terjadi—tapi apakah memang tidak aneh sejak dari awal?
Senja tadi, kami melihat Sapi Pensil. Berbatang-batang pensil yang direkatkan sedemikian rupa membentuk tubuh seekor sapi. Binatang aneh itu berdiri di atas landasan kayu bercat hijau bersama kawanannya.
Pemandu pameran, seorang lelaki berambut putih bersetelan jas hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu merah di leher, menerangkan bahwa itu adalah karya besar Si Beringin Buta. Untuk pameran tunggal kali ini, menurut pemandu berpenampilan dingin itu, Sapi Pensillah “jagoan” pematung kita. Sapi-sapi ini seperti kubentuk dari tulang-tulangku sendiri, kata si pematung yang sampai ke telinga kami melalui mulut si pemandu.
Saat kami berjalan pulang di trotoar, aku mengatakan kepada Mahdi bahwa aku menyukai rambut putih orang itu.
“Kaupercaya yang dikatakannya?” tanyaku.
“Entahlah, kepribadian seniman biasanya memang aneh,” suaranya melompat dari kegelapan rimbun pohon yang kami papasi ke telingaku.
Aku menatap lurus ke merah lampu lalulintas di depan kami. Terlihat mobil-mobil berhenti.
Aku tertarik membayangkan pematung itu betul-betul menyusun tulang-tulangnya menjadi sapi. Mahdi telah hapal kebiasaanku, bila aku berkata “coba kubayangkan” atau mendengar seseorang berkata “bayangkan sejenak”, maka aku betul-betul akan menutup mata dan serius membayangkannya. Bagi dia itu aneh, ia yakin bila setiap orang aneh bisa menjadi seniman, maka aku akan menjadi seniman yang hebat.
“Jangan melakukannya sambil berjalan,” tegurnya sebelum menarik lenganku. Di samping kami selokan besar menganga.
Tapi aku tak peduli. Saat itu aku sedang membayangkan tanduk dari tulang, moncong dari tulang, panggul dari tulang. Patung itu mestinya disebut Sapi Tulang.
Sedikit lagi ke depan, ternyata kami akan berpapasan dengan seorang ibu-ibu gemuk, Mahdi kembali menarik lenganku dan tanpa sengaja kakiku menginjak kakinya.
“Lakukan itu di rumah,” sarannya.
“Tidak, sebentar lagi. Sekarang sapi-sapi tulang itu diletakkan di atas kayu berwarna hijau.”
Dia seolah tertawa kepada langit. “Mereka lalu makan?” katanya di tengah gelak tawa, ia mulai masuk ke dalam permainanku.
“Ya, mereka makan. Mereka memakan… hijau! Berlembar-lebar hijau rakus mereka lahap. Dikunyah-kunyah dan ditelan. Beberapa waktu setelahnya, hijau itu naik ke tenggorokannya dan dimamah lagi.”
Aku membuka mata dan kulihat ia menggeleng-geleng. Aku bertanya apakah ia percaya warna hijau itu akan habis? Sapi-sapi terus mengunyah dan menelannya.
“Itu lelucon,” ia menoleh ke arah kios kecil diterangi lampu neon di seberang jalan. Ia pasti teringat rokok.
“Mungkin saat warna itu habis mereka akan merokok,” katanya disusul nyengir kuda.
“Dan saat itu tulang-tulangnya akan jadi hitam, seperti tubuhmu,” timpalku cepat. Mendengarku, ia kontan menutup mulut, menahan tawanya. Aku memang tak pernah suka ia merokok di dekatku.
Hari ini Minggu, aku datang ke rumah kontrakannya pagi-pagi sekali, satu hari penuh kesempatan kami bersama sebelum enam hari lain membekap tubuh kami dalam kesibukan masing-masing. Tepat saat makan siang, ia melontarkan ajakan mengunjungi pameran itu. Dan dari pagi hingga saat ini tak sekali pun kulihat ia merokok.
Pada mulanya aku tak tertarik pada ajakannya. Masih kuingat ketika berangkat ke Gedung Kesenian aku masih sempat mencecarnya.
“Si Beringin Buta? Siapa dia?”
“Dia pematung terhebat kota ini, setidaknya sekarang. Jangan tanya nama aslinya, aku tak tahu.”
“Bagaimana karya-karyanya?”
“Kaulihat sajalah nanti,” jawabnya sedikit ketus. Tentu capek bila meladeniku, pertanyaanku beranak.
Aku diam dan ia diam. Ia mengamati kendaraan; aku menatap lurus ke depan. Mataku tertumbuk pada billboard bertuliskan himbauan membayar pajak. Mungkin karena melihat billboard itu dalam perjalanan pulang, ia teringat pertanyaanku sebelumnya.
“Nah, kau telah melihatnya. Bagaimana menurutmu?”
“Yah, selain patung perempuan bersayap dan Sapi Pensil itu, biasa saja menurutku. Bila dua patung itu dijadikan ukuran, ia memang hebat,” kataku ringan.
“Apakah kau pernah pergi ke pameran lain sebelumnya, sampai kau berani berkata begitu?”
“Tidak, ini pertama kali bagiku. Tapi bagaimana ya? Ini perasaanku saja, karya-karyanya memang biasa saja, tentu selain dua patung itu.”
“Kau sombong,” tuduhnya, “kau belum tentu bisa seperti dia.”
“Apakah aku mesti jadi pematung untuk bisa berpendapat tentang karyanya?” jawabku sewot.
“Ya ya ya…” kata-katanya terbang melenggak-lenggok bak kupu-kupu di depan wajahku, mengolok-olok apa yang dianggapnya kesombongan.
Aku tetap bersikukuh. Bagiku pribadi, karya pematung itu memang biasa saja, selain dua patung yang kusebutkan. Aku memang menyukai keduanya.
Meski tak dapat dikatakan serius, kami berdebat hingga ke depan rumah kontrakannya. Ia membuka gerendel pintu, masuk dan menyalakan lampu. Hari sudah malam, tapi hawa dalam rumah masihlah panas. Ia membuka jendela, angin pun masuk berhelai-helai.
“Jen,” ia berbisik seraya merapikan rambutku yang berombak tertiup angin. “Entah kenapa, meski telah bersama seharian, aku masih merasa kesepian. Menginaplah.”
Untuk pertama kalinya aku menginap. Kami hampir tak melakukan apa-apa kecuali bicara, bicara, dan bicara. Menyadari kepribadiannya yang tertutup, ia merasa beruntung aku tipe orang yang banyak bicara—meski aku tentu kadang membuatnya jengkel. Bibirku seperti pabrik kata-kata, baik yang bermakna maupun tidak.
Menjelang tengah malam, kami berbaring bersisian. Lampu telah dimatikannya. Jendela masih terbuka, tampak bulan melongok ke dalam.
Semata untuk membesarkan hatinya, aku menegaskan kesanku akan kunjungan tadi dengan bertanya kira-kira berapa harga Sapi Pensil itu. Ia terlihat sangat gembira; pilihannya tak salah dalam memanfaatkan hari Minggu kami.
“Entahlah,” ia menjawab. “Sapi itu karya pematung terkenal, pasti mahal. Kenapa?”
Aku menoleh dan tersenyum, kulihat matanya bicara. “Bukan apa-apa,” kataku, “aku hanya bertanya.”
“Bilang saja kau ingin memilikinya.”
Malam ini aku merasa sangat bahagia. Sinar bulan menembus kisi-kisi jendela dan membentuk garis panjang di pipi Mahdi. Bahkan meski tak tersenyum, ia selalu tampak seolah tersenyum.
“Aku tahu ia pematung terkenal. Pasti harganya selangit. Aku tak perlu memilikinya. Toh sapi-sapi itu telah tersimpan dalam kepalaku. Jika ingin melihatnya, aku tinggal membuka ingatanku dan melihat mereka hidup. Lihat saja,” kupejamkan mata dan mulai menikmati saat-saat ia menikmati kata-kataku.
“Lihat, sapi itu hidup!”
Mulanya hanya lima ekor. Sapi merah, kuning, hijau, biru, dan hitam. Tapi aku tak tahan untuk tidak menambahkan warna putih plafon di atas kami. Sapi-sapi itu merumput—aku kemudian meralatnya: karena bukannya memakan rumput, maka kupikir kata yang tepat adalah ‘mereka mewarna’. Sapi-sapi itu memakan warna hijau sampai habis. Karena terus-menerus disobek dengan geligi, warna hijau itu pun perlahan-lahan berubah sedikit kabur menjadi hijau muda, lalu menjadi hijau kusam yang lepek, lusuh, hingga mulai tampak keputih-putihan, sebelum habis tak bersisa. Sayang tak turun hujan, warna pun tak segera tumbuh. Dan kini tinggal warna cokelat kering landasan kayu. Namun, sapi-sapi itu tak kenyang-kenyang, mereka harus terus memakan sesuatu.
Aku membuka mata dan melihat matanya terpejam. Senang karena ia larut dalam igauanku, aku kembali memejamkan mata dan melanjutkan.
“Dan keanehan pun terjadi—“
Sapi-sapi itu makan seperti ulat daun. Sedikit demi sedikit, tapi tak berhenti. Dari berlubang-lubang kecil, kayu landasannya pelan-pelan menjadi bolong dengan lubang yang kian membesar. Mereka telah memakannya dari tengah, melebar menuju tepi. Dan lubang pun semakin besar, semakin besar, hingga kayu itu habis, lenyap, menyisakan jejak warna yang telah berpindah ke tubuh sapi-sapi. Kini kawanan itu seluruhnya berwarna cokelat kering, tampak seperti sapi asli. Enam ekor sapi cokelat. Entah kenapa aku penasaran bagaimana dengan kotoran mereka.
Sudut bibirku naik mendengar Mahdi terkikik. Di tengah suasana cerita, kata ‘kotoran’ tentu terdengar menggelikan. Aku membuka mata, kubenamkan mulutku di lehernya sambil berbisik usil, “Mungkin juga berwarna cokelat.” Hembusan napasnya tertawa putus-putus.
Di jendela, bulan telah pergi. Barangkali sebentar lagi hujan deras; hawa panas sejak tadi siang. Kamar pun seluruhnya gelap pekat. Menutup mata ataupun tidak, sama saja. Dalam kegelapan, suaraku bagai tanaman yang terus tumbuh, tumbuh, mengoceh dan mengoceh. Pelan-pelan, dalam ruang hitam yang diciptakan kegelapan, aku melihat sapi-sapi itu. Mereka datang satu per satu seiring ocehanku. Dari enam ekor menjadi belasan ekor, menjadi ratusan ekor, kemudian beribu ekor. Ruang hitam di atas kami dipenuhi mereka, yang berwarna cokelat kayu tapi memancarkan cahaya, hanya sesekali tampak samar garis-garis hitam tertarik dari belakang sana, bergoyang-goyang mengikuti gerak sapi-sapi yang bersenggolan.
Pada mulanya aku masih mengenali suaraku sendiri. Namun seiring waktu dan pengaruh kegelapan, aku semakin tak menyadarinya. Mungkin Mahdi kadang ikut bicara, tapi aku tak bisa lagi membedakan suaraku dan suaranya. Mungkin juga semua hanya suaraku saja, suara benakku, atau, bisa jadi kami telah terserap ke alam mimpi yang tentu memiliki suaranya sendiri.
“Sapi-sapi itu tak tahu mesti memakan apa lagi, di sekeliling mereka hanya kegelapan bak langit malam tak berbintang. Tak berpikir, karena konon mereka memang tak punya pikiran, insting mereka bicara: makan kegelapan, makan langit malam! Mereka merobek-robeknya dengan geligi, mengunyah-ngunyahnya, memamahnya, bersama potongan bintang-bintang yang rupanya tersembunyi di balik kelam langit sebelum itu. Seperti landasan kayu tadi, mereka makan dimulai dari tengah, bergerak ke tepi. Sedikit lagi ke tepi, segugusan awan tak luput dari gigi mereka. Awan-awan itu tercerai-berai seperti kapas. Setelah awan terakhir habis, tampaklah bulan, yang sebelumnya tak hilang melainkan bersembunyi di balik awan. Mungkin di antara makanan lain bulanlah yang terenak, karena tampak mereka berlomba memakan bulan itu. Bola cahaya itu menggelinding ke sana-kemari tersenggol tanduk-tanduk saat mereka berebutan. Tidak lama, bulan pun tergapai. Mereka merobeknya secebis demi secebis hingga habis. Kali ini bulan betul-betul hilang. Tak ada bintang, awan, bulan. Tak ada langit. Ruang yang sebelum itu ditempati langit seluruhnya bercahaya putih terang-benderang, yang bergerak keluar, terlalu kuat dan menyilaukan. Cahaya itu menerjang ribuan sapi, menerjang kedua lengan yang menutupi matamu, dan melesat ke balik dirimu.”
***
Dari Mahdi aku belajar bahwa dalam hidup kadang kita hanya perlu diam dan tak memaksakan diri. Setelah beberapa kali kunjunganku ke rumah sakit tempatnya dirawat, aku berhasil menyatukan potongan-potongan cerita lelaki murung itu sejak malam terakhir kami bersama.
Pagi itu, ia mengangkat lengan yang menutupi wajahnya dan melihat cahaya pertama di jendela. Di sampingnya, aku tak ada. Di atas meja, masih kuingat segelas kopi yang kusiapkan dengan piring-cangkir menangkupi. Ia pasti berpikir aku pulang pagi-pagi sekali untuk bersiap-siap pergi bekerja. Ia bangkit, siap memulai kesibukan hari Senin yang telah menanti.
Di tempat kerjanya, tempo-tempo apa yang kuanggap mimpi itu membayanginya. Saat berehat sejenak, ia juga teringat mimpi itu. Berlanjut hingga selepas magrib, saat ia lanjut bekerja paruh waktu di sebuah restoran Jepang. Dan dimulai malam itu, tidurnya tak bisa lepas dari mimpi yang sama. Esoknya, esok, dan esoknya lagi, mimpi yang sama berulang: Sapi Pensil!
Kamis sore saat pulang kerja ia tak tahan lagi. Bayangan mimpi itu telah menjadi obsesi. Aku tak bisa membelikan dia, tapi aku pasti bisa membuatnya sendiri, katanya kepada diri sendiri.
Ia kemudian membeli berbatang-batang pensil. Di rumahnya, ia menghabiskan waktu rehat sorenya dengan mencoba membuat Sapi Pensil, yang dilanjutkannya saat pulang kerja paruh waktu, dihabiskannya sebentang malam hingga pagi menjelang. Sampai berhari-hari kemudian, selain waktu-waktu bekerja, ia memusatkan perhatian merekatkan batang-batang pensil itu, namun tak pernah berhasil!
“Aku tak bisa menciptakan sapi seperti Si Beringin Buta, Jen,” keluhnya.
Ia mengumpat-umpat: pematung sialan!—ketika melihat pensil telah habis namun ia tak jua berhasil. Ia pun membeli pensil-pensil baru dan melewatkan hari-hari, termasuk hari Minggu dimana ia melarangku datang ke rumahnya, semata agar bisa fokus menciptakan patung sapi itu.
“Sapi sialan!” aku membayangkan saat ia mengumpat putus asa setelah membanting patung gagalnya ke dinding. Pensil-pensil lepas dari rekatannya, berhamburan memenuhi lantai. Tapi ia tak berhenti membeli pensil baru dan mencoba lagi dan lagi.
Minggu kedua setelah mimpi itu ia juga melarangku datang, dengan alasan ia akan ke pemakaman seorang kawannya. Padahal sepanjang hari ia menutup pintu dan memutar otak untuk membuat sapi-sapi dari pensil-pensil.
Hari Minggu berikutnya, aku bersikukuh datang. Tapi ponsel telah dinonaktifkannya. Aku berulangkali menelepon dan menggedor-gedor pintu tapi tak ditanggapi. Setelah aku pulang, ia meneleponku dan berdalih bahwa ia kelelahan dan tertidur pulas, setelah itu ia pergi menengok kerabatnya. Kesal aku dibuatnya, aku pun memutuskan kami takkan bertemu kecuali ia lebih dulu datang kepadaku.
Minggu-minggu berlalu tanpa sekali pun kami bertemu. Di hadapannya, berserakan pensil-pensil patah di lantai. Warna-warna menyalakan seisi kamar; warna-warna yang memusingkan. Pekerjaannya terganggu. Berulangkali atasannya, termasuk pemilik restoran tempat ia bekerja paruh waktu, menegurnya. Dan tibalah suatu hari ketika kewarasan rupanya telah naik ke ubun-ubunnya dan meloncat keluar dari kepalanya.
Entah berapa hari kemudian, keluarganya datang membawanya ke rumah sakit jiwa. Tiap pagi, perawat mendorongnya dengan kursi roda ke halaman yang dipenuhi pohon-pohon rimbun. Mahdi tak merasa bergerak, para perawat itu yang menggerakkannya. Sambil duduk, tangannya diam di pangkuan. Seorang kerabatnya pernah mengeluhkan tubuhnya yang sangat kurus. Tapi Mahdi menatap orang itu dengan tatapan kosong, ia tak merasa orang itu kerabatnya.
Dia masih mengerjakan sapi pensil itu. Dalam kepalanya, ia melihat dirinya yang masih terus mencoba, menyatukan pensil-pensil menjadi bentuk sapi. Dalam dunianya kini, pensil-pensil tak pernah habis; saat pensilnya berkurang, pensil-pensil baru pun berjatuhan dari langit ke halaman rumah sakit ini. Bila tiba saat itu, dia memekik dalam hati ke langit: hujan pensil! Dan mengumpulkannya satu-satu, dan mulai mencoba lagi dan lagi.
Lalu suatu hari ia berhasil.
Sapi Pensil seperti karya Si Beringin Buta berdiri gagah di hadapannya. Untuk pertama kali ia berdiri atas kehendak sendiri, mengamati sapi itu dari atas ke bawah, bawah ke atas. Terkesima.
Kata-kata pertama yang keluar dari mulut Mahdi adalah “Sapi Pensil”, saat dokter bertanya ia sedang melihat apa. Dokter itu menatap ke arah taman, melihat hijau pepohonan dan birunya langit. Dasar buta, kutuk Mahdi, dokter bersekolah tinggi-tinggi tapi tak bisa melihat, tak punya kepekaan melihat apa yang dilihatnya. Benak Mahdi gaduh oleh suara-suara kecaman.
Mulai saat itu ia selalu berhasil membuat Sapi Pensil. Tak butuh waktu lama Sapi Pensil baru akan berdiri di hadapannya, menambah koleksi patungnya di halaman luas rumah sakit ini. Meski demikian ia tak juga berhenti, dan tak pernah bosan.
Beberapa kali, setelah berusaha keras menerima guncangan dalam kehidupan kami itu, aku datang membesuknya. Tiap kali datang—seperti kali ini—sambil duduk bersisian di bangku taman, Mahdi menunjukkan karyanya kepadaku.
“Itu untukmu,” katanya tersenyum. Wajahnya terlihat sangat gembira. Sementara aku di sisinya, di seberang kegilaannya, masih percaya ia tak mendapatkan apa-apa. ***
Jakarta, 5 Oktober 2012
Muliadi Gf, lahir di Sulawesi Selatan. Sekarang tinggal di Jakata. 
Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Muliadi GF
[2] Pernah dimuat di “Jawa Pos” pada 2 November 2014