Kabut Asap

Karya . Dikliping tanggal 11 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

TELAH tiga kali Meila bermimpi hal serupa. Mimpi yang menurutnya sangat menakutkan sekaligus mengerikan. Di alam mimpinya, ia melihat asap menggumpal, membumbung melalui atap rumahnya. Bahkan, mimpi-mimpi itu seperti sebuah tayangan sinetron bersambung. Saling berkaitan satu sama lain dan tampak begitu runtut.

Pada mimpi pertama, Meila sangat terkejut saat melihat gumpalan asap yang muncul secara tiba-tiba dari atap rumahnya. Saat itu Meila tengah bermain ayunan sendirian di halaman rumahnya yang cukup luas dipenuhi tanaman bunga aneka warna. Kedua mata Meila seketika membola saat tiba-tiba melihat asap mengepul tinggi dan terus meninggi, membentuk gumpalan yang kian membesar keluar melalui bagian tengah atap rumahnya.

“Jangan-jangan rumahku kebakaran!” Itulah kalimat pertama yang menyeruak benak Meila secara spontan. Ia pun segera berlari. Menghambur ke dalam rumah yang tidak terkunci seraya berteriak memanggil Bik Inah, pembantu paruh baya yang telah bekerja di rumahnya sejak ia masih bayi.

“Bik Inaah! Rumah kebakaran, Biikk!!”

Namun, rumah tampak begitu sepi. Kosong. Lengang. Meila tak mendapati Bik Inah di dalam rumah. Pun, tak ia temukan sumber asap di sana. Hei, apakah ada yang salah dengan penglihatanku? Batin Meila, merasa aneh sendiri seraya berbalik dan berlari ke luar rumah.

Dan, Meila pun tercengang. Bibirnya sampai melongo saat kepalanya tengadah tetapi tak ia temui gumpalan asap itu lagi. Pada saat itulah Meila merasa ada yang menepuk-nepuk pelan pundaknya.

“Non Meila, udah jam setengah enam tuh, nanti sekolahnya kesiangan,” suara yang sangat akrab di telinga Meila. Dan, Meila pun membuka kelopak matanya yang masih berasa lengket dan berat. Ditatapnya Bik Inah yang tengah tersenyum lembut sambil memegang gagang sapu. Tiap pagi dan sore Bik Inah memang bertugas membersihkan kamar Meila.

“Papa sama Mama udah berangkat, Bik?” tanya Meila seraya bangkit dengan malas dari ranjangnya.

“Sudah, Non.”

Ah, nyaris tiap pagi, Meila tak pernah merasai kebersamaan bersama kedua orang tuanya di rumah. Bahkan, untuk membangunkan tidurnya setiap pagi, Mama tak pernah ada waktu. Sebagai wanita karier, Mama memang tak kalah sibuk dengan Papa. Selalu berangkat ke kantor lebih pagi, bahkan sebelum azan Subuh berkumandang dari masjid di ujung kompleks. Alasannya, berangkat kesiangan sedikit saja, jalanan dipastikan macet total.

Dan, Meila pun kembali teringat mimpinya barusan. Tentang gumpalan asap yang bersumber dari atap rumahnya.

“Bik Inah baruan lihat asap nggak di rumah ini?

“Asap?” Bik Inah menghentikan aktivitas menyapunya sejenak dan menatap aneh bocah perempuan kelas 5 SD di depannya.

Ah, lupakan saja, Bik,” Meila mengibaskan tangan dan bergegas menuju kamar mandi.

***

PADA mimpi kedua, Meila kembali melihat gumpalan asap itu lagi. Tapi kali ini gumpalan asap tersebut keluar melalui seluruh atap rumahnya tanpa terkecuali. Sebelum asap itu mucul, ia tengah duduk termenung di atas ayunan sambil membayangkan kapan bisa diajak berlibur oleh orang tuanya ke tempat-tempat wisata yang banyak tersebar di kota ini.

Jujur, selama ini ia merasa sangat kesepian. Ia selalu ditikam rasa iri ketika teman-teman sekolahnya bercerita perihal liburan mereka bersama orang tua dan saudara masing-masing. Ah, bahkan di hari libur, orang tua Meila tak ada di rumah. Sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Hmm, seandainya aku punya saudara, tentu aku nggak akan merasa kesepian tinggal di rumah sebesar itu. Gumam Meila dalam hati. Selama ini, ketika Papa dan Mama bekerja, ia hanya ditemani Bik Inah dan Pak Lani, sopir yang bekerja di rumahnya sejak ia duduk di bangku kelas 2 SD dan rutin mengantar ke sekolah tiap pagi sekaligus menjemputnya saat jam pelajaran berakhir.

Ketika duduk melamun itulah, Meila tiba-tiba dikejutkan munculnya asap dari seluruh atap rumahnya tanpa terkecuali. Dalam hitungan detik, gumpalan asap itu keluar lebih banyak dan cepat. Meila panik bukan main, sampai-sampai tak berani masuk ke rumah yang saat itu telah terkepung oleh gumpalan asap. Yang bisa ia lakukan hanyalah memanggil-manggil Papa, Mama, Bik Inah, dan Pak Lani berkali-kali seraya berteriak minta tolong. Namun, orang yang dipanggil tak kunjung keluar. Bahkan, tak ada seorang pun yang datang menolongnya. Sementara, asap itu terus membumbung, membentuk gumpalan tebal, bahkan menyebar luas hingga ke berbagai penjuru kota.

“Kebakaran! Kebakaran! Tolooongg!” teriak Meila sambil berlari ke sana-kemari saking paniknya,

“Non! Non Meila, bangun Non,” suara yang begitu akrab di telinga Meila kembali menyadarkan mimpi buruknya.

“Jam berapa ini, Bik?” Meila mengucek-ucek kedua kelopak matanya.

“Setengah dua belas, Non.”

“Papa dan Mama udah pulang, Bik?”

“Sudah, Non, tapi sekarang mereka sedang istirahat.”

Bahkan saat malam hari, Meila tak sempat bersua dengan kedua orang tuanya yang baru pulang ke rumah ketika malam telah begitu larut.

“Non, habis nonton film apa sih, kok mimpinya ngeri amat?”

Pertanyaan Bik Inah sontak mengingatkan mimpinya barusan, membuat tubuh Meila tiba-tiba ditelikung rinding.

***

PADA mimpi ketiga, Meila tengah berlari keluar dari pintu gerbang rumahnya yang telah dipenuhi kabut asap hingga membuat pernapasannya terasa sesak. Di luar pintu gerbang, ia melihat puluhan orang yang juga tengah panik sambil membekap mulut dan hidung masing-masing. Mereka tergesa berjalan, sebagian berlari lintang pukang demi menghindari kabut asap yang kian menebal hingga jarak pandang hanya seratusan meter.

Entah, telah berapa lama Meila berjalan tergesa bersama gerombolan orang yang terus membekap erat mulut dan hidung mereka. Asap tebal yang menyusup ke dalam setiap rumah warga membuat para penghuninya sulit bernapas dan memaksa mereka keluar rumah, berjalan tak tentu arah, berharap menemukan lokasi berudara segar yang dapat membuat mereka terbebas dari kepungan kabut asap.

Meila bahkan tecengang tak kepalang saat bertemu gerombolan binantang beraneka ragam, seperti kera, rusa, kancil, kelinci, beruang, yang juga terlihat sangat panik sambil berlarian ke sana-kemari menghindari kabut asap yang kian menebal. Dan, Meila membelalakkan mata tak percaya saat binatang-binatang tak berdosa itu ternyata dapat berbicara dan mengobrol satu sama lain layaknya manusia. Dari pembicaraan tersebut, Meila jadi tahu bahwa mereka keluar dan berlarian dari hutan setelah hutan yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka dibakar oleh entah siapa.

Ketika Meila nyaris pingsan akibat kesulitan bernapas, tiba-tiba ia mendengar suara cekakak tawa hingga membuatnya terjaga dari alam mimpinya yang begitu mengerikan. Sambil mengucek kelopak matanya yang berasa lengket, Meila menatap jam beker putih bulat di meja belajarnya. Pukul dua dini hari.

***

SUARA tawa itu kembali bergema. Merobek malam yang hening. Meila lekas menajamkan pendengarannya seraya bangkit dari tempat tidur. Perlahan ia keluar dari kamarnya, menuju sumber suara tawa yang sepertinya berasal dari ruang tamu.

“Berarti kalau proyek perluasan kebun kelapa sawit ini berhasil, kita akan meraup laba hingga triliunan?”

Itu suara Papa. Batin Meila sambil bersandar di dinding pembatas ruang tamu.

“Hahaha, betul sekali, Pak Gayuh,” sahut suara nyaring pria yang belum pernah Meila dengar.

“Tapi, bagaimana kalau proyek ini nggak mendapat izin pemerintah setempat?” suara yang keluar dari bibir perempuan ini, Meila sangat mengenalnya. Itu suara Mama.

“Hahaha, itu soal gampang Bu Ratna, mereka pasti nggak akan berkutik kalau melihat tumpukan uang dan pajak yang mengalir bagai air tiap tahun,” sahut suara lain yang begitu asing di telinga Meila. Lalu, terdengar suara cekakak tawa itu lagi. Tawa penuh kemenangan yang begitu pekak tedengar di telinga Meila, membikin kepalanya tiba-tiba terasa pening.

“Terus, kira-kira kapan pembakaran hutan itu dimulai?”

Hei, itu suara Papa! Meila seketika membekap mulutnya. Pembakaran? Gumpalan asap yang mengepung rumah warga hingga berbagai penjuru kota? Puluhan binatang yang berlarian ke sana-kemari menyelamatkan diri karena tempat tinggalnya dibakar oleh siapa entah? Rentetan kejadian di alam mimpi itu kembali berputar di benak Meila secara otomatis, hingga membuat tempurung kepalanya tak hanya pening tapi juga berputar serupa gasing. Ah, bahkan Meila mendadak sulit bernapas.

Meila langsung terpekik histeris saat menyadari bahwa ruangan di sekelilingnya telah dipenuhi kabut asap yang semakin lama kian menebal sehingga membuatnya sulit bernapas.

***

Puring Kebumen, 1 Muharam, 1437 H

Sam Edy Yuswanto, penulis yang lahir dan bermukim di Kebumen

[1] Disalin dari karya Sam Edy Yuswanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi 9 September 2018