Kabut Sepanjang River Hill

Karya . Dikliping tanggal 15 April 2019 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Kabut Sepanjang River Hill

perlahan tubuhmu menggigil
oleh pesona kabut yang mengendap
bersama gerimis senja yang tiris
pinus-pinus tegak semakin ramoing
mengekalkan sunyi yang runcing

di belahan tubuhmu yang lain
kuturuti liuk lembah gairah
yang terbenam semakin curam
bukit-bukit hanya terdiam pasrah
digayuti tebing dan kemiringan tanah

tapi di beranda yang dingin menyiksa
secangkir teh dan kepulan asap berbicara
tentang sayur mayur dan keikhlasannya
kupahami semua lewat getar-getarnya
kemurnian bangkit dengan kehijauannya

Tawangmangu yang gemulai
adalah tawadlu dalam asuhan waktu
sementara gemericik air sungai berbatu
mengalir menggemuruhkan namamu
dengan riak-riak rindu

2018

Di Atas Jembatan

Hari ini, akan kulewati
Sebuah jembatan penyeberangan
Masa silam, kini dan yang akan datang
Akankah sampai lelah diri?
Pijakan indah dari langkah kaki
Di seberang jauh, ladang tandus huma terpencil
Tetaplah berhati yang selalu memanggil
Kutolak daratan yang mengajak lupa
Belukar yang dipenuhi rimbun ilalang
Hanyalah sandungan dari sebuah ladang lapang

Balok papan dan tiang bambu keyakinanku
Terlalu keropos untuk ditegakkan
Sambil menyeimbangkan kedua tangan
Aku hanya terpejam sambil menunggu ledakan
Riak air sungai berbatu seperti memanggil namamu
Barangkali inilah penggilan terakhir dari masa lalu
Yang akan tenggelam bersama pasir dan debu
Kemana sebenarnya alur air menuju
Ibarat surga dan neraka selalu bersebelahan
Mungkin ke kiri, mungkin ke kanan

2017/2018

Episode

aku ingin menulis puisi untukmu
tentang sepotong alis dan ujung kerudung
tentang mendung, kabut, dari sela-sela hujan

aku ingin menulis puisi untukmu
tentang selamat tinggal yang berkemas
tanpa mengubah ucapan sampai habis malam

2018

Presisi

kalau yang kau cari presisi X atau Y
bagaimana menemukan titik silang
persinggungan besarag arah sudut pandang
sementara pembilang penyebut terus berebut
karena hanya koreksi fitri, pembagian nol
menuju komposisi ketakterhinggaan

angin memang tak bisa membaca
tapi aku mengeja sekalipun terbiasa
rambat getar gelombang pikiranmu
memberat dari tertatih-tatih
karena akumulasi tragedi
dari dendam tempo hari

2018

Obituari September

bukan angin yang mengabarkan
gerak lambat jarum jam
padahal belum genap sepuluh putaran
September terpana pada hari kelima
ruangan bisu memecah isakan
tak bisa lagi tertahan apalagi melawan
tebal lurus indahnya sebuah suratan

bukan sepi yang meluluhlantakkan
kenangan beranda saat bercengkerama
padahal belum genap berguru pada waktu
memilah gula dan manisnya madu
di sinilah rumahku juga rumahmu
tempat penat dan gelisah direbahkan
lurus dan menikungnya perjalanan

Lalu, ketika matahari harus bergerak pasti
seperti menyibakkan rahasia yang abadi
istriku, sekalipun rindu tersekat ruang dan waktu
janganlah beranjak dari tempat kau menunggu

2018

Aku Ingin Sepertimu

seoerti awan bergerak
perlahan tanpa mengusik
aku ingin seperti embun
menetes tanpa meluruh daun

aku ingin seperti hujan
yang tak pernah mengeluh
sekalipun kedinginan

aku ingin berguru
pada kemurnian rindu
matang dipendam waktu

2018

*) Sutardi Harjosudarmo, alumnus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta. Sejumlah puisinya ada pada antologi Lirik-lirik Kemanangan, Gerbong, Sayong, dan Equator. Antologi puisi tunggalnya Jemparing (2015, Cakrawala Media) dan sedang mempersiapkan antologi Gandrung. Saat ini tercatat sebagai guru di SMK Negeri 2 Yogyakarta.


[1] Disalin dari karya Sutardi Harjosudarmo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 14 April 2019