Kasidah Air Hujan – Menatap Layang-Layang – Jalan Waktu I – Mengenang 17 Agustus

Karya . Dikliping tanggal 9 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Kasidah Air Hujan 

Rintik-rintik air hujan menitik
Jatuh ke tanah mengubur terik

Semak dan rumputan bersemi dalam tubuh bumi
Bunga siwalan menjadi mati, menjelma sunyi

Tinggal sepetak ladang kami
Yang mungkin akan tercuri

“Yali’-yali’ aduh ghellang soko“

Langit mengalunkan lagu
Bumi menjerit sedalam kalbu

Anak-anak senang mandi air hujan
Para pembajak sawah menyelamkan badan ‘

Di sana, aku saksikan kasidah air hujan
Membelai segala ranting dan dahan ‘

“Yali’-yali’ aduh ghellang soko“

Kutatap burung-burung merunduk di samping kali
Pelan-pelan akar pohon pun merasuk ke lubuk hati

Baca juga:  Pada Suatu Gerhana Matahari - Penyair dan Fotografer yang Menunggu Gerhana Matahari - Dunia Maya - Batu Karang yang Menyembul Diantara Pasir - Di Manakah Rumah Kata-Kata

Ketika hujan lama mengalir ke perasaan
Betapa dingin tangan Tuhan kurasakan

Dingin, dingin; kataku
Sejuk, sejuk; hujan terus berlagu
Dan terus berlagu

Menatap Layang-Layang 

Menatap layang-layang
Bagai selembar masa silam yang terbang
Aku terus meninggikan ingatan
Hingga menusuk langit kenangan

Di bawah awan putih yang berlari
Tiba-tiba selaksa hati kurasakan nyeri
Kemudian kuputuskan kembali tali kenangan
Layang-layang pun tersangkut ke ujung awan

Ingin aku terbangkan seluruh isi hidupku
Ke ketinggian langit yang biru
Agar bisa kudengar dentum waktu dirimu
Yang mampu menyibak siul topan jadi bisu

Baca juga:  Toraja - Kapal Kertas - Salampar

Di sini, jangan kau tanya perihal hidup
Sebab segala rahasia kemakmuran telah melesap
Kusaksikan di sudut-sudut awan tak lagi menyimpan
ketenangan
Mimpi-mimpi buruh terjatuh ke bibir halaman

Menatap layang-layang
Seperti khayal tumbang di ketingian bintang
Hujan bercerai dengan kemarau
Mengajak bunga-bunga di hatiku layu
; layang-layang pun jatuh tersangkut rindu

Jalan Waktu I 

Jalan apakah yang kau sebut rindu
Jika dibenturkan pada kebenaran kau tak mau
Sebuah lubang bertanya
Lalu menawarkan celaka
; jalan waktu

Mengenang 17 Agustus 

Di bawah nyala matahari
Mari kita hukum diri
Atas runtuhnya kesatuan dan persatuan
Yang tercipta dari darah pahlawan 

Subaidi Pratama, lahir di Sumenep, Madura, 11 Juni 1992. Kini kuliah di Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Subaidi Pratama
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 9 Agustus 2015