Juru Kunci Makam Eyang Sakri

Karya . Dikliping tanggal 29 November 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
”BILA mau, sekitar pukul 10.00 nanti,
saya antar Bapak ke makam
Eyang Sakri!” Kutengok jam dinding. Baru pukul 08.30. Masih ada
waktu 90 menit untuk menandatangani lembar disposisi. Suasana kantor sepi. Hanya terlihat empat
guru yang sedang suntuk dengan kegiatan masing-masing. Sedang satu-satunya tata usaha, Pak
Slameto, kursinya kosong, Entah kemana dia. Sejak
menghadap dan menawarkan diri untuk mengantarku ke makam Eyang Sakri, tak terlihat lagi
sosoknya. 
Lagi, kutengok jam dinding. Waktu terasa berjalan lambat. Kubuka jendela ruang kerja. Serentak
angin menerobos masuk, mengantarkan hawa sejuk
pegunungan, Kuhirup udara ruangan dengan sek-
sama. Segar bukan kepalang. Kesegaran yang sungguh sulit kudapatkan di wilayah kota 
Baru semnggu ini aku menjadi guru yang diberi
tugas tambahan sebagai kepala sekolah di SMP itu.
SMP Terbuka R, terletak di sebelah barat kaki gunung M, masuk wilayah adiministrasi kabupaten K.
Sebuah tempat yang berjarak kurang lebih 24 kilo
meter dari pusat kota. Di situ banyak penganut Hindu
– Budha. Konon kabarnya mereka adalah keturunan
pemeluk agama tersebut yang dahulu lebih memilih
menepi di kaki gunung daripada masuk Islam 
”Bapak ditunggu Pak Slameto di makam Eyang
Sakri,” kata Mas Har, pesuruh sekolah. 
”Lho, katanya mau mengantar?” 
”Ini saya baru saja di-SMS beliau, Pak.” 
”Letak makam Eyang Sakri di mana, Mas?” 
”Dari sini dekat, Pak. Nanti saya antar.” 
Pukul 09.55, kami, aku dan Mas Har, sampai di
makam Eyang Sakri. Ternyata letaknya tidak terlalu
jauh, kurang lebih sepuluh menit jalan kaki dari
kantorku. Suasana cukup ramai. Belasan peziarah
terlihat sedang menunggu gilran masuk ke ruang
makam. 
”Maaf, Pak, tadi saya berangkat duluan. Saya
mesti ambil nomor antrean,” kata Pak Slameto,
menyongsong kedatanganku. 
”Iya, tidak apa-apa, Pak.” 
”Bapak dapat nomor antrean lima,” jelas Pak
Slameto sembari menyerahkan sebentuk potongan
kardus bernomor dan sebuah bungkusan daun
pisang. 
”Apa itu, Pak?” tanyaku. Kuarahkan pandang
mata ke bungkusan yang disodorkan Pak Slameto.
Pak Slameto tersenyum. 
”Ini kembang telon, Pak,” 
”Mengapa harus bawa bunga segala?” 
”Iya, Pak. Tata caranya memang begitu.” 
Kuterima bungkusan itu dengan ragu. Tidakkah
ini tergolong perbuatan syirik? Sejenak aku merenung. Tetapi segera kupupus keraguan itu dengan
mengingat pesan ibu. Berpuluh tahun lalu. manakala
aku akan berangkat menjalani tugas sebagai guru
di luar kota kelahiranku, ibu berpesan, di mana pun
aku berada mesti pandai-pandai menempatkan diri.
Di mana tanah dipijak di situ langit dijunjung.
Sekejap membayang wajah ibu yang teduh. 
”Saya kembali ke sekolah, Pak.” Suara Pak
Slameto membuyarkan lamunanku. 
”Ya, silakan.” 
”Nanti, Bapak saya jemput?” 
”Tidah usah.” 
Sambil menunggu giliran masuk ke ruang
makam, iseng aku ngobrol dengan beberapa orang
di sebelahku. Mereka ternyata banyak yang datang
dari luar kota. Ada yang datang dari kota S, ibu
kota, provinsi. Ada juga yang datang dari kota-kota
kabupaten sekitar, seperti kota D, J, P, bahkan R.
Macam-macam keinginan yang mereka bawa.
Tetapi rata-rata mereka menginginkan naik pangkat
dan ketenangan hidup. Sedang aku? Apa yang akan
kuminta di makam Eyang Sakri itu? 
Giliranku pun tiba. Kumasuki ruang makam
dengan langkah pelahan. Begitu memasuki ambang
pintu terentak asap kemenyan menyergapku. Aku terbatuk. Kuambil sapu tangan untuk menutup hidung. 
”Silakan, Pak.” Seorang lelaki menyambutku. Di
bawah cahaya temaram ruangan, kuamati lelaki itu,
belum begitu tua. Mungkin setahun dua lebih tua
dariku. Agaknya dialah sang juru kunci. Saat itu dia
duduk di sisi dalam makam. Makam yang tidak
umum, lebih panjang dari makam yang biasa kulihat. Perkiraanku panjang makam sekitar 3 meter. Di
tengah makam terlihat kemenyan yang masih
mengepul. Lelehannya menyisakan onggokan yang
membatu. Di kiri kanan lelehan kemenyan terlihat
sebaran memanjang bunga tiga warna yang cukup
Oleh Mukti Sutarman Espe
tebal. 
Belum sepenuhnya aku duduk di hadapannya,
lalki-laki itu sudah bertanya, 
”Apa yang akan Bapak minta?” Aku terdiam.
Bingung. Harus kujawab bagaimana pertanyaan itu?
Aku datang ke situ bukan dengan maksud meminta
sesuatu. Aku datang sekadar memenuhi anjuran dan
permintaan para tetua desa. 
”Eyang Sakri, cikal bakal desa ini, Nak. Jadi,
saya anjurkan penjenengan ziarah ke makamnya.
Bukan apa-apa. Untuk memperkenalkan diri dan
meminta agar selama bekerja di daerah ini
semuanya lancar dan selamat,” saran mbah Jan,
sesepuh desa, saat aku berkunjung ke rumahnya, di
hari ketiga aku bertugas di sekolah itu. Anjuran
senada aku terima juga dari beberapa tetua yang
kutemui dalam kesempatan berbeda. 
”Apa yang akan Bapak minta?” tanya pak juri
kunci dengan suara kurang sabar. 
Aku tergagap, ”Saya tidak meminta apa-apa,
Mbah,” jawabku. Tegas.
Di luar dugaanku, juri kunci yang belakangan
kuketahui bernama Mbah Ban itu tersenyum lebar
hingga giginya yang tumbuh tidak rata tampak jelas.
Mbah Ban menyulut sebatang rokok. 
”Iya, tidak apa-apa, Pak. Banyak orang seperti sampaian; datang kemari sekadar datang, tidak tahu apa yang diinginkan. Bingung!” ujarnya. 
”Tapi saya datang ke sini bukan karena bingung, Mbah” 
”Kalau tidak bingung, kenapa Bapak tak bisa menjawab pertanyaanku?” 
Segera kujelaskan dengan singkat mengapa aku datang ke makam itu. Kusebut beberapa nama tetua dan tokoh masyarakat desa yang telah mendorongku ke situ. 
Kepala Mbah Ban tampak mengangguk-angguk. Lalu katanya, 
”Jadi, Bapak ini kepala sekolah baru di SMP?” 
Aku tersenyum. 
”Cucu saya juga sekolah di situ, Pak.” 
Mbah Ban mengusap wajahnya. Semenit dua dia terdiam. Setelah mematikan rokoknya dan menanyakan siapa nama dan di mana rumahku, dengan suara pelan dia bercerita tentang makam yang ada di hadapan kami, tentang sejarah desanya. 
Dia ceritakan, bahwa desa R di zaman dahulu adalah tempat pertapaan tokoh-pewayangan dan tokoh sejarah terkenal. 
Di desa itu terdapat makam Eyang Abiyoso, Eyang Sakri, Eyang Semar, Eyang Hanoman. Selain itu di situ terdapat juga petilasan Sunan Kalijaga dan gua yang pernah dijadikan pertapaan Bung Karno. Di desa itu pantang besar, orang, saat punya hajad, menggelar pertunjukkan wayang. Apalagi menggelar pertunjukkan, mendengarkan cerita wayang dari kaset, dari cakram disc, dari radio juga ditabukan. Suatu ketika, masih cerita Mbah Ban, pernah ada penduduk pendatang yang saat mengkhitankan anaknnya, nekad menggelar pertunjukkan wayang kulit. Apa yang terjadI? Tengah malam, saat pertunjukkan sedang berlangsung datang gulungan kabut tebal dan hujan deras disertai gelegar petir. Tidak berhenti di situ, beberapa hari sesudahnya, si empunya hajat, dalang serta sinden meninggal secara mendadak..
Sekalipun sebelumnya sudah beberapa kali mendengar cerita itu aku menahan diri tidak bereaksi apa pun. selain diam dan mendengarkan. Akan tetapi, bila boleh jujur aku sudah tidak nyaman dan tidak konsentrasi mendengar cerita panjang Mbah Ban itu. Beberapa kali aku mengubah posisi duduk. Dan tampaknya Mbah Ban menangkap ketidaknyamananku.
”Titip cucu saya, Pak,” katanya sembari menyebut nama dan kelas cucunya. Aku hanya mengangguk. 
*** 
”Siswa kita ada yang sakit, Pak. Sudah seminggu
ini tidak masuk,” kata Bu Ning, selah seorang guru,
wali kelas 8, Jumat pagi, sebelum waktu kegiatan
senam bersama dimulai. 
”Sakit apa, Bu?” 
”Kemasukkan roh halus, Pak.” 
Aku tertawa, 
”Bu Ning tidak sedang bercanda bukan?” 
”Saya serius, Pak. Saat saya home visit kemarin,
kakeknya mengatakan begitu.” 
”Terus kondisi anak itu bagaimana?” 
”Saat saya tengok kemarin, kondisinya cukup
memprihatinkan, Pak.” 
”Siapa namanya, Bu?”
”Sabari, Pak. Dia cucu Mbah Ban, juru kunci
makam Eyang Sakri.” 
”Apakah dia sudah tidak punya orang tua kandung, Bu?” 
”Ayahnya sudah meninggal, Pak. Sedang ibnya
bekerja di Arab Saudi.” 
Berbekal nama dan alamat, Sabtu pagi aku
bersama Mas Har bergegas menuju rumah murid
yang konon kemasukkan roh halus itu. Pekerjaan
yang boleh jadi jarang dilakukan oleh kepala sekolah di kota; mendatangi rumah muridnya. Tapi di
daerah pegunungan, di desa tempat aku bertugas
kini, itu hal yang lumrah dan biasa saja. 
Di depan sebuah rumah sederhana bercat hijau
yang agak terpencil kami berhenti. Suasana sunyi.
Mas Har membuka pintu pagar yang tdk terkunci.
Dari dalam rumah terdengar sayup suara gamelan
bertalu; gending sampak yang biasa mengiringi adegan perang dalam pertunjukkan wyang kulit. 
Beberapa kali Mas Har mengetuk pintu dan berucap salam, tidak ada jawaban. Mas Har mencoba
sedikit mendorong daun pintu, berhasil Rupanya
pintu tidak terkunci. Dan begitu daun pintu terbuka
lebar, di layar televisi yang terdapat di ruang tamu,
aku dan Mas har melihat dengan jelas tayangan
video pertunjukkan wayang kulit. Tanpa komando
aku dan Mas Har saling pandang. 
Beberapa menit kami berdiri di ambang pintu,
sebelum kemudian terdengar suara langkah gegas
dari ruang dalam. Mbah Ban muncul dari pintu
tengah. Begitu melihat kami, dengan tergopoh
segera dimatikannya tombol player video compaq
disc yang terletak di rak kedua sebuah almari kecil.
Wajah Mbah Ban tampak memutih.. 
”O, Pak Guru? Mari, Pak. Silakan masuk!” Suara
Mbah Ban bergetar. Dari raut wajah dan gerak-gerik tubuhnya aku tahu kalau hatinya sedang
gelisah. 
Aku dan Mas Har masuk ke ruang tamu. Setelah
berbasa-basi secukupnya, kuutarakan maksud
kedatanganku. 
”Lho, tadi Sabari sudah berangkat sekolah kok,
Pak.” 
”Tapi di sekolah tidak ada, Mbah,” kata Mas Har. 
Mbah Ban menggerutu panjang. Samar
kutangkap dengar dia sedang menyerapahi cucunya.
Aku dan Mas Har terdiam. Mbah Ban menghela
napas. Sesaat sunyi menyingkup ruangan. Dari luar
terdengar jelas suara gemericik air sungai yang ruas
alir alurnya melintas beberapa meteri di samping
kiri rumah juri kunci itu. 
Setelah tak ada lagi hal penting yang terbicarakan, aku pamit. Mbah Ban menjabat tanganku
dengan sangat erat. Saat itu kurasakan dingin sekali
telapak tangannya. Sebelum aku meninggalkan
rumahnya dia membisikkan sesuatu ke telingaku.
Aku mengangguk. 
Senin pagi, belum limat menit memasuki ruang
kantor, Mas Har memasuki ruang kerjaku. Dengan
suara serak dia mengabarkan bahwa Mbah Ban
meninggal karena kecelakaan, sepeda motonyar
masuk jurang. 
”Saya minta maaf, Pak. Saya ikut bersalah,” kata
Mas Har sembari menunduk. 
”lho, apa hubunganmu dengan kematian Mbah
Ban, Mas?” 
”Saya tidak bisa menjaga pesan, Bapak! Saya
sudah menceritakan apa yang kita lihat di rumah
Mbah Ban kemarin kepada teman dekat.” 
Tanpa kuminta, dengan suara terbata-bata Mas
Har bercerita. Sabtu kemarin, sepulang dari rumah
Mbah Ban, dia sampaikan apa yang dilihat di sana
kepada teman dekatnya. Sekalipun sudah dipesan
agar jangan menceritakan kepada siapa pun, teman
dekat Mas Har itu abai. Maka kabar tentang Mbah
Ban yang diam-diam suka menonton video pertunjukkan wayang itu pun tanpa dapat dbendung meyebar dari mulut ke mulut. 
Desa pun jadi geger. Gunjingan miring dan tatap
mata sinis dengan kejam mendera Mbah Ban. Bebe-
rapa puluh pemuda bahkan mendatangi rumah kepala
desa. Mereka minta agar Mbah Ban segera diusir. Sebab mereka khawatir perbuatannya itu akan mendatangkan kutuk dan bencana bagi seluruh warga desa. 
”Begitulah, Pak. Belum lagi kepala desa memanggilnya, tadi pagi seorang pencari rumput menemukan Mbah Ban di sebuah jurang dalam keadaan
sudah meninggal.” Suara Mas Har terdengar tertahan. Mukanya terus menunduk. Kentara sekali bila
dia sedang dililit sesal yang amat sangat. Beberapa
butir air mata kulihat jelas leleh dari matanya. 
”Sekali lagi, saya minta maaf, Pak. Saya tidak
bisa memegang pesan Bapak.” Mas Har mengusap
air matanya dengan punggung tangan. 
Beberapa saat aku terdiam. Pikiranku kosong.
Apa yang mesti kulakukan? 
”Apa mau dikata, semua sudah terjadi. Mungkin
memang mesti begitulah jalan hidup Mbah Ban.
Saya harap sampaian bisa mengambil pelajaran dari
kejadian itu,” kataku pelahan. Susah payah kutekan
perasaan kecewa dan marah yang menekan dada. 
Seminggu setelah pemakaman Mbah Ban,
seorang perempuan setengah baya menemuiku di
sekolah. Dia mengaku saudara sepupu Mbah Ban.
Meskipun kupersilakan berkali-kali, dia tetap menolak untuk duduk. Dengan tetap berdiri dia memberikan lipatan kertas yang lumayan lusuh
kepadaku. 
”Ini titipan dari almarhum Mbah Ban, Pak,”
katanya sembari buru-buru mohon pamit. 
Dengan cepat kubuka lipatan kertas itu dan kubaca isinya. 
”Pak guru, saya terpaksa mengambil jalan pendek, mengakhiri hidup dengan cara terjun ke jurang.
Saya tidak kuat menahan malu. Saya tidak menduga
bapak tega menceritakan tayangan pertunjukkan
wayang itu kepada orang lain. Saya titip Sabari,
cucu saya.” 
Aliran darah di sekujur tubuhku serasa mendadak
berhenti. Rasa perih tak alang kepalang menyodok-nyodok ulu hatiku. Aku. (92) 
Kudus, 2016 

Mukti Sutarman Espe, penyair dan cerpenis tinggal di Kudus. Sejumlah karya termuat di berbagai media nasional mau pun lokal, serta terangkum dalam beberapa antologi puisi. (*)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mukti Sutarman Espe

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 27 November 2016