Karena Tahta (tentu) Brajadenta Berontak – Kurupati Tersandera Arjuna – Rakyat Menanti-nanti Putra Abimanyu – Sang Bima dan Gatutkaca Gentar Di Dunia – Hanya Bima yang Paham Kelahiran – Ketika Wrekudara Terangkat Derajatnya

Karya . Dikliping tanggal 24 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Karena Tahta (tentu) Brajadenta Berontak 

Tak hanya di jagad manusia berontak-memberontak terjadi.
Di dunia pewayangan juga, Brajadenta berontak kepada
Gatutkaca, ingin menguasai Kerajaan Pringgadani. Padahal
Gatutkaca sedang sakit.

Tak hanya di jagad manusia pilih dukung kanan-kiri terjadi.
Di dunia pewayangan, Brajadenda didukung Kerajaan
Kurawa yang lebih banyak jumlahnya. Betari Durga malah
gelap mata, menyuruh Brajadenta menyamar sebagai
Gatutkaca, menyuruh menggauli Banowati, istri Gatutkaca.

Tak hanya di jagad manusia bela-membela pun terjadi.
Di dunia pewayangan, karena Gatutkaca diberontak dibela
Pandawa. Lebih-lebih Wrekudara.
Kurawa akhirnya balik arah. Meramal Brajadenta bakal kalah.

*** 

Kurupati Tersandera Arjuna 

Apakah Kurupati benar-benar mati rasa sehingga
tahu betul perselingkuhan istrinya — Banowati
dengan Arjuna didiamkan saja.

Et. Nanti dulu. Pengindap mati rasa jangan diperkirakan
jumlahnya karena tak pernah ditulis di papan pengumuman
atau dikabarkan di mushola-mushola.

Et. Nanti dulu. Banowati memang menyimpan asmara
dengan Arjuna. Kurupati pernah ditolong Arjuna
agar mendapatkan jodohnya. Mendiamkan perselingkuhan
istrinya dengan Arjuna merupakan tindakan balas budi.
Kurupati tersandera.
Et. Nanti dulu. Jangan dianggap soal yang terakhir itu.

*** 

Rakyat Menanti-nanti Putra Abimanyu

Wahyu cakraningrat, wahyu kekuasaan, yang diturunkan dewa.
Siapa bisa meraih, keturunannya bisa menjadi raja yang berwibawa.
Raja Duryudana di Astina menyuruh Lesmana Mandrakumara,
anaknya. Prabu Kresna di Dwarawati menyuruh anaknya Samba
dengan tujuan yang sama. Keduanya harus meraih dengan bertapa.

Ternyata yang mampu meraih Abimanyu, putra Arjuna. Ketika
bertapa tak mudah tergoda dengan hal-hal yang menggiurkan.
Rakyat mengaguminya. Rakyat mengelu-elukan. Meski putra
Abimanyu belum dilahirkan.

*** 

Sang Bima dan Gatutkaca Gentar Di Dunia 

Ketika dilahirkan seluruh tubuh Bima terbungkus.
Ketika dilahirkan, Gatutkaca, putra Bima, tali
pusarnya enggan diputus.
Sang Bima enggan ke dunia.
Sang anak amat krasan dalam kandungan ibundanya.
Ia tak mau dipisah dengan plasentanya.
Keduanya tahu dunia menggentarkan.
Dan setelah sama-sama dewasa sering mengalami perang.

*** 


Hanya Bima yang Paham Kelahiran 

Barangkali hanya Bima yang paham betul resiko berat
lahir di dunia. Barangkali hanya Bima yang paham betul
nyamannya hidup di kandungan ibundanya. Meski hidup
hanya tergantung asupan makan dari plasenta, lebih dekat
kantung kemih dan penampung tinja.
Maka ketika dilahirkan ke dunia, Bima membungkus dirinya.
Barangkali ketidakpahaman orang-orang di sekitarnya, Bima
divonis lahir tidak normal. Lalu dibuang di hutan Minangsraya.
Gajah Sena memecah bungkus Bima. Gajah Sena dibunuh Bima.
Sukma Gajah Sena menyatu dengan Bima, namanya menjadi
Bratasena.

**** 


Ketika Wrekudara Terangkat Derajatnya 

Berkat anugerah Sang Hyang Wenang, Wrekudara
jadi pendeta di Pertapaan Arga Kelasa, bergelar
Bimasuci. Diam-diam Betara Guru terjangkiti
rasa sangsi pada diri sendiri. Wrekudara itu kawula
biasa, tak seperti dirinya. Kalau derajatnya
terangkat mudah berubah sifat.
        — wibawa Betara guru bisa tersaingi
             atau bahkan terkurangi.

Betara Indra disuruh menjajaki ilmunya Bimasuci.
Ternyata memang benar-benar tinggi, berwibawa
lagi. Betara Indra yang menyamar sebagai Resi Dupara
bahkan bisa diketahui. Betara Narada bersama Betara
Guru sendiri tak bisa menandingi.

Iri dan sangsi pada diri sendiri di jagad pewayangan
memang seringkali terjadi.


 Sunardi KS, menulis puisi, cerpen dan esai. Buku kumpulan puisi tunggalnya berjudul Wegah Dadi Semar (2012) berbahasa Jawa. Puisi (geguritan) yang dengan kebaikan hati temannya Asyari Muhammad dikumpulan. Sunardi KS anggota Kelompok Studi Sastra Jepara (KSSJ)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunardi KS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu 24 April 2016