Karakatau Madang Dahulu – Patung Perumpamaan – Rindu yang Dingin di Bulan Mei

Karya . Dikliping tanggal 31 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Karakatau Madang Dahulu

karakatau* madang dahulu, berbuah berbunga belum,
ke rantau bujang dahulu, di rumah berguna belum.
pitatah ini mungkin pitatah yang baik bagimu,
ada sampir ada isi, saat karakatau masih berbuah,
saat bunga mekar setaman, anak-anak masih
memanjat karakatau di senja raya.
rantau masih daratan sati, lautan bertuah, tentu
berguna pitatah ketika ombak menghantam kapal,
ketika badai memutar layar.
kini karakatau tak berbuah, tak berbunga, sebab lupa
mamak cara menanam, tentu tak ada anak-anak
yang bergelantung atau sekedar berlomba mengambil
buah karakatau terbanyak.
anak-anak lupa manis dan asamnya buah si hitam
karakatau, lupa cara mengernyitkan dahi ketika
memakannya, seperti daratan tak lagi sati,
seperti laut tak lagi bertuah.
bagaimana mungkin kami mengarungi rantau yang
tak lagi sati, laut tak lagi bertuah, kalau karakatau
tak lagi madang dahulu.
Danaukembar, 2015
* Buah karakatau (ada juga yang menyebutnya karatau) berwarna hitam saat matang, rasanya asam manis.

Patung Perumpamaan

kau mungkin tulang bungkuk yang membentuk ruas
tulang punggung itu, pada bungkukmu berdiri tubuh
yang tegap, pada bukumu, membentang punggung
yang bidang, padamu juga perempuan menyandar
serupa telentang, memeluk serupa melayang, mengelus
serupa menimang.
tetapi aku hanya patung, patung yang diam, patung
yang dilukis seorang pengrajin yang penasaran
rahasia di balik tubuh, rahasia di balik yang tampak,
pengrajin tak bisa memahat yang tak tampak,
sebab itu hanya perumpamaan, dia pahat tubuhnya
sendiri jadi patung perumpamaan.
Padang, 2015

Rindu yang Dingin di Bulan Mei

di suatu siang yang panas di bulan mei
batu-batu berbicara kepada aspal,
aspal berbicara kepada angin,
angin berbicara kepada siang,
siang berbicara kepada malam,
malam berbicara kepada sepi,
sepi berbicara kepada perih,
perih berbicara kepada rindu,
rindu berbicara kepada peluru
yang keluar dari moncong senapan.
“darah ini terasa sudah dingin
semenjak rindu mengeluarkannya
dari urat nadi yang berdenyut
dalam setiap hembusan nafas
terakhir, kedipan kelopak tak
berpulang ke bola mata,
panas tak berpulang ke badan,
detak tak berpulang ke jantung.”
Padang, 2015
Alizar Tanjung lahir di Solok, Sumatera Barat, 10 April 1987. Kumpulan puisinya antara lain Akar Anak Tebu(2012).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alizar Tanjung
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 31 Mei 2015