Kabut Asap – Purnama Merah – Raksasa – Krakatau – Maut – Namanya Angin Sorga

Karya . Dikliping tanggal 25 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Kabut Asap 

Kabut asap mencekik bangsaku
Memanggang langit hingga mengabu
Meringkus matahari
adi tak jelas siang atau pagi

Kabut asap mengusir satwa-satwa
Ke negeri-negeri manca
Mereka pun dibingkai kaca
Menjadi cinderamata

Palangkaraya, 2015 

Purnama Merah 

Purnama merah
Seperti tersiram darah
Langit jadi menakutkan
Terbakar bersama gunung dan hutan

Purnama merah
Di langit merah
Berkaca di lautan
Menggigil kesepian

Purnama merah
Tiba-tiba pecah
Malam pun gulita
Ditelan asap siapa?

Pelabuhan Ratu, 2015 

Raksasa 

Raksasa itu pastilah sangat besar
Menelan gunung dan semak belukar
Menelan hutan hingga ranggas
Menenggak air sungai hingga tuntas

Raksasa itu pastilah besar amat
Hingga tak pernah bisa dijerat
Seperti gajah di pelupuk mata
Terus menerus membutakan kita

Raksasa itu datang dari barat
Jubahnya berkelebat-kelebat
Menciptakan badai dahsyat

Raksasa itu
Jejaknya berasap selalu
Membantai bangsaku
Satu persatu.

Bandara Polonia, 2015 

Krakatau

Di sini aku menemukan cinta
Berjatuhan dari langit biru
Malam kehilangan purnama
Angin hangat-hangat kuku

Di sini aku pun kehilangan cinta
Ketika udara tiba-tiba berasap putih
Pohon-pohon terluka
Tanpa merintih-rintih.

Selat Sunda, 2015 

Maut 

Benarkah maut itu seperti jembatan
Menghubungkan manusia dan Tuhan?
Tapi kenapa
Maut selalu membawa duka?

Oh, betapa cerdik mereka
Yang suka mengajak berdoa
Ketika ada yang mati
Pasti ditaburi mawar melati.

Tanah Kusir, 2015 

Namanya Angin Sorga 

Namanya angin sorga
Ketika calon pemimpin bicara
Di depan rakyat jelata
Tentang masa depan bangsa

Namanya angin sorga
Tak akan pernah nyata
Selalu seperti fatamorgana

Namanya angin sorga
Bersarang dalam dusta.

Bundaran HI, 2015

Nazil Muhsinin, penulis tinggal di Bogor. Selain puisi, ia juga menulis prosa dan esai. Antologi puisinya Cermin Cembung (2009) dan Apel Impor yang Membusuk (2014). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nazil Muhsinin 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 25 Oktober 2015