Josh

Karya . Dikliping tanggal 17 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Majalah Femina
TRING!
Facebook Messenger-ku berbunyi. Rachel mengirim pesan. 
“Kiranaa.. kamu tahu nggak, tadi aku bareng sama si cakep itu lagi!”
Segera kuketik balasan,
“O ya? Terus terus? Orangnya yang mana, sih?”
“Sebentar, ku kirim fotonya.”
“Oke.”
Sejurus kemudian HP-ku berbunyi. Rachel? Dari Amerika sengaja menelponku?
“Ya, Rachel? Kok pakai telepon segala, sih?”
“Kirana! Kamu tega ya!”
“Lho, aku tega kenapa?”
“Gara-gara kamu minta foto Josh, aku jadi salah kirim foto ke grup kerja kelompokku di Facebook. Hu…hu…hu… Bagaimana ini?”
“Ha…ha…ha…ha…ha! Kok bisa? How silly!”
Rachel sedang tergila-gila kepada teman sekelasnya di Master Program Public Policy sebuah universitas di New York yang bernama Josh. Belakangan ini topik apa pun yang kami bicarakan selalu dibelokkan ke arah Josh. Aku sampai tak heran atas kecerobohannya mengirim foto Josh ke grup chatting di Facebook karena jelas-jelas pikirannya hanya dipenuhi oleh Josh.
*****
     “Hi, there! Saya Josh, teman kuliah Rachel di New York tapi sebenarnya saya berasal dari Chicago.”
“Hi! Akhirnya kita bertemu juga. Kirana,” kataku singkat saat Josh dan Rachel berada di depanku. 
“Akhirnya ya. Soalnya sebelum liburan musim panas dia selalu heboh membicarakan ide untuk ke Indonesia,” Rachel pura-pura mengeluh padahal aku tahu persis dalam hati pasti ia senang.
“Jelas! Siapa yang tidak ingin berkunjung ke negeri eksotis seperti Indonesia?” Josh mengerling sambil tertawa renyah.
“Jelas Josh. Tunggu sampai saat keberangkatan kita ke Pulau Dewata. Kau akan terpesona.”
“Oh, can hardly wait!”
Hal yang tidak Rachel ketahui adalah sebenarnya tujuan utama Josh ke Indonesia adalah ingin bertemu denganku. Ya, sejak mendengar nama Josh disebut oleh Rachel aku jadi penasaran dan mencari tahu tentang dia. 
Aku tahu alamat e-mail Josh, akun Facebook, Twitter, LinkedIn bahkan sampai personal blognya. Aku tahu minat khususnya atas kebudayaan Asia. Dengan perlahan tapi pasti aku muncul di keseharian Josh, mulai dari menambahkannya sebagai teman, berkomentar positif di postingan blognya sampai kadangkala me-retweet kicauan Josh di Twitter. 
Aku pun sengaja menampilkan beberapa foto dan postingan lain yang kurancang sedemikian rupa untuk menarik perhatian Josh. Rachel sendiri tidak sampai terpikir ke arah sana. Selain karena kesibukan kuliahnya, Rachel memang bukan tipe yang seteliti itu, apalagi dengan hal yang berkaitan dengan lawan jenis. 
Langkahku sepertinya sukses, karena Josh kemudian mengutarakan keinginan untuk mengenal Indonesia lebih jauh kepada Rachel, alasan yang aku yakin hanya dibuat-buat. Josh sudah lama mengenal gelagat bahwa Rachel menyukainya. Ia pun menanggapi dengan santai, terkadang seperti memberi harapan namun di saat lain seolah acuh. 
Saat kami chatting Josh mengatakan bahwa ia sebenarnya tidak tertarik pada Rachel namun tetap menjaga hubungan baik dengannya karena faktor Asia tersebut. Dari perbincangan kami tampak jelas ia lebih menyukaiku ketimbang Rachel karena penampilanku lebih eksotis, khas Indonesia. Fisik Rachel memang lebih kebarat-baratan karena darah Jerman yang mengalir di tubuhnya. Sementara sosokku sangat Indonesia dengan kulit kuning langsat, lesung pipi dan rambut hitam. 
*****
“Kau tahu, aku sangat menikmati hijaunya sawah yang terbentang ini. Negerimu sungguh indah,” Josh tak hentinya bermain dengan lensa. 
“Aku yakin bukan hanya pemandangan yang membuatmu jauh-jauh ke sini.”
“Kau tahu alasan sebenarnya,” sesaat Josh mengalihkan pandangannya dari kamera dan menatapku dengan tatapan yang menawan. Dadaku berdesir hangat.
“Rachel tak tahu tentang semua ini kan?”
“Kau kira aku gila?” sahut Josh menyeringai. 
Hari-hari berikutnya merupakan hari penuh warna bagiku. Dan Rachel. Juga Josh. Sebuah sandiwara busuk memang, Josh berlaku manis pada Rachel dan bersikap lebih romantis lagi padaku saat Rachel tak ada. Rachel, dengan ketidakpeduliannya yang khas, sama sekali tak menaruh curiga atas hubunganku dengan Josh. Teman dekatku itu masih saja berbunga-bunga karena berdekatan dengan Josh. 
Liburan kami di Pulau Dewata diisi dengan kunjungan ke pengrajin perak di Celuk dan tak lupa mampir ke pengusaha sepatu dan tas kulit ternama seantero Bali. Tak hanya itu, liburan kami juga diwarnai dengan wisata kebudayaan dengan berkunjung ke pura dan menikmati tari-tarian yang dipersembahkan. Kami juga menyempatkan waktu menonton Arja, opera khas Bali. Aku masih ingat ekspresi wajah Josh saat menikmati Gaguntangan, gamelan Bali yang lirih, merdu dan membuai. 
Kami bukan hanya berkunjung, namun juga berinteraksi. Di sana kami menemukan Mang Ari alias Komang Ari, salah satu lakon Arja, berbincang dengan Desak Sri yang meminta dipanggil Saksri, dan masih banyak karakter yang kami temui selama liburan tersebut. 
Josh bagaikan menemukan teman bermain saat bercengkerama dengan teman-teman baru kami,  apalagi kebanyakan dari mereka mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan Josh. 
*****
“Maafkan aku, Kirana. Aku dan Tutsri sudah sangat dekat,” ucapan lirih keluar dari mulut Josh di minggu ketiga liburan kami. 
“Bukankah kamu bilang kalau kamu tertarik padaku? Aku yang menjadi alasan utamamu ke sini! Kamu bilang kamu menyukaiku karena aku sangat eksotis!”
“Ya benar. Saat itu aku tertarik padamu. Tapi setelah mengenal Tutsri.. Maafkan aku.”
*****
“Kirana, sudah tahu belum kalau Josh akan memperpanjang izin tinggalnya di sini dan tak akan kembali ke kampus semester mendatang?” pekik Rachel.
“Masa? Kenapa memangnya?” sahutku pura-pura terkejut walaupun sesungguhnya Josh sudah pernah menyinggung hal ini.
“Masih ingat penari Bali yang paling depan tengah dulu itu? Sewaktu kita mengunjungi Pura di Gianyar?”
“Ya, yang kita kunjungi setelah makan di warung dekat perajin perak, kan?”
“Ternyata Josh tertarik pada penari itu. Wanita itulah yang membuat Josh rela meninggalkan kehidupan akademisnya. Aku tak habis pikir apa yang ada di dalam pikiran Josh, apakah ia tak berpikir panjang mengenai masa depannya.”
Aku terdiam seribu bahasa sebelum pada akhirnya mampu memberi tanggapan seadanya. Sungguh mood-ku sedang berantakan sepulang liburan itu, ditambah berita dari Rachel. 
Pada akhirnya aku yang bermaksud main belakang justru harus menerima kenyataan bahwa lawan mainku juga memainkan permainan baru di belakangku. Josh terpukau pada Ketut Sri atau yang biasa dipanggil dengan panggilan manis Tutsri, perajin sepatu yang juga penari Pendet di Pura yang pernah kami kunjungi. Sosok langsing, berkulit sawo matang serta pemilik lirikan mata maut sang penari bernama Tutsri itu mampu menawan hati Josh, meninggalkan hatiku porak poranda. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya pembaca Femina a/n Putri Utaminingtyas
[2] Pernah termuat di situs www.femina.co.id –namun bukan merupakan karya yang terbit di Majalah Femina Cetak