Katastrofa

Karya . Dikliping tanggal 31 Desember 2013 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
JIKA kau menerawang jauh ke tepian telaga lumpur itu, di sisi paling sudut, sebelah kanan, berdekatan dengan tilas gerbang masuk kampung, kau akan mendapati seonggok batu yang terbujur dan bentuknya mirip-mirip dengan seseorang yang sedang duduk telimpuh. Konon batu itu muncul setelah seorang lelaki yang suka berteriak-teriak di sana (tepat di tempat batu itu terbujur) menghilang tanpa jejak.
Beberapa orang mengatakan bahwa batu itu memang sudah tergeletak di sana sejak lama, jauh sebelum lelaki yang suka berteriak-teriak itu datang. Orang-orang itu mengatakan bahwa lelaki yang suka berteriak-teriak itu, mungkin telah masuk  ke dalam telaga lumpur dan kemudian tenggelam di dalamnya. Karena lelaki yang suka berteriak-teriak itu pernah mengarang sebuah cerita yang tak masuk akal (yang senantiasa ia teriak-teriakkan), berkenaan dengan kampung halamannya yang hilang.
Lelaki itu berkoar bahwa nun jauh di dasar telaga, ada sebuah perkampungan permai yang hidup. Di dasar telaga itu ada rumah-rumah yang utuh genap dengan perabotan dan taman-taman di halaman depan. Di dasar telaga itu ada masjid dan surau-surau yang senantiasa mengumandangkan adzan bila waktu shalat tiba. Di dasar telaga itu juga ada pasar, kantor pos, perumahan, bank, sekolahan-sekolahan, bahkan pemakaman. Lelaki yang suka berteriak-teriak itu mengatakan, perkampungan kecil di dasar telaga itu sangat nyata bila ia tilik dari ketinggian (tempat ia berteriak-teriak).
Di dalam kampung yang hidup di dasar telaga itu akan selalu ada orang-orang yang bekerja di siang hari dan bercinta di malam hari. Lantas bayi-bayi mungil pun lahir dari rahim para perempuan, merengek di malam hari dan tertidur pulas di siang hari. Burung-burung beterbangan menghindar dari asap, ternak-ternak mengembik meminta rumput. Bocah-bocah laki-laki bermain bola dan layang-layang. Sementara bocah perempuan bermain karet atau boneka. Di sore hari, bocah-bocah itu berangkat mengaji iqro’ ke masjid dan surau-suarau.  Demikianlah, kehidupan di dasar telaga itu tak ubahnya kehidupan masyarakat di perkampungan yang tenggelam beberapa tahun silam dan kini hanya meninggalkan kenangan yang jauhnya jutaan tahun cahaya.
Orang-orang menganggap lelaki yang suka berteriak-teriak itu sebagai lelaki yang hilang kewarasan karena seluruh keluarganya menghilang tanpa jejak semenjak lumpur pekat itu menggulung kampung halamannya.
Kisahnya adalah, ia seorang anak lelaki tunggal yang pergi merantau ke tanah jauh—meninggalkan bapak-ibunya yang  cuma berdua dan kian menua. Ia merantau bertahun-tahun lamanya dan tanpa kabar secuil pun. Karena, rupanya ia sendiri bukanlah pemuda modern yang bisa menulis surat dan kemudian mengantarkannya ke kantor pos. Ia hanya bocah yang tak lulus sekolah dasar lantaran otaknya memang tak mampu untuk menerima banyak pelajaran yang berbeda. Di luar itu, tempat ia bekerja adalah sebuah ladang perkebunan di pedalaman hutan yang jangankan telepon atau kantor pos, peneranganpun masih menggunakan lampu minyak.
Dulunya, ia adalah anak pemuda yang terobsesi pada pekerjaan, apapun itu, ia ingin membuat kedua orang tuanya bangga. Hingga akhirnya mimpinya terwujud: seorang saudara jauh membawanya ke tanah rantau di negeri seberang pulau untuk bekerja serabutan di perkebunan. Setelah ia pergi, ia pun tak pernah pulang atau berkabar, selama puluhan tahun. Kedua orang tuanya sudah khatam dengan segala kehilangan dan kesedihan. Mereka menganggap anak semata wayang mereka tewas di kapal tongkang yang membawanya, lantas mayatnya yang tak berguna itu dilempar ke tengah samudra untuk jadi makanan ikan.
Namun tak dinyana, setelah puluhan tahun lamanya—dalam keadaan lajang dan nyaris menjadi tua, pemuda itu pulang ke kampung halamannya. Namun semuanya sudah terlambat, tanah tempat ia dilahirkan dan belajar berjalan telah hilang dari peta dunia dan menjelma telaga lumpur yang agung dan bergulung-gulung. Tanpa meninggalkan sisa. Lelaki itu pun menangis sejadi-jadinya sebelum akhirnya sesuatu dalam kepalanya menjadi rusak, hingga membuatnya suka berteriak-teriak.
***
Kau tak akan percaya, bahwa di dasar telaga lumpur ini pernah ada orang-orang yang hidup. Di bawah sana pernah ada muda-mudi yang jatuh cinta sebelum pesta perkawinan yang meriah. Di bawah sana pernah ada perempuan-perempuan melahirkan dan menyusui bayinya. Di bawah sana pernah ada kehidupan yang sempurna.
Sepi.
Lelaki yang suka berteriak-teriak itu kerap memberisiki langit di malam hari. Jauh selepas dini hari. Seperti membaca puisi. Beberapa orang yang mengenalnya bahkan tak percaya. Dulunya, lelaki itu bukanlah lelaki yang pandai berbahasa atau berkata-kata, bahkan seisi kampung tahu ia tak lulus sekolah dasar.
“Mungkin ia kesurupan arwah orang-orang pandai yang jasadnya terkurung di dasar tanah di dalam telaga lumpur ini,” kata seseorang,  yang menyaksikan lelaki itu berteriak-teriak dari kejauhan.
“Atau barangkali, ia adalah titisan penjaga kampung yang murka karena kampungnya tenggelam ditelan lumpur,” sahut yang lain.
“Sudahlah, terkadang seseorang memang menjadi pandai setelah ia kehilangan kewarasan,” tutur yang lain lagi.
Dan mereka hanya akan terbahak kilas, lalu melanjutkan merokok atau minum-minum sambil bermain kartu di sebuah gardu di sisian yang lain.
Dan kau juga tak akan percaya, bahwa di dasar telaga lumpur ini, kini telah lahir kehidupan baru. Telah lahir perkampungan baru. Gumpalan lumpur di bawah sana telah menjelma menjadi udara yang berbeda. Orang-orang menghirupnya dan berjibaku dengannya. Orang-orang itu adalah jasad kekecewaan yang tak terhisab jumlahnya. Mereka akan terus hidup. Menjadi hantu. Sesekali waktu mereka akan muncul dari dalam lumpur dengan tubuh memeleh seperti es krim yang mencair. Makhkuk-makhluk itu akan mendatangi orang-orang yang bersalah lalu menarik tangan mereka dan membawa ke dalam perkampungan lumpur di bawah sana.
Sepi.
Malam masih terus berlanjut. Sesekali menggema dentuman batu yang ditalu pada tiang besi. Dentuman satu kali artinya pukul satu dini hari, dentuman dua kali artinya pukul dua dini hari, dan seterusnya….
Orang-orang tak pernah menghiraukan keberadaan lelaki yang berteriak-teriak itu. Mereka merasa tak ada faedahnya menanggapi orang gila. Hingga ketika lelaki yang suka berteriak-teriak itu tak pernah muncul lagi, mereka baru bertanya-tanya, “ke mana orang gila itu, sudah lama tidak kelihatan?”
Dan seseorang akan menjawab, “mungkin ia melancong ke tempat lain untuk berteriak-teriak di tempat lain.”
Dan seseorang yang lain pun akan menjawab, “orang gila itu telah berubah menjadi batu yang bersimpuh di tempatnya.”
“Hahaha, memangnya siapa yang tega megutuknya menjadi batu, seperti Malin Kundang saja.”
Mereka tertawa lepas sebagai bukti bahwa keberadaan maupun ketiadaan lelaki itu tetaplah tidak berarti apa-apa dan tidak berpengaruh apa-apa. Hanya saja, beberapa orang (dari orang-orang yang suka berkumpul di gardu tepian telaga itu) pernah bersumpah, bahwa suatu malam, selepas dini hari, mereka melihat bayang-bayang bermunculan dari dalam lumpur dengan tubuh berlumur lumpur. Lumpur yang terus meleleh seperti es krim yang mencair.
“Kau sudah ketularan gila rupanya,” kata seseorang yang turut mendengarnya.
“Hati-hati, bisa-bisa kau juga dikutuk menjadi batu seperti lelaki gila itu,” kata yang lain.
Dan mereka pun saling tertawa tanpa pernah membahasnya lagi.***
Malang, Juni 2013
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 29 Desember 2013