Jiwa Danau – Gurindam Pelayaran – Lelaki, Laut dan Tali – Teringat Sungai Sungi, Tabanan

Karya . Dikliping tanggal 18 Mei 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Blora

   keluarga mastoer

Karena minum dari akar kayu jati
maka kalian keras
memeluk bumi
Blra bumi manusia
Tanah panas matahari
Tapi lebih panas di luar sana
dan segalanya menanti
Di bukit-bukit kapur
Mungkin tak terlihat kapal-kapal datang dan pergi
di laut Jawa. Tapi lambungnya menghisap sampai jauh ke mata air Kali Lusi yang kalian punya
Maka lewat seutas jalan ke Rembang
Kalian pun datang ke laut, mengenal samudera
Segalanya bergelora, segalanya bergelora!
Tapi Kali Lusi, dada yang bergemuruh pertama kali
Janganlah ditinggalkan
Dan memang tak pernah kalian tinggalkan
Di sana, segalanya nyala
dalam darah dan urat tangan
Keras memeluk bumi kelahiran.
/Blora-Yogya, 2013-2014

Jiwa Danau

Apa yang lebih mengenal kemarau
Jika bukan danau surut terpanggang?
Siapa yang lebih mengenal rantau
Sebaik ibu mengenal jenjang?
Siapa yang lebih mengenal risau
Selain anak merindu pulang?
Siapa yang lebih mengenal danau
Jika bukan bapak membujuk bayang?
Begitulah, masing-masing mengenal 
sarang deritanya. Di batu hitam jalan ke danau
semua mengental di merah jantungnya.
/Prapat-Yogya, 2013-2014

Gurindam Pelayaran

Barang siapa mengenal samudera
Ibarat ia mengepal dunia
Barang siapa tegak di buritan
Siap sedialah ia dihentak topan
Barang siapa hendak mengukur dalamnya laut
Ke celah karang ke batu-batu dirinya mestilah ikut
Barangsiapa mengukur dahsyat seteru
Berkaca di laut tenang, tafakur kalbu
Barangsiapa dari jenis pecah-belah
Hati-hati naik kapal segala baja
Barangsiapa tertinggal di geladak kapal dunia
Mohon hubungi pengurus amal jariyah
Barangsiapa terbungkus dalam ikatan kain putih
Turunkan ia dengan sekoci, pertanda tiba di pelabuhan Illahi
/Yogya-Pekanbaru, 2013-2014

Teringat Sungai Sungi, Tabanan

Sungai Sungi yang dalam
Apa kabar lumbung-lumbung kencana
subak dan banjar, tanah Tabanan?
Masihkah segalanya terjaga
dengan mata bajak, sapi pilihan, kelenong genta
dan tabuh gamelan? Masihkah terbuka
tangan-tangan pengharapan
yang mengangkut hasil panen
setinggi kepala perempuan
yang berbaris di pematang
menyunggi bunga dan persembahan?
O, Sungai Sungi
beri aku jawaban: sunyi yang dalam!
/Yogya-Bali, 2013-2014

Bersama Anak

     -tahya
Kebosanan merangkak di dalam rumah
seperti seorang bocah. Ia tak tahu
karena bisa menangis dan tertawa
Tapi aku yang menunggui tahu
berapa lama lagi bisa mengajaknya bicara
melepasnya tegak berjalan
ke lain dunia. Karena itu aku yang menunggu
mulai belajar bahasa tangis dan tawa anak 
hingga kebosanan jadi teman berkelakar
paling mesra. Juga jika masa itu kelak tiba:
si anak benar-benar menyeberang ke lain dunia!
/Yogya 2013-2014

Lelaki, Laut dan Tali

Di tiang pasang dan gelombang
Lelaki melempari tali
Di laut, selalu ditemukan jalan kembali
/Benoa-Yogya, 1996-2014

Kerajaan Karang

Di langit
Bulan pun kekasih karang
/Madura-Yogya, 2013-2014



*) Raudal tanjung Banua, lahir di Lansano, kabupaten pesisir selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975.
Sekarang menetap di Yogyakarta, mengelola Komunitas Rumahlebah dan Akar Indonesia. Buku puisi terbarunya, Api Bawah Tanah.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raudal Tanjung Banua
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 18 Mei 2014