Katastrofa Mei

Karya . Dikliping tanggal 25 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
SEJAK dia didakwa mengalami gangguan skizofrenik, sikapnya jadi menutup diri, hilang minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikapnya begitu larut dalam diri sendiri. Tak hanya demikian, waham dirinya yang dikendalikan oleh suatu kekuatan suara dari luar, kadang berdegung, kadang suara tawa mengejek menghancurkan semangat hidupnya. Saat itu aku didesak untuk memutuskan hubungan dengannya. 
”Buat apa mencintai orang gila, Hans?” tanya Mami dengan nada kasar.
”Buat apa hidup tanpa cinta?!” Sergahkukasar pada Mami, ibu pengasuhkuyang kuanggap sebagai ibu,karena dia sejak kecil merawatku,mengambilku dari panti asuhan.
”Tak adakah cinta yang lain, banyakgadis lain yang menyukaimu,Hans.”
”Ah, mereka hanya kasihan padaku,lelaki yang sejak bayi dibuangoleh orangtuanya. Siapa yang peduli!”
”Kau hanya berpikir buruk, berkacalah, kau ganteng, suaramu bagus,saat kau menyanyi di gereja semuagadis menatapmu takjub.”
”Mami hanya berseloroh saja.” Aku mengambil tas ransel, dan memakai sepatu.
”Kau mau naik gunung lagi?”
”Ya, Mi. Maafkan aku.” Mami menarik napas dalam-dalam,
”Semoga kau bisa melupakan gadis itu, Hans.” Katanya tampak pasrah, bibirnya yang hitam mengulas senyum lemah. Ia perokok berat, asap tembakau membuat bibirnya legam.
***
Ilustrasi karya Joko Santoso

Astrid basah kuyup. Keringat dingin bercucuran di tubuhnya. Parasnya pucat bagai mayat. Bibirnya membiru. Air mukanya kuyu. Sinar matanya lemah. Tubuhnya terkulai lunglai.

”Dia merasa dikejar-kejar sekelompok orang yang hendak memperkosa.” Begitu tiba di rumah sakit dari turun gunung, aku langsung menjumpainya.

Dokter Fransiska yang mengatakan itu, menceritakan dengan panjang lebar dan rinci. Aku yang masih kelelahan dan mengantuk hanya bisa mengangguk-angguk lemah, dan sesekali tersenyum.
”Semalam dia membangunkan semua orang, tengah malam menangis hebat lalu cekikikan, suaranya menggema menakutkan, menyeringai, dan berteriak tolong-tolong tanpa henti, terpaksa kami membiusnya. Tampaknya ia terserang teror tidur, night terrors kau tahu?”
Aku menggeleng. 

”Dia berulang-ulang bangun tiba-tiba dari tidur, mulai dengan berteriak karena panik, disertai perasaan takut yang hebat, seluruh tubuhnya bergetar, gemetar hebat, jantungnya berdebar-debar, pupil matanya melebar, dan berkeringat dingin.”
Melihatku terdiam, suster baik hati itu menambahi, ”Ini bukan mimpi buruk. Tubuhnya menekuk, kedua tangannya menutupi kemaluannya, seolah melindungi dari perbuatan jahat. Posisi tubuh yang aneh itu terlihat kaku, dan hingga pagi datang kami tak bisa mengubahnya. Saat sinar matahari menyelinap di kamarnya, ia baru mulai menggerakkan tubuhnya.”
Aku akhirnya mengangguk lemah. Rasanya dalam keletihan yang amat sangat ini aku ingin menyerah pada semua hal. Keluarga besarnya tak ada yang peduli, pihak rumah sakit pasti menelepon aku sehubungan dengan kondisi Astrid, tak ada siapa pun di dunia ini yang peduli padanya. Aku hanya jatuh cinta pada matanya, yang telah membuatku merasa hidup tak seorang diri, yang membuatku merasa ada gunanya hidup di dunia ini, walau itu sekadar menemani hari-harinya yang hampa.
***
Aku masih menyimpan sobekan koran 17 tahun lalu itu. Membacanya dengan dada sesak. Harian Warta Indonesia tanggal 19 Mei 1998 dengan nada sedih melaporkan dalam salah satu beritanya:
Dalam kurungan lautan api yang dibakar massa, sekelompok orang seolah dikomando merangsek masuk ke sebuah kamar, dan entah apa yang terjadi di dalamnya. Esoknya ditemukan seorang gadis keturunan Tionghoa dengan pakaian tercabik-cabik dari reruntuhan bangunan itu. Ia berhasil diselamatkan sementara kedua orangtuanya telah gosong terbakar. Dari KTP di sakunya, gadis bernama Astrid ini segera dilarikan ke rumah sakit.
Dari suster muda aku mengetahui sedikit kejadian itu. Ia bercerita, ”Sebelum Astrid gila -katanya, aku selalu menyanggah istilah jelek itu, dengan terbata-bata dia bercerita diperkosa beramai-ramai, suara pinta tolong dan kasihan dibalas dengan cekikikan dan tawa menyeringai dari para pemerkosa.”
Hari ini saat cerita ini ditulis berarti telah 17 tahun berlalu, namun kepedihan
karena peristiwa itu menyeret hidup kami dalam kubangan depresi yang begitu lama. Barangkali kejadian itu bagai rol film yang selalu berputar di kepala Astrid, dan membuat kepalanya mengalami disfungsi otak, seperti kata suster kepala, ”Dia mengalami depresi berkepanjangan dan demensia hebat akibat pendarahan di otaknya.”

***
Aku hanya mahasiswa yang kerap makan di depan rumahnya saat itu. Tepatnya ruko, bawah buat toko dealer motor dan atasnya buat rumah. Warung makan ‘Bu Sri’ yang menyediakan masakan Jawa selalu menjadi tempat favoritku buat sarapan menuju kampus.
Setiap pagi aku selalu bertemu dengannya yang kerap membeli sayur untuk lauk para pegawai tokonya. Saat itulah aku jatuh cinta padanya, pada matanya yang sipit, dan bening bagai telaga. Aku tak bisa lagi berpaling pada mata yang lain. Hingga kini, hingga 17 tahun kemudian, walau mata itu selalu tampak kosong dan hampa. ❑ – k
Solo, 19 Mei 2015
Rujukan:
[1] Disalin dai karya Han Gagas
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 24 Me 2015