Kakek Ane

Karya . Dikliping tanggal 5 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Di banyak tempat, di banyak kota, bermunculan baliho-baliho besar bergambar Kakek Ane disertai kepsen “Hidup Kakek Ane!”, “Kakek Ane adalah kita!”, “Kita adalah Kakek Ane!”. Nama aslinya Ane Raisinan. Namun semua orang memanggil dengan sebutan Kakek Ane, karena dia memang lelaki tua.

Kakek Ane sangat terkenal sejak kalangan mahasiswa yang menentang rezim Orde Baru memekikkan tuntutan reformasi. Setiap ada aksi unjuk rasa proreformasi, Kakek Ane pasti terlihat di tengah kerumunan. Sebagai figur paling tua dalam unjuk rasa, Kakek Ane selalu menarik perhatian wartawan.Sosoknya jadi mirip selebritas, sering muncul dalam pemberitaan media. Kalangan mahasiswa menganggap dia tokoh reformasi.

Sikap politik Kakek Ane cenderung oposan dan plinplan. Banyak orang menyebutnya tokoh oposisi abadi. Sebutan itu sebetulnya olok-olok karena Kakek Ane memang selalu bergabung ke barisan oposan yang suka mengkritik kebijakan pemerintah.Bahkan mentang-mentang oposan, dia tentang semua kebijakan pemerintah. Sikap politik itu membuat dia sangat populer, tapi juga dibenci kalangan pejabat dan pihak propemerintah. Mungkin karena plinplan, semula Kakek Ane antikorupsi, tapi sekarang malah akrab dengan sejumlah koruptor. Bahkan Kakek Ane baru-baru ini menyatakan akan mencalonkan diri pada pemilihan presiden mendatang untuk mengembalikan keadaan seperti pada era Orde Baru.

“Keadaan sekarang lebih buruk dibandingkan era Orde Baru. Kalau keadaan sekarang tidak bisa diperbaiki, sebaiknya kembali saja seperti pada masa Orde Baru!” tegas Kakek Ane ketika diwawancarai media.

Penegasan Kakek Ane itu mengecewakan banyak pihak yang dulu sama-sama menentang rezim Orde Baru. Banyak orang menganggap Kakek Ane sudah putus asa karena reformasi ternyata tidak bisa melahirkan pemerintahan yang mampu mewujudkan keadilan dan kemakmuran bangsa dan negara. Kakek Ane tak peduli dibenci kalangan penentang rezim Orde Baru, karena menurut dia sekarang banyak rakyat merindukan kembalinya Orde Baru. Bahkan Kakek Ane hendak mendirikan posko relawan di pelosok desa dan kota untuk menjadi mesin politik guna membangkitkan kembali rezim Orde Baru.

“Kebangkitan kembali rezim Orde Baru adalah harga mati! Tak bisa ditawar-tawar lagi!” seru Kakek Ane dalam pidato pembukaan posko relawan di suatu kampung.

Banyak pemuda kampung bersedia bergabung menjadi anggota. Banyak rakyat yang makin miskin pada era reformasi ramai-ramai mendaftarkan diri sebagai anggota yang akan mendukung dia menjadi calon presiden.

Di antara kerumunan rakyat di depan posko relawan juga muncul dukungan agar Kakek Ane berani maju menjadi calon presiden. Namun jika kelak menang, harus memimpin bangsa dan negara ini sama seperti rezim Orde Baru.

“Kakek Ane pasti mampu meniru gaya kepemimpinan Pak Harto!” seru seseorang di tengah kerumunan.Yang lain beradu komentar.

“Ya, sebaiknya Kakek Ane segera mendeklarasikan diri sebagai calon presiden.”

“Kalau tidak ada partai yang mendukung, Kakek Ane bisa maju sebagai calon independen. Banyak rakyat pasti mendukung!”

“Hidup Kakek Ane!”

“Hidup Kakek Ane!”

“Hidup Kakek Ane!”

Aspirasi dari tengah kerumunan rakyat itu bagai bola salju yang terus menggelinding dan membesar. Tanpa komando, banyak orang memakai baju dan topi bergambar wajah Kakek Ane dengan kepsen “Calon Presiden”. Banyak umbul-umbul dan spanduk bergambar wajah Kakek Ane dengan tulisan itu bermunculan di berbagai sudut desa dan kota.

Sejumlah pengamat politik menulis opini berisi ulasan dan dukungan kepada Kakek Ane. Judul-judul opini itu cukup menarik: “Kakek Ane Makin Populer”, “Kakek Ane Makin Ngetopî, “Kakek Ane Layak Jadi Presiden”.

Judul-judul opini itu menjadi trending topic dan dibahas dalam talk show televisi dengan narasumber pakar politik.Kakek Ane juga tampil sebagai narasumber talk show di televisi hampir setiap hari.

Tiba-tiba muncul isu Kakek Ane akan direkrut menjadi penasihat utama Presiden agar tidak terus menerus menentang kebijakan pemerintah. Isu itu meresahkan rakyat yang menginginkan Kakek Ane menjadi calon presiden. Banyak orang menggerutu.

“Politik memang licik.Setelah Kakek Ane makin populer, Presiden ingin merangkulnya.”

“Sekarang Presiden tampak takut kepada Kakek Ane.”

“Kakek Ane pasti menolak menjadi penasihat utama Presiden.” Dari kalangan pakar politik banyak komentar berhamburan di forum wawancara khusus sejumlah media. “Kalau mau, sekarang Kakek Ane pasti mampu memimpin gerakan revolusi untuk melengserkan Presiden!”

“Semua partai yang ingin menikmati kue kekuasaan secara bersama-sama, sebaiknya segera membangun koalisi baru untuk mendukung dan mengusung Kakek Ane menjadi calon presiden.”

“Kakek Ane berpotensi menjadi calon presiden tunggal pada pemilihan presiden mendatang, jika popularitasnya terus meningkat dan didukung koalisi banyak partai.”

Sementara itu, dari kalangan wakil rakyat muncul desas-desus hendak mendirikan partai baru dari gabungan sejumlah partai untuk mengusung Kakek Ane menjadi calon presiden, kalau partai-partai yang ada sekarang ingin mengusung figur lain.

“Ada kemungkinan bakal lahir partai baru bernama Partai Kakek Ane, jika tidak ada partai yang sudi mendukung Kakek Ane maju sebagai calon presiden pada pemilihan presiden mendatang,î tutur seorang wakil rakyat dalam wawancara di televisi.

“Sekarang, cita-cita reformasi sudah tidak jelas lagi, ibarat makin jauh panggang dari api. Terbukti, negara makin terbelit banyak utang. Korupsi juga merebak. Karena itu, bangsa ini perlu pemimpin yang mampu mewujudkan cita-cita reformasi atau sebaliknya mampu mengembalikan keadaan seperti pada era Orde Baru. Kakek Ane adalah tokoh paling senior yang layak didukung untuk memimpin bangsa dan negara kita mendatang,” tutur wakil rakyat yang lain.

Dari kalangan militer juga muncul isu, militer akan mendukung Kakek Ane menjadi calon presiden. Jika Kakek Ane menjadi calon presiden, maka calon wakil presiden yang akan mendampingi adalah tokoh militer.

“Kakek Ane layak didukung segenap rakyat, agar bangsa dan negara kita segera maju dan makmur,” tutur seorang purnawirawan jenderal yang pernah menjadi anggota kabinet pada masa Orde Baru.

“Kakek Ane sangat dicintai rakyat, maka militer harus mendukung,” tutur purnawirawan jenderal yang lain yang pernah menjadi wakil rakyat pada masa Orde Baru.

Sementara itu, di media sosial bermunculan banyak dukungan. Banyak pihak membuat grup-grup di Facebook, BBM, dan WA untuk mendukungnya menjadi calon presiden. Tak ada menit berlalu tanpa diskusi mengenai popularitas Kakek Ane.

Kalangan seniman tak mau ketinggalan mengekspresikan dukungan politik kepada Kakek Ane. Sejumlah pelukis menggelar pameran lukisan wajah Kakek Ane di sejumlah kota besar. Sejumlah pematung ramai-ramai membuat patung Kakek Ane yang dipajang di galeri masing-masing. Para pencipta lagu bergabung untuk membuat lagu baru berjudul “Kakek Ane”, berisi syair yang menarik.

Kami cinta Kakek Ane
Kami sayang Kakek Ane
Kakek Ane
Kakek Ane

Syair lagu itu dihafalkan banyak anak kecil dan remaja. Ibu-ibu juga suka menyanyikan.Petani di sawah dan pedagang di pasar pun gemar menyanyikan sambil bergoyang-goyang. Siang-malam televisi dan radio sering mengumandangkan berulangulang.

Kakek Ane sangat gembira melihat makin banyak rakyat memakai baju dan topi bergambar dia. Semua lembaga survei menempatkan dia sebagai tokoh terpopuler.

Sebagai tokoh sangat populer mengalahkan semua selebiritas, Kakek Ane selalu dikejarkejar banyak orang yang hendak berfoto bersama. Kakek Ane jadi sering kelelahan. Padahal, pada usia tua seharusnya Kakek Ane banyak istirahat agar tidak kelelahan.

Siang itu, Kakek Ane muncul di seminar nasional “Menyongsong Pileg dan Pilpres”. Tiba-tiba semua peserta seminar, ratusan orang, mengepung dia hendak berfoto bersama. Mereka berdesak-desakan. Saling dorong. Ada yang terjatuh, lalu terinjak-injak.

Kakek Ane pun terjatuh dan terinjak-injak. Kakek Ane pingsan. Tubuhnya babak-belur, segera diangkut ke rumah sakit. Semua yang melihat menangis sambil berseru, “Kakek Ane! Kakek Ane! Kakek Ane!”

Sehari kemudian, di media sosial muncul foto Kakek Ane berwajah lebam seperti habis dipukuli dengan benda keras yang langsung viral karena disertai kepsen provokatif: “Kekerasan politik itu nyata. Kakek Ane adalah korbannya!”

Dalam waktu singkat, banyak tokoh oposan berkumpul menggelar rapat untuk merancang agenda aksi unjuk rasa besar-besaran menuntut Presiden bertanggung jawab atas kekerasan politik yang menimpa Kakek Ane.Di banyak tempat, di banyak kota, bermunculan baliho-baliho besar bergambar Kakek Ane disertai kepsen “Hidup Kakek Ane!”, “Kakek Ane adalah kita!”, “Kita adalah Kakek Ane!”.

Griya Pena Kudus, 2019

Maria M Bhoernomo, lahir di Kudus, 23 Oktober 1962. Dia menulis prosa, puisi, dan esai dalam bahasa Indonesia dan Jawa. (28)


[1] Disalin dari karya Maria M Bhoernomo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 3 Maret 2019.