Kaing-Kaing Anjing Terlilit Jaring

Karya . Dikliping tanggal 7 Juli 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas
Tengah membukai jendela di pagi buta, mendadak saya mendengar kaing anjing, sekali saja, tapi tinggi melengking, seolah-olah anjing itu tiba-tiba disakiti. Kaingnya datang entah dari arah mana, tapi jelas bukan dari pekarangan belakang tempat tiga ekor anjing kami dikandangkan. Memang sesekali ada saja anjing kami yang mengaing karena kakinya terjepit di celah lantai kandang yang terdiri dari bilah-bilah besi beton, tapi kaingnya tidak setinggi itu lengkingnya, maklum ketiga anjing kami ras Rottweiler. Lagi pula anjing kami mengaing biasanya siang hari, saat main-main terlalu bersemangat.
”Paak,” teriak anak saya yang bontot dari kamar tidurnya. ”Semalaman kaing-kaing anjing itu gak brenti. Bising sekali sampai tidur terganggu. Masa gak dengar?”
”O, begitu?” jawab saya asal-asalan. ”Maklum sudah tua, sudah budek.” Asal-asalan, karena sebenarnya saya tidak sedang menjawabnya. Kedengarannya saja dia mengeluh, padahal mungkin sekali dia protes karena kesal. Yang pasti, dia kelelahan seusai gilirannya mengurus semua anjing kami satu setengah hari penuh, sore-pagi-sore lagi. Giliran saya hanya pagi saja sekali dalam dua hari; habis orang sudah tua.
Memang berat beban mengurus anjing itu. Setiap hari, pagi-sore, empat ekor anjing Rottweiler yang hampir segede anak sapi itu harus dikasih makan, kandang-kandang dicuci bersih, lalu ketiganya masih harus dibawa keluar untuk gerak badan. Sudah masuk tahun kedua kami memikul beban berat itu, sejak perawat pekarangan kami tidak kembali setelah Lebaran. Betapa sering pun saya menghibur anak saya itu dengan mengatakan dia tampak lebih sehat karena sekaligus olahraga, mungkin saja rasa kesalnya masih tetap ada.
Selain itu, saya juga tahu bahwa dia tahu saya belum terlalu budek, meskipun betul saya sama sekali tidak mendengar kaing-kaing itu. Maklum, kamar saya bersebelahan dengan halaman belakang sehingga teraling dari suara di bagian depan. Lagi pula saya bisa langsung tidur lelap begitu kepala menempel di bantal, dan bangun pagi buta, tidak seperti dia sukar tidur sehingga baru bangun menjelang makan siang.
”Barusan memang sepertinya saya dengar lengking anjing,” kata saya akhirnya. ”Sekali saja tapi. Kira-kira di mana, ya, anjing itu?”
”Di lapangan bola,” sahut anak saya singkat saja, lalu kembali tidur barangkali.
Ketika saya keluar ke halaman, kaing-kaing itu terdengar lagi, kali ini berulang-ulang, terasa seolah-olah sengaja ditujukan kepada saya. Saya pun pergi ke gerbang yang menghadap ke lapangan bola. Segera saja saya melihat seekor anjing kampung berwarna putih-kuning kusam meronta-ronta dekat salah satu tiang gawang. Sepertinya dia terikat di tiang itu.
Melihat keadaan anjing itu saya langsung tersulut amarah. Habis, saya menganggap diri penyayang anjing, begitu rupa sampai percaya bahwa anjing sering lebih berbudi daripada manusia. Saya pikir biadab sekali orang yang mengikat anjing itu di tiang gawang dan meninggalkannya semalaman di sana. Lebih biadab lagi jika orang itu pemiliknya.
Sementara anjing itu terus mengaing, saya balik lagi ke rumah. Saya pikir, anjing malang itu sudah kelaparan dan kehausan. Karena itu sebaiknya saya mengambil makanan sekadarnya dari dapur untuk dia. Biar saja dia malah mengira saya tidak peduli sehingga kaingnya makin menjadi-menjadi. Nanti dia akan tahu juga belas-asih saya.
Saya menuju gerbang lagi dengan menenteng bungkusan nasi berlauk, secangkir air, dan kunci gembok. Saya lebih dulu meletakkan makanan dan air minum itu di atas tanah, baru membuka gembok gerbang. Kaing anjing itu makin menggila saja. Terlintas di benak saya dia kecewa dengan gerak saya yang lambat, tapi saya mengabaikannya. Pikiran saya berputar hanya pada kekecewaan tentang sikap tega para tetangga terhadap derita anjing itu.
Saya pikir, mereka tentu mendengar lengkingan yang menusuk kuping itu, tapi tetap bisa tidur tanpa peduli sedikit pun. Pastilah ada orang kampung yang lewat, dan melihat anjing itu meronta-ronta, tapi mereka berlalu begitu saja. Tidak mustahil juga ada orang luar, biasanya muda-mudi, yang sengaja datang untuk bercengkerama di pojok-pojok gelap lapangan itu.
Dengan pikiran seperti itulah saya mendekati anjing itu sambil menenteng sekadar makanan buat keperluannya. Pikiran saya makin beranak-pinak setelah lebih jelas menyaksikan keadaan anjing itu. Ternyata dia tidak sengaja diikat orang di tiang gawang, tapi terjerat jaring gawang. Mungkin di tengah kegelapan malam dia lari-lari di lapangan itu tanpa melihat jala lalu membenturnya. Jangankan dia, saya saja tidak melihat jala itu tadi sebelum tiba di tempat.
Anjing malang itu tergulung-gulung di jala laksana ikan terjerat jaring, tapi yang terlebih mengagetkan saya adalah sikapnya yang sama sekali bertentangan dengan pengharapan saya. Sedikit pun tidak terlihat tanda-tanda terima kasih padanya atas kedatangan saya. Begitu saya mendekatinya sembari menyodorkan makanan itu, dia berubah jadi anjing ganas, kalau tidak gila. Dia mengumbar seluruh gigi dan taringnya, mengaing sampai ke langit sambil merangsek untuk menerkam saya dengan ganasnya.
Anjing ini pasti gila! Begitulah saya memastikan dalam pikiran. Lihat mulutnya sampai berbusa. Matanya juga memerah. Rangsekannya makin gawat saja hendak menerkam saya. Nasi berlauk yang saya sodorkan dicakar-cakar sampai berhamburan ke mana-mana. Walaupun demikian, tetap saja amarahnya tampak belum terlampiaskan. Dia lantas menerkam muk berisi air itu, mengerkahnya hingga ribak-ribak, dan airnya terciprat ke segala penjuru termasuk kaki saya, saya yang datang dengan belas-asih.
Gila ini anjing! Hati saya merutuk. Apa salah saya? Apa dia kira saya yang menjeratnya? Apa saya tidak keliru mengira anjing sering lebih berbudi daripada manusia? Saya bingung, eh tidak, saya merasa ditampar, lebih tepat harga diri saya terasa diinjak. Saya terhina!
Saat saya bingung dan terhina itu, tahu-tahu anak saya muncul. Mendadak saya teringat tetangga yang rumahnya hanya terpisah pagar dengan pekarangan belakang kami. Dia memelihara sejumlah anjing yang sejenis dengan yang terjerat itu. Namun, meski anjing kampung, semuanya tampak cerdik dan berani. Jangankan berkeliaran di lapangan bola, ke pekarangan kami saja anjing-anjing itu sering menyelinap, tidak takut dengan tiga ekor anjing kami yang hitam besar.
Saya minta anak saya pergi memberi tahu Siahaan, tetangga itu, siapa tahu ada anjingnya yang hilang. Ketika dia hendak beranjak, kebetulan lewatlah seorang ibu, lalu seorang bapak, semua tetangga juga. Tanpa ditanya, ibu itu bilang tidurnya terganggu juga semalaman oleh kaing-kaing anjing itu. Bapak itu, yang suka bertingkah sebagai pelindung kampung, basa-basi tanya kenapa itu anjing, lalu pergi begitu saja.
Saya tidak menanggapi. Percuma tanya siapa gerangan pemilik anjing itu. Hampir semua tetangga kami sama dengan dua orang itu: tidak memelihara anjing, tak acuh sama anjing, tapi takut dengan anjing. Saya hanya diam-diam berharap ibu itu akan beri tahu suaminya sehingga akan ada orang lagi datang menonton, biarpun hanya sejenak, sudah itu berlalu.
Tidak lama setelah dua tetangga itu pergi, anak saya kembali dengan tangan hampa. Dia bilang sudah cukup lama mengetok-ngetok pintu gerbang tetangga itu, tapi tidak ada jawaban. Sementara itu anjing rupanya sudah kelelahan mengumbar amarah, tapi sesekali masih pamer gigi dan taringnya. Saya pikir dalam keadaan demikian mustahil bagi saya sendirian membebaskan dia, sekaligus merasa malu membiarkannya.
Mustahil! Sering saya mengalami betapa kalutnya perasaan ”mustahil” ini. Sepertinya ”mustahil” itu mengandung kepastian, tapi sebenarnya tidak. Nyatanya istilah itu hanya untuk mengikis rasa malu karena menghindari kewajiban. Sebelum terkikis, keraguan melilit. Setelah terkikis, kekalutan memagut.
Dalam kekalutan saya kembali ke rumah, tapi di tengah jalan terpikir lagi untuk menghubungi tetangga yang punya beberapa ekor anjing kampung itu. Dari balik pagar saya memanggil-manggil, lupa pagi masih samun. Tak ada sahutan, malah panggilan saya tenggelam dalam bisingnya gonggongan anjing. Saya terus berseru-seru apakah ada orang di rumah dan apakah ada anjingnya yang hilang.
Cukup lama saya bikin bising. Akhirnya tetangga itu, Siahaan, keluar juga dari arah belakang rumahnya sambil mengucel mata. Saya ulangi pertanyaan saya dan ihwal anjing terjerat jala di lapangan bola. Lantas Siahaan memeriksa anjingnya. ”Lengkap semua di sini,” begitu katanya dengan malas, lalu hendak masuk kembali ke rumahnya.
”Eh, bagaimana dengan anjing yang terjerat jaring itu?” tanya saya terbata-bata. Dasar cuma punya anjing kampung, pikir saya dengan congkak. Kan tidak susah mengurusnya. Paling kalau ada kejadian apes begini, situ perlu repot. Lantas saya tegaskan: ”Yang tahu anjing di lingkungan kami kebetulan hanya kita berdua!” Lagi pula, anjing yang terjerat itu mirip sekali dengan anjing-anjingmu ini, kata saya lagi dalam hati. Tentu situ lebih tahu tabiatnya.
Banyak lagi yang saya katakan sampai langkahnya terhenti. Akhirnya dia bilang mau ikut melihatnya. Percaya tak percaya saya pun kembali ke lapangan bola. Selewat dapur saya pikir lebih baik saya siapkan alat-alat yang mungkin diperlukan untuk membebaskan anjing itu. Lantas saya membawa golok, galah, dan tali, tanpa tahu betul cara kerjanya nanti.
Saya tiba sedikit lebih dahulu daripada Siahaan, bersamaan dengan lewatnya seorang bapak, tetangga juga, tapi yang tidak begitu saya kenal. Begitu melihat saya datang dengan segala perlengkapan saya, anjing itu kembali mengumbar amarahnya dengan lebih gila lagi. Saya jadi sangat cemas rontaannya yang ganas itu berhasil meretas jala lalu menerkam saya sepuasnya. Masih untung kalau saya hanya digigit. Entah bagaimana nasib saya kalau anjing yang akan menggigit saya itu ternyata gila karena penyakit rabies.
Siahaan mendekat, tapi berbeda dengan saya yang berdiri tegak bagai serdadu Romawi bersenjata lengkap, dia malah sudah jongkok masih dari jarak yang cukup jauh. Didekatinya anjing itu tanpa ragu, apalagi takut. Dia mengeluarkan ludah ke telapak tangan kirinya dan menyodorkannya ke arah anjing. Saya sempat mengejek dalam hati: heh, ini pasti tipu-tipu pemilik anjing kampung. Rasakan nanti gigitannya!
Saya sungguh terpana jadinya melihat hasil tipu-tipu jalan jongkok sambil sodorkan ludah itu. Mendadak anjing itu berhenti mengancam saya, mengalihkan pandangan ke arah Siahaan, lalu terdiam jinak. Saat itu anak saya datang lagi dengan membawa kasur butut. Saya tidak habis pikir untuk apa benda itu. Apa dia akan menyekap anjing gila itu? Bisa-bisa dia digigit dan tertular penyakit rabies!
Anak saya digigit anjing gila, lalu tertular rabies, betapa sia-sianya. Pikiran itu membuat saya panik dan mendesak dia agar pergi saja tidur. Biarlah kami yang menyelesaikan urusan itu, termasuk kemungkinan digigit. Sialnya, anak saya tidak menangkap kecemasan saya, jika bukan tidak peduli. Dia tampak terpesona, lebih daripada saya, menyaksikan anjing itu mendadak jadi jinak menghadapi Siahaan.
Saya mengira tangan Siahaan yang berlepotan ludah itu akan disodorkan ke moncong anjing. Ternyata tangannya itu bergerak pelan dan lembut ke arah bagian ekor. Anjing itu diam saja, membiarkan ekornya dielus. Melihat adegan itu, bapak, tetangga yang tidak begitu saya kenal itu, beringsut mendekat. Dia, anak saya, dan saya sendiri memusatkan perhatian pada apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh Siahaan.
Hanya dalam hitungan detik, Siahaan telah mengelus kepala anjing itu, tetap tanpa suara. Dia malah coba menyisihkan benang jala dari moncongnya, dan anjing itu malah tampak makin tenang saja, kalau tidak merasa nikmat. Namun, upaya Siahaan melepaskan moncong anjing dari lilitan jaring tidak berhasil. Karena itu saya menyodorkan golok, tapi Siahaan mula-mula tidak hendak menerimanya. Lantas saya mendesak dengan jengkel: ”Sudah, dipotong saja biar cepat selesai, mumpung anjingnya lagi jinak.”
Akhirnya Siahaan menerima golok. Saya sempat menduga anjing itu akan menggila kembali. Namun ajaib! Anjing itu memang memperhatikan golok di tangan Siahaan, tapi dia tetap saja diam, jinak. Siahaan memotong sehelai tali jala, lalu sehelai lagi, lalu sehelai lagi, sampai sekitar sepuluh helai semuanya. Anjing itu justru lambat laun memejamkan mata dengan rasa nikmat. Pada sayatan kesepuluh, sungguh mendadak, dia membebaskan diri dengan meloncat tinggi-tinggi, lalu lari sipat kuping!
”Dasar anjing!” rutuk bapak, tetangga yang tidak begitu saya kenal itu. ”Kasih tanda dikit kek, bilang terima kasih!” Dia, anak saya, dan saya, tertawa sumbang, tapi Siahaan diam saja seperti sediakala.
Entah berapa jenak saya luruh ke dasar sukma, saya tidak tahu. Yang jelas ketika saya sadar, tinggal kami berdua saja di tempat kejadian itu, saya dan Siahaan. Saya mengucapkan selamat kepadanya, padahal seharusnya terima kasih. Saya pikir dia akan bingung mendengar ucapan terima kasih dari saya. Bukankah anjing itu yang lebih patut diharapkan berterima kasih?
Diam-diam saya berharap Siahaan tahu bahwa ucapan selamat dari saya beribu kali lebih berharga daripada terima kasih. Tanpa dia maksudkan, Siahaan telah memberi saya pelajaran sangat berharga sepagi itu tentang betapa parahnya jaring pikiran menjerat sukma kebanyakan orang seperti saya. Setiap kali saya menghadapi suatu keadaan, dan merasa perlu bertindak, terlebih dulu jala pikiran merajalela meringkus benak saya. Siahaan tidak, sedikitnya dalam peristiwa yang baru kami alami.
Anjing yang hampir mati terjerat semalaman tentu tidak sempat berpikir, tapi hanya melengking untuk bebas. Lalu saya datang dengan segala pikiran tentang belas-asih, penyayang anjing, pengecam sikap tega para tetangga, penangkal lapar dan haus, serta perancang bantuan. Pantas belas-asih saya tidak wiwasa, tidak spontan, seperti Siahaan. Alangkah sombong, alangkah bodoh saya berpikir lebih dulu menyodorkan makanan dan minuman, padahal satu-satunya yang diperlukan oleh anjing itu adalah kebebasan!
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Parakitri T Simbolon
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas”