Kasus

Karya . Dikliping tanggal 24 Juni 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

HARI ini, Kristal ditemukan tewas dengan 99 tusukan di tubuhnya. Saat ditemukan polisi, matanya masih terbuka menatap langit-langit, seakan ingin menunjukkan kalau jiwanya melayang meninggalkan rasa sakit yang belum selesai. Sementara darahnya masih terus menetes dari kasur, dan membuat genangan berbentuk hati di lantai yang sedikit cekung.
Kapten Arindo dan rekannya—Sersan Birro—hanya bisa berdiri memandangi tubuh Kristal dengan perasaan jengah. Sepanjang karier mereka menjadi penyelidik, tak pernah mereka menghadapi jenazah semengerikan ini sebelumnya.

Kapten Arindo mencoba membuang pandangannya ke sekitar ruangan. Kamar ini ada di salah satu sudut rumah yang dijadikan semacam losmen ecek-ecek oleh pemiliknya. Letaknya memang sedikit terpisah dengan rumah-rumah yang lain. Berdasarkan pengamatan, hanya ada 7 kamar di sini. Enam kamar yang disewakan, seperti terpisah dari rumah utama. Keenamnya berhadap-hadapan, dipisahkan tanah kosong yang dijadikan tempat untuk menjemur pakaian. Satu kamar tersisa dipakai sebagai gudang. Rumah utama ditinggali pemiliknya, yang sekaligus menjadi pengurus losmen. Sebenarnya walau disebut rumah utama, luasnya hanya sedikit lebih besar dari kamar lainnya.

“Pagar terkunci, kupikir pembunuhnya hanya orang yang ada di losmen ini,” ujar Kapten Arindo seperti bergumam.

Sersan Birro hanya mengangguk, “Ya, tak mungkin yang lain.”

Tante Andini

Perempuan 50 tahun ini merupakan pemilik losmen. Tak banyak yang tahu kalau dulu ia adalah seorang pelacur. Dapat dikatakan, ialah yang merintis bisnis esek-esek di jalanan ini. Ia cantik, dan juga bukan seorang pemilih, sehingga mau bercinta dengan siapa saja, termasuk aki-aki bau tanah. Tak heran, namanya pun menjadi primadona di sini.

Menurut catatan di kepolisian, Tante Andini pernah sekali dipenjara. Ia mengelem penis pelanggannya dengan lem tikus.

“Apa yang membuat Tante melakukan itu?” tanya Sersan Birro, tampak ingin tahu.

Tante Andini mendesah malas. “Ia laki-laki yang tak punya rasa lelah, dan rasa malu. Sepanjang malam selalu minta terus. Aku benci laki-laki yang tak mau rugi seperti itu!”

“Tapi kenapa… dengan lem?”

“Kupikir dengan lem, aman saja. Aku sama sekali tak menyangka kalau lem tikus itu… super lengketnya…”

Sersan Birro hanya menyembunyikan senyumnya diam-diam.

Sejak kejadian itulah Tante Andini harus kehilangan sebagian masa-masa emasnya. Karena saat bebas, ia sudah tak lagi laku. Telah banyak pelacur yang lebih muda dan lebih cantik.

Maka ia pun memilih membuat losmen kecil ini. Toh, tabungannya masih cukup lumayan, walau sebagian tetap harus ditutup dari utang bank.

Satu penyakitnya yang tak diketahui orang adalah ia gemar mengintip orang-orang bercinta. Dari penyelidikan, diketahui kalau ia membuat sebuah lubang di setiap kamar yang disewakannya. Tapi tentu sekarang ia membantah. “Sudah hampir 5 tahun aku tak lagi mengintip,” tambahnya.

Saat diberi pertanyaan siapa yang kira-kira tega membunuh Kristal, ia menjawab cepat, “Sudah tentu pembunuh itu adalah tamu langganannya. Ia laki-laki yang mengerikan. Aku pernah melihat beberapa kali, dan aku tahu ia psikopat yang suka menyiksa.”

“Suka menyiksa?” tanya Kapten Arindo. “Dari mana Tante tahu? Bukankah Tante bilang tadi, sudah 5 tahun tak lagi mengintip?”

Ia mendengus, “Tak perlu mengintip untuk tahu itu. Dari melihat wajahnya saja, aku bisa tahu!”

“Kalau tak percaya, kalian bisa tanyakan pada Tinuk! Dia sahabat Kristal!” tambahnya.

Tinuk

kasusGadis ini baru setahun bergabung di jalanan ini. Ia datang dari desa dengan tubuh kurus kering dan kulit yang gelap karena sering terbakar matahari.

Entah bagaimana ia bisa menjadi sahabat Kristal. Saat diinterogasi, ia menangis tanpa henti. Anehnya, dari matanya sama sekali tak keluar air mata.

“Kristal yang malang…” sedunya berkali-kali. “Ia tak layak mengalami ini. Kalian tahu, ia gadis yang baik. Bila aku sedang tak punya uang, ia yang pertama kali menyodorkan uang untukku.”

Tinuk menunduk, “Aku tak membayangkan ada orang yang bisa melukainya sekejam ini.”

Dari catatan kepolisian, terungkap kalau Tinuk ternyata pernah diduga melakukan tindakan penganiayaan pada suaminya ketika di desa. Ia memukul suaminya dengan pacul, lalu saat suaminya terjerembab, ia tetap memaculinya hingga berkali-kali.

Sersan Birro mengerutkan kening. “Agak aneh… ternyata kau pernah melukai suamimu—maaf, mantan suamimu—dengan pacul hingga 98 kali?”

“Aku tak menghitungnya!”

“Hmmm, kau tahu, ada 99 kali luka di tubuh Kristal?”

“Kubilang tadi, aku tak menghitungnya! Jangan dipas-paskan dengan kejadian ini!”

Saat Kapten Arindo bertanya, siapa kira-kira orang yang dapat melakukan tindakan keji ini kepada Kristal, Tinuk menjawab cepat, “Tentu saja pelacur tak laku itu. Ia selalu sinis pada siapa pun. Dan ia iri dengan kebaikan Kristal.”

Asidah

Dapat dikatakan, Asidah si pelacur tak laku yang disebut Tinuk adalah pelacur tanpa modal. Wajahnya buruk, dan kerjaannya mengritik pemerintah.

“Orang-orang menjadi pelacur di sini karena pemerintah tak becus. Membuat pekerjaan saja mereka tak bisa. Malah mendatangkan buruh-buruh dari China. Dasar pemerintah goblok!”

Tambah Asidah, “Kalau aku dan perempuan-perempuan lainnya melakukan pekerjaan ini, jangan hanya menyalahkan kami, tapi tanyakan pada pemerintah, apa yang sudah mereka lakukan untuk kami?”

Saat penyelidikan, terbuka catatan mengerikan tentang perempuan ini. Ketika muda ia beberapa kali tertangkap tetangganya sedang membunuh kambing. Ia menyiksa kambing-kambing itu dengan menggantung mereka dengan tambang. Lalu setelah itu, barulah ia menikamnya hingga berkali-kali.

“Kambing-kambing itu merusak halaman kami. Memakan sayur-sayuran yang sudah kami tanam!” belanya.

“Kau merasa wajar menyiksa kambing-kambing seperti itu?” tanya Sersan Birro.

“Kenapa? Toh, akhirnya mereka juga akan dimakan? Jangan katakan padaku, kalian berdua vegan, dan kini sedang membela hak-hak kambing?”

Kapten Arindo dan Sersan Biroo hanya bisa bertatapan. Kapten Arindo kemudian bertanya, siapa orang yang paling mungkin melakukan tindakan biadab ini pada Kristal?

“Mana aku tahu,” Asidah mengangkat bahu dengan enggan. “Tapi… hmmm, kupikir cuma satu yang mampu melakukannya. Ia jelas penjaga malam kami. Ia pendendam. Semua orang di sini tahu cerita saat ia bekerja di restoran. Saat bosnya memarahinya, ia membalasnya dengan membakar restoran itu.”

Saat Kapten Arindo dan Sersan Birro beranjak pergi, Asidah menambahkan satu kalimat, “Oya, ada satu lagi. Penjaga malam itu… sepertinya menyukai Kristal. Mungkin malah, ia jatuh cinta. Tapi ia tak punya cukup uang untuk mengajak Kristal tidur.”

Boga

Boga adalah penjaga malam losmen, yang sekaligus menyewa satu kamar di losmen ini. Ia juga penjaga keamanan tempat bilyar yang ada di sebelah losmen. Walau tubuhnya besar dan berotot, sebenarnya ia penakut.

Ia ternyata tak hanya pernah membakar restoran bosnya, ia juga tercatat pernah berseteru dengan kawannya sesama penjaga malam. Walau kalah saat berkelahi, ia membalasnya dengan menabrak kawannya itu dengan motor. Saat kawannya jatuh, ia melindasnya sampai berkali-kali, hingga kawannya itu tak sadarkan diri.

Sehari sebelum kejadian mengerikan ini, Boga terlibat cekcok dengan korban.

“Banyak yang menyaksikanmu bertengkar dengan korban?” tanya Sersan Birro.

“Tidak, tidak!”

“Ada yang melihat kau mengancamnya?”

“Aku tak mungkin mengancamnya. Tak mungkin. Aku hanya… hmmm, sedikit marah.”

“Kau tahu, kau punya catatan buruk dengan kemarahanmu?”

“Tapi.. tidak hari itu. Aku hanya marah karena Neng Kristal masih saja menolakku.”

“Menolak apa?”

“Yaaa…. bapak tahulah.”

“Memangnya kenapa korban menolak?”

“Ia bilang, ‘Kirim saja uangmu untuk istri dan anakmu di desa.’”

“Aaah, korban ternyata memperhatikanmu.”

“Ah, tidak juga. Ia memang baik saja.”

“Kau kenal tamu langganan korban yang sering kemari?” tanya Sersan Birro kemudian.

“Carlos?”

“Ya. Kami dengar, kau pernah bertengkar dengannya?”

“Aku hanya mengingatkannya karena ia sering mabuk.”

“Kau memukulnya?”

“Yaaa, beberapa kali saja.”

“Itu bukan…. karena kau cemburu?”

“Ah, tentu saja tidak. Tidak, tidak!”

“Lalu siapa menurutmu yang tega melakukan itu pada korban?”

“Aku merasa… mungkin, ini mungkin ya, banci di seberang kamar Neng Kristal.”

Mince

Mince satu-satunya banci di sini. Awalnya, catatan tentangnya nyaris tak ada. Tapi setelah dicari dengan identitas sebelumnya, saat ia belum menjadi perempuan, ia ternyata pernah melakukan beberapa tindakan tak masuk akal. Konon, ia pernah mendalami ilmu hitam yang membuatnya harus memakan jantung mayat yang baru saja mati. Untungnya, baru beberapa kali beraksi, tindakannya diketahui. Ia pun sempat dimassa oleh penduduk sekitar.

Menurut Mince, ialah yang paling mengenal penghuni losmen ini. “Karena aku suka mengamati,” ujarnya. “Aku juga yang paling lama di sini. Karena saat Tante Andini membuat losmen ini, aku sudah menetap di sini.”

“Satu yang pasti,” tambahnya, “mereka semua di sini saling membenci. Tante Andini membenci Kristal karena ia cantik. Kristal membenci Tinuk karena ia dianggapnya sering berpura-pura. Jadi, Bapak-bapak jangan tertipu olehnya yang tampak sedih. Ia sebenarnya selalu bermuka dua. Di depan ia selalu tampak dekat dengan Kristal, tapi di belakang ia menusuk. Semua orang tahu, ia sering memotong jalur. Ia menunggu pelanggan Kristal, lalu menawarkan dirinya setengah harga.”

“Boga juga laki-laki bajingan. Ia sangat membenciku. Padahal ia juga sebenarnya banci. Tak berani apa-apa. Bahkan saat ada anak SMU mabuk di sini, ia tak berani mengusirnya. Huh, hanya besar badannya saja.”

“Tina juga membenci Kristal karena ia pernah beberapa kali memergoki pasangannya—Lukas—ada di kamar Kristal. Kau tahu, laki-laki itu memang sakit. Ia merayu siapa saja. Maka itu Asidah dan Tinuk membencinya, karena … yaaa, mungkin ia tak memberi bayaran apa-apa pada mereka,” Mince tertawa. “Hanya aku yang sepertinya tak membenci. Aku bahkan menyukai mereka semua…”

“Lalu bagaimana dengan masa lalumu saat mempelajari ilmu hitam itu? Apakah itu benar?” tanya Sersan Birro memancing.

“Bapak-bapak polisi, siapa pun memiliki masa lalu. Apa aku akan ditangkap dengan masa laluku? Apakah tobat tak berarti apa-apa buat Bapak-bapak?”

“Hmm, kami tentu harus menghubungkan semuanya, apalagi karena… tusukan-tusukan pelaku di tubuh korban, membuat jantungnya rusak…”

“Bapak-bapak polisi, tentu itu bukan sesuatu yang sama seperti yang kulakukan dulu!”

“Ya, mungkin tak terlalu sama. Tapi saat mengambil jantung mayat-mayat itu, kau juga merusaknya sebelum memakannya kan?”

Mince hanya terdiam.

Tina dan Lukas

Keduanya adalah pasangan maut. Lukas yang mencari mangsa untuk Tina, dan ia menunggu di luar pintu sampai semuanya selesai. Kadang, mereka juga melayani tamu yang ingin threesome. Orang-orang bilang Lukas tipe laki-laki bajingan, tapi sebenarnya Tina juga tak jauh berbeda. Penghuni losmen lainnya menganggap keduanya sakit. Karena keduanya konon, bergabung dengan komunitas penyuka seks yang aneh-aneh.

Saat malam nahas menimpa Kristal, keduanya punya alibi kuat karena sedang pergi ke luar kota. Keduanya memang sering ke luar kota.

Saat Kapten Arindo mewawancarai mereka, Tina berujar, “Bisa jadi bukan manusia yang melakukannya. Kalian tahu, dulunya rumah ini adalah rumah yang angker. Makanya dijual murah. Banyak kejadian mengerikan terjadi di sini. Coba kalian cari, dulu pernah ada satu keluarga menggantung diri mereka secara bersamaan. Lalu pernah ada juga, seorang ayah yang membunuh seluruh keluarganya dengan cara seperti yang terjadi pada Kristal…”

Lukas menambahi, “Aku sudah katakan pada Tante Andini, rumah ini harus diruwat atau apalah namanya. Yang penting penghuni-penghuni tak kasatmata yang ada di sini harus diusir.”

“Apakah itu yang membuat kalian sering pergi?” tanya Kapten Arindo.

“Ya, betul. Kami bahkan berencana pindah. Tapi kami belum menemukan kontrakan yang semurah ini.”

“Kalian ada masalah dengan penghuni lainnya? Atau… kalian melihat penghuni lainnya punya masalah dengan korban?”

Keduanya kompak menggeleng.

Carlos

Ia adalah tamu Kristal terakhir. Satu-satunya orang di luar penghuni losmen yang didatangi Kapten Arindo dan Sersan Birro. Ketika didatangi, ia tak seperti yang digambarkan Tante Andini. Ia hanya pria gempal dengan wajah tak percaya diri. Cara bicaranya pun tampak tak yakin.

Dari catatan kepolisian, ia ternyata punya pengalaman mengerikan. Dulu waktu ia berumur 10 tahun, ibunya yang gila hampir membunuhnya. Ia ditusuk berkali-kali. Untunglah dokter masih bisa menyelamatkannya.

“Apakah kau membenci ibumu?” tanya Kapten Arindo.

Carlos terdiam, “Entahlah. Sejak kejadian itu aku tak bertemu lagi dengannya. Aku diadopsi.”

“Kau tahu…. luka masa kecilmu itu—yang sampai sekarang masih terlihat bekasnya—sama seperti tusukan-tusukan yang ada di tubuh korban?”

Carlos menunduk, dan seketika menangis. “Ya, aku tahu…”

“Tapi aku sama sekali tak membunuhnya,” ujarnya cepat. “Aku mencintainya, dan berkali-kali memintanya keluar dari dunia ini…”

“Kau memintanya keluar dari dunia ini?”

Carlos mengangguk.

“Tapi… korban tak mau?”

“Ia malah memintaku mencari uang yang banyak. Bila sudah, ia baru memintaku datang lagi padanya…”

“Berarti ia menolak?”

Carlos dengan berat hati mengangguk lemah. “Ia menyukai dunia seperti ini. Ia menikmatinya, dan mau main dengan siapa pun, bahkan dengan penjaga malam yang selalu mengancamku itu.”

Kapten Arindo dan Sersan Birro berpandangan. “Maksudmu…. Boga?”

“Ya, laki-laki itu main dengan semua perempuan di sini. Termasuk Tante Arini dan Tina! Kalian harus tahu, ia selalu merengek-rengek minta gratisan.”

“Termasuk pada Kristal?”

Carlos mengangguk lemah.

“Apakah itu yang membuatmu marah pada korban?”

Carlos terdiam. Ia kembali tertunduk dan menangis.

Kapten Arindo dan Sersan Birro terdiam mempelajari hasil investigasi mereka. Lembaran-lembaran kertas tercecer di meja. Sebagian tertempel di papan tulis.

“Kau berpikir seperti yang kupikirkan?” tanya Kapten Arindo.

Sersan Birro mengangguk. “Ya, aku tak sepenuhnya yakin. Tapi hanya ia yang bisa melakukan tindakan kejam seperti ini…”

Kapten Arindo mengangguk. “Kalau begitu, panggil yang lainnya. Kita jemput dia sekarang juga!”

Yudhi Herwibowo, menulis beberapa buku. Bukunya yang segera rilis: Sang Penggesek Biola, sebuah roman Wage Rudolf Supratman (Imania)

[1] Disalin dari karya Yudhi Herwibowo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 23 – 24 Juni 2018

Beri Nilai-Bintang!