Kala Pramoedya Ananta Toer Memulai Hikayat Tentangku – Dendam Untuk Menikam Diri Sendiri Suatu Hari – Cinta Celaka – Pribumi

Karya . Dikliping tanggal 17 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Kala Pramoedya Ananta Toer Memulai Hikayat Tentangku

Kala Pramoedya Ananta Toer
memulai hikayat tentangku
sesuatu tak akan terjadi. 
Setidaknya sebelum pengarang itu
membiarkaku memilih menjadi tokoh.
Aku memilih menceritakan perihal dirinya
yang dipenuhi orang lain
dan hari silam yang dekat.
Kala pengarang itu memulai hikayat
aku temukan lagu dari sebuah tarian
dan lukisan dari sebuah kata.
Juruwarta suka mengantarkan mayat
seorang Belanda ke dermaga.
Para penagih pajak berlagak bupati.
Koran lelang ketagihan berita skandal.
Lima orang nyai naik tiang gantungan.
Tuan residen bicara lebih cepat
daripada yang bisa ia lakukan kemudian hari.
Acara pelantikan penuh hidangan untuk perut.
Barangkali kami hanyalah sebuah roman.
Mungkin lebih baik sebagai sebuah komedi stambul.

Aku melihat pengarang itu terjatuh
di hadapan mesin tik.
Ia memberikan sebuah tanda
pada awal cerita, entah
apa namanya. Berangkali itulah
saatnya aku memulai kata akhir
untuk kembali ke hari pertama.

Dendam Untuk Menikam Diri Sendiri Suatu Hari

Jika kau pernah menjadi pribumi
aku yang menjadi deru penggiling beras
agar kita bisa pura-pura kenyang.
Kau pernah menjadi andong
pengantar susu atau grobak
yang mengangkut keluh pekerja
ke dalam gudang. Aku menjadi
suara pukulan gebahan orang
melepas kacang dari kulitnya,
biar kita bisa punya harapan
memiliki segala yang diberikan tanah ini.

Kau raih keinginan dengan melupakannya.
Aku memenangkannya dengan
membiarkan diri dikalahkan bulu kerbau.

Jika kau pernah menjadi polisi Hindia
aku menjadi mesiu yang dicuri
di barak-barak. Agar regumu belajar percaya
revolver diperlukan dalam cinta.

Jika kau pernah menjadi terplejar
aku yang menjadi tinta.
Terserak di halaman buku
hingga huruf-hurufnya melebar
biar kau dapat membaca
bhasa yang mereka sembunyikan,
dan melihat kantor pos
suka menyadap surat-surat cinta.

Kita perlu memiliki rahasia
untuk bisa merasa bersalah tiap saat.
Aku diam-diam mencintaimu
hingga kau menderita berkali-kali.
Kau diam-diam menyimpan dendam
untuk menikam diri sendiri suatu hari.

Cinta Celaka

Bagian tersulit mencinaimu
adalah hari-hari pakansi dokar
dengan ringkik yang panjang.
Tak ada apa pun juga di Hindia ini
kecuali pakansi yang gagal sejak
dalam pikiran.

Cinta hanya bisa dinikmati
sebagai malam buruk di meja makan.
Di sana selalu ada waktu untuk lekas
menghadapi potongan apel pertama
yang terlambat dipetik Adam di surga.

Tetapi suraga tiada dapat berkata apa-apa
ketika Nederland menimbun lautan
dengan tanah halamanmu.

Bagian tersulit mencintaimu
adalah guru yang mengkhianati
muridnya di sekolah.
Pertanyaan-pertanyaan
selalu muncul setelah
diberi jawaban sempurna.

Tertinggal Waltz Austria di mulut fonograf,
mengapung seperti tanda tanya,
melengkung mirip benar dengan matamu.

Bagian tersulit mencintaimu
adalah menjadi pribumi dan menulis
dalam Melayu di hari yang sama.

Terompet tangsi tak putus-putus,
meriam jam delapan malam
beranak dalam kepala.

Bagian tersulit mencintaimu
adalah melibatkan rindu ke dalam buku tamu
dan membiarkanmu berdamai
dengan para pendatang.

Bagian tersulit mencintaimu
adalah yang termudah di mata priyayi
yang menghindari keindahan
dalam pintu celaka ini.

Pribumi

Aku adalah kandang
yang kau pisahkan dari kerbau Adinda Saijah.
Senyummu hilang bibir. Matamu besar.
Api menyala di dalamnya,
Tapi aku tetap mencintaimu.

Di waktu lain
aku pernah menjadi tanah kebun tebu
yang kau seewa murah
untuk pabrik-pabrik gula.
Lalu aku membakar diriku berkali-kali
di musim kemarau.
Agar aku tetap mecintaimu.





Rio Fitra SY lahir di Sungailiku, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 1986. Menetap di Padang.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rio Fitra SY
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 16 – 17 April 2016