Katanya Saya Tak Akan Bosan

Karya . Dikliping tanggal 6 Januari 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
MULAI hari ini, saya akan menyibukkan diri pada hal-hal yang menurutnya penting. Saya akan rajin mengeramas rambut saya dengan sampo berbahan lidah buaya. Saya akan rajin merawat wajah saya dengan ramuan bunga mawar. Saya akan rajin mengikiri dan merapikan kuku, karena ia tidak suka jika kuku saya berantakan. Di waktu lain saya akan tekun menggosok telapak kaki saya, agar tak berserat kasar. Saya juga akan melatih cara saya mengunyah makanan. Saya akan melihat wajah saya di kaca, mengawasi agar mulut itu tertutup pada saat mengunyah makanan. Saya juga akan bangun pagi-pagi, mandi cepat-cepat, berdandan sedikit sebelum mengguncang tubuhnya untuk membangunkannya. Ternyata banyak sekali hal yang harus saya lakukan. Mungkin saya harus membuat daftarnya dengan rapi, sehingga tidak ada hal penting yang terlewatkan.
Jadi inilah daftarnya:
(1) Menomori pakaian. Menurutnya, saya perlu memberi nomor pada pakaian saya dan pakaiannya. Agar ia tahu pakaian mana yang sudah dipakainya minggu ini, dan ia tidak memakainya dua kali di minggu yang sama. Mungkin saya harus membeli kancing bernomor. Ada warung di ujung jalan yang menjualnya. Besok pagi saya harus pergi ke sana.
(2) Melingkari kalender. Menurutnya, saya harus cermat melingkari kalender. Saya harus tahu berapa lama sabun, sampo, minyak goreng, gas, air galon yang kami gunakan habis. Setelah itu saya harus membelinya dengan penghitungan yang cermat. Tanpa kekurangan apalagi berlebihan.
(3) Mencatat belanjaan. Dia berulang-ulang mengatakan saya harus mencatat belanjaan saya selama sebulan. Beras, gula, mie instan, daging, bumbu dapur, sayur, sabun mandi, sabun cuci, sampo, semuanya, sampai yang terkecil. Jangan membeli secara berlebihan. Nanti mubazir.
(4) Mencatat resep. Ia menasihati saya untuk menyalin resep-resep masakan yang saya temukan di majalah. Mengumpulkannya dan mulai mempelajarinya. Memasak sendiri itu jauh lebih murah. Juga sehat. Selama tiga ratus enam puluh lima hari, saya sudah mencoba lima puluh jenis masakan. Ia tersenyum puas dan bangga setiap kali mengintip hasil masakan saya. Saya melambung ke awan mendengar pujiannya.
(5) Merapikan receh. Setiap kali melihat ada koin yang tercecer di meja, ia selalu mengatakan saya tidak boleh menyepelekan uang sekecil apa pun. Aku mencarinya dengan susah payah. Jangan dibuang-buang. Karena itu saya selalu meluangkan waktu untuk merapikan uang receh sisa membeli sayur, membayar parkir, naik angkot, dan lain sebagainya. Saya selalu membaginya berdasarkan nilainya. Lima puluh rupiah, seratus rupiah, dua ratus rupiah, lima ratus rupiah, seribu rupiah. Bila masing-masing sudah senilai seribu rupiah, saya menggunakan selotip untuk menyatukannya. Kadang-kadang saya sulit mendapat pasangan dari uang lima puluh rupiah. Untuk yang satu ini, saya terpaksa menyembunyikan di bawah lipatan baju, agar ia tidak tahu bahwa saya belum merapikannya.
Katanya Saya Tak Akan Bosan
Baca juga:  Laki-laki tanpa Cela

Apalagi, ya? Saya yakin masih banyak hal penting yang harus saya lakukan. Saya tidak ingin ada yang terlewat. Setiap kali saya mengerjakan apa yang diminta, dia akan memuji saya, membuat saya terbuai hingga ke awan yang paling tinggi. Ah, tidak ada salahnya melanjutkan esok hari. Mungkin besok saya akan teringat lagi hal apa saja yang harus saya lakukan. Mungkin saya perlu bertanya kepada ibu-ibu tetangga sebelah. Mereka mungkin memberi saya saran tentang apa yang harus saya lakukan. Saya yakin akan menemukan semuanya, tanpa ada yang terlewat.

DIA benar. Dia selalu benar. Ternyata sangat mengasyikkan berada dalam kesibukan. Kalau tidak sibuk, kamu akan bosan. Buat apa membayar pembantu. Kelebihan uang bisa ditabung. Kamu juga bisa menggerakkan badan. Nanti badan bisa kaku, lho, kalau jarang digerakkan. Saya sangat menikmati hari-hari saya yang sibuk. Wajah saya memerah cerah setiap kali habis memasak di dapur. Embun hangat mengusap wajah saya. Menurutnya, wajah saya menjadi secantik bidadari sehabis memasak. Semu merah itu semakin memerah karena saya tersipu malu.
Mungkinkah tubuhmu dapat bergerak tanpa diperintahkan, jika berulang-ulang melakukan hal yang sama? Begitulah yang saya rasakan tentang hari-hari saya. Setiap jam lima pagi saya terbangun. Mandi cepat-cepat, lalu berdandan sedikit sebelum membangunkannya. Air hangat sudah siap di kamar mandi ketika ia dengan sempoyongan menuju kamar mandi. Saya menyambutnya dengan senyum manis di pipi. Ketika ia sedang sibuk mengenakan pakaiannya, saya memanggang pisang untuknya.
Aroma kopi yang baru diseduh menghangatkan pagi. Ia menyantap sarapannya dengan kurang bersemangat. Capek. Selamam lembur. Kerjaan makin banyak. Masih ngantuk, nih. Saya memberinya sebuah senyuman manis. Berharap bisa menghiburnya. Namun ia terlihat mengacuhkan senyum saya. Terlihat sibuk dengan Blackberry-nya. Hari ini hari ulang tahunku. Maukah kau mengajakku makan malam hari ini? Ia kelihatan terkejut dengan kalimat saya. Oh sayang, maaf aku lupa kalau hari ini ulang tahunmu. Aku sibuk sekali. Bagaimana kalau besok pagi kita sarapan pizza. Ia mengecup bibir saya dengan bibirnya yang basah. Saya melambung. Saya menganggukkan kepala. Malam ini atau besok pagi, bukanlah masalah besar. Saya melepasnya pergi dengan senyuman.
Saya masih harus mengerjakan banyak hal penting lainnya. Saya membuka catatan seperti biasanya, melihat apa yang sudah dan belum saya kerjakan. Setelah berputar-putar ke sana-kemari untuk menyelesaikan apa yang haru saya selesaikan menurut daftar saya, petang pun tiba. Dia betul. Dengan begitu banyak kegiatan, saya tidak mungkin merasa bosan. Hari lewat dengan cepat. Saya mendapati badan saya berbau keringat, saya harus bergegas mandi. Saya tidak mau ia sampai di rumah ketika saya masih berbau keringat.
Usai mandi dan menyisir rambut, saya ingat ia akan pulang larut malam hari ini. Mungkin ia tidak akan marah kalau saya pergi ke luar sendiri. Saya bisa bilang saya harus pergi untuk membeli bahan-bahan kue untuk arisan di kompleks. Sudah lama saya tidak pergi. Melihat jalanan yang padat, suara angkot yang menjerit-jerit, lampu-lampu kota yang berkerlap-kerlip. Saya rindu ada di luar sana. Sesekali tidak ada salahnya saya ke luar. Walaupun ia selalu melarang saya. Jangan ke luar malam-malam. Berbahaya. Di luar sana banyak orang jahat. Saya bisa menjaga diri. Setidaknya saya akan agak berbohong kali ini. Saya akan bilang hanya pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan kue.
SAYA duduk di sudut kafe dengan gaun marun selutut yang melekat manis di tubuh. Beberapa laki-laki memandang saya dengan pupil mata melebar. Saya menyembunyikan senyum di hati, karena senyum saya hanya untuknya.
Berada di luar rumah dan mencium bau kopi itu ternyata nikmat. Saya hampir lupa. Saya terlalu sibuk.
Di hari ulang tahun, saya hanya ingin mengenangnya. Di sinilah kami bertemu. Kopi latte membuat saya dimabuk lamunan tentangnya. Saya teringat pada bibirnya yang basah tadi pagi.
Pada setiap cerita selalu ada klimaks. Seperti kejutan yang disuguhkan malam. Dia masuk ke kafe ini. Seperti anak bandel yang menerobos keluar dari lamunan saya. Menggandeng seorang perempuan. Jam delapan malam. Saya baru saja memutuskan untuk pulang, karena saya harus ada di rumah sebelum ia pulang. Mereka duduk dalam impitan yang rapat. Dia mengecup bibir basah perempuan itu. Tubuh saya gemetar.
Saya menyelinap pergi. Kepala saya dipenuhi oleh bibirnya yang mengecup bibir basah perempuan itu. Di hari ulang tahun saya.
Saya meraih buku notes berisi catatan “semua hal penting” itu dan melemparkannya ke tempat sampah terdekat. Buku itu menghantam tutup kaleng tempat sampah dan terpental. Mendarat tepat di atas kotoran anjing. Saya hanya menyeringai dingin. Saya lanjutkan langkah melintasi malam, menghirup dalam-dalam segar dan bebasnya udara malam. Sekarang saya tahu saya tak akan bosan.(*)
Ni Komang Ariani dilahirkan di Bali, 19 Mei 1978. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, Surabaya. Buku-bukunya antara lain Senjakala (novel, 2010) dan Bukan Permaisuri (kumpulan cerita pendek, 2012). Ia sedang menuntut ilmu di Pascasarjana Linguistik Terapan Bahasa Inggris Universitas Atmajaya, Jakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Ni Komang Ariani
[2] Pernah dimuat di “Koran Tempo”