Kau Sedang Membaca Apa

Karya . Dikliping tanggal 10 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

KETIKA merebahkan badan, laki-laki itu melihat sebuah layang- layang. Angin tak begitu kencang dan layang-layang itu terlihat tenang—sesekali saja bergerak lamban ke kiri dan ke kanan. Laki-laki itu tersenyum, mencoba meyakini apa yang tiba- tiba muncul dalam benaknya.

“Kau telah berhasil membuat mereka bermain, rupanya.”

Seorang perempuan menoleh kepadanya, lalu tertawa. Perempuan itu sejak tadi sibuk membidikkan mata kamera ke bebukitan di kejauhan.

“Serius. Kau telah berhasil,” tegas laki-laki itu.

“Anak-anak itu pasti sudah sering melakukannya. Kami memanfaatkan bambu bekas dan tas kresek. Juga benang yang sengaja kubawa dari kota,” tanggap perempuan itu, seraya kembali membidikkan kameranya.

Laki-laki itu terus memandang ke langit terbuka. Cuaca sore cerah dan angin terasa lebih dingin. Ia merasa cukup beruntung dengan sweater abu-abu yang selalu melekat di tubuhnya sejak gempa dahsyat melanda. Setidaknya, itu bisa mengurangi rasa dingin yang menggigit setiap malam di dalam tenda pengungsian.

“Kapan terakhir kali kau main layang-layang?” tanya perempuan itu.

Laki-laki itu memicingkan mata. Secercah matahari sore jatuh di wajahnya. Seraya mengamati layang-layang yang semakin meninggi, ia bergumam tak jelas.

“Sepertinya semakin tak terkendali,” jawab laki-laki itu seraya mengarahkan telunjuknya ke angkasa.

Layang-layang itu tampak sedang terbang bebas. Rupanya angin bertambah kencang dan layang- layang itu terputus dari benangnya. Perempuan itu memperhatikan beberapa saat. Lalu seolah-olah telah menemukan sudut yang tepat, ia membidikkan kameranya ke angkasa.

“Putus!”

“Iya. Putus!” timpal laki-laki itu.

Laki-laki itu bercerita, sehari sebelum malam yang mencekam itu, ia bersama anaknya mengunjungi sebuah desa di kaki bebukitan. Di desa itu tinggal seorang kerabat dekat yang mempunyai seorang anak laki- laki usia enam tahunan. Anak bungsunya—yang baru menginjak usia lima tahun—selalu bergembira ketika diajak ke sana. Kedua bocah itu begitu akrab. Biasanya, anaknya selalu merengek minta bermain layang-layang. Beruntunglah, di desa itu ada sebuah gerai sederhana yang khusus menjual layang-layang dengan berbagai bentuk dan gaya. Desa itu memiliki hamparan lembah luas dan subur yang dikelilingi jajaran bukit. Biasanya pelancong yang datang ke tempat itu akan senang menyempatkan waktu untuk bermain layang-layang bersama penduduk setempat.

“Tempat yang indah dan menyenangkan. Kau pasti sering ke sana, ya?”

“Pernah beberapa kali,” jawab laki-laki itu. “Di tempat yang menyenangkan itulah rumah- rumah rata dengan tanah. Dan bocah itu… tak tertolong.”

“Aku turut berduka. Tujuh skala Richter, tak bisa kubayangkan.”

“Kau sedang apa waktu itu?”

Perempuan itu tak segera menjawab. Ia kembali asyik dengan kameranya. Sekumpulan anak-anak yang sedang bermain di luar tenda, terperangkap dalam kameranya.

“Aku sedang membaca,” jawab perempuan itu kemudian.

“Kau sedang membaca apa?”

“National Geographic.”

Perempuan itu bekerja untuk sebuah kantor berita independen. Ia datang sehari setelah gempa yang meluluhlantakkan sebagian besar pulau itu. Laki-laki itu mengenalnya pada suatu waktu. Mereka pernah terlibat dalam sebuah proyek penelitian buruh migran. Tapi, itu sudah cukup lama. Laki-laki itu bahkan harus memutar seluruh ingatannya ketika perempuan itu menghubunginya beberapa jam setelah gempa.

“Jadi benar, kau hanya ingin jadi relawan?” tanya laki-laki itu tiba- tiba.

Perempuan itu tertawa. Ia seperti seseorang yang sedang berkemas: memasukkan kameranya ke dalam tas, merapatkan rompi jaketnya dan membenahi letak topinya. Sesaat setelah melirik arloji di tangannya, perempuan itu mulai berjalan menuju deretan tenda.

“Benar,” jawab perempuan itu. “Tapi, aku tetap mengirim foto. Terutama soal penanganan trauma.”

“Kau mengerti banyak soal trauma healing, ya?”

Perempuan itu kembali tertawa. Laki-laki itu berjalan beriringan agak berjarak dengannya. Saat mereka tiba di tanah lapang, beberapa orang dan anak-anak menyapa mereka. Perempuan itu berhenti sebentar sebelum memasuki tenda. Ia menoleh ke arah laki-laki itu dan bertanya.

“Kau sedang membaca apa waktu itu?”

“Gadis Jeruk,” jawab laki-laki itu spontan.

“Oh. Aku lebih suka Dunia Sophie. Jostien Gaarder, kan?”

Laki-laki itu hanya tersenyum. Ada sesuatu yang ingin ia katakan sebenarnya, bahwa ketika bencana itu terjadi, ia sedang membaca Buah Jeruk—salah satu cerpen karya Ryunosuke Agutagawa. Tapi, entah kenapa, tiba-tiba saja yang keluar dari mulutnya adalah Gadis Jeruk, sehingga perempuan itu menganggapnya sebagai novel karya Jostien Gaarder.

“Aku akan pulang besok. Sudah mulai aman sepertinya.”

“Besok aku ke kota, melihat rumah. Aku bisa mengantarmu ke bandara.”

Setelah sosok perempuan itu lenyap ke dalam sebuah tenda, laki-laki itu bergabung dengan sekelompok pengungsi yang sedang duduk-duduk di ujung tanah lapang. Langit mulai meremang dan kecemasan yang samar mulai berdebar di dada setiap orang.

***

Laki-laki itu segera kembali ke kamp pengungsian. Tak ada gunanya berlama-lama di kota— dengan rumah yang retak-retak dan segala sesuatu yang nyaris tak ada—pikir laki-laki itu. Ia membawa beberapa lembar pakaian hangat, obat-obatan seadanya, dan sebuah notebook. Ia tak sedang diburu waktu bulan itu. Pekerjaannya sebagai editor lepas untuk buku-buku fi ksi bertema perjalanan, sudah mulai longgar. Selain dirinya sendiri, tak ada lagi yang perlu dicemaskan di kota itu. Istri dan anaknya—yang berpisah dengannya sejak satu tahun sebelumnya— sudah berada di tempat yang aman. Mungkin kedua orang yang selalu dicintainya itu akan tinggal lebih lama di sana. Ia ingat, dulu sebelum berpisah, istrinya pernah mengajaknya pindah dari kota itu, tapi ia menolaknya.

Sore itu—tepat seminggu setelah gempa besar—ketika ia tengah duduk-duduk sendirian di tempat yang lebih tinggi tak jauh dari kamp pengungsian, ia teringat kembali kebersamaannya dengan anaknya. Anaknya merajuk, meminta untuk tinggal semalam lagi di rumah kerabat dekatnya. Susah payah ia merayunya, agar anaknya mau kembali ke kota bersamanya. Bagaimana pun ia harus mematuhi pesan mantan istrinya, bahwa anak itu akan masuk sekolah keesokan harinya. Saat mengingat kembali peristiwa itu, ia merasa lebih beruntung. Ia tak bisa membayangkan bagaimana seandainya ia menuruti permintaan anaknya. Malam harinya, guncangan 7,0 SR menghancurleburkan seluruh desa itu. Guncangan hebat itu juga menghancurkan beberapa bangunan di kota. Keesokan paginya, ia kembali ke desa itu, hanya untuk menyaksikan kepedihan yang lainnya: nyawa anak kerabat dekatnya itu tak tertolong karena tertimpa reruntuhan. Ia tak berani mengabarkan hal mengenaskan itu kepada anaknya sendiri. Ia tahu, anak bungsunya memiliki hubungan dekat dengan anak laki-laki usia enam tahunan itu. Ia berpesan kepada mantan istrinya agar mengatakan bahwa untuk sementara anak itu baik-baik saja.

“Tenang saja, aku paham soal itu. Meski sepertinya ia mulai curiga,” ujar mantan istrinya saat ia mengabarinya lewat ponsel. “Ia selalu ingin kembali ke sana.”

Jangan kembali dulu. Nanti saja, setelah semuanya benar-benar normal.”

“Apa tak sebaiknya kau juga pergi ke tempat lain?”

Laki-laki itu terdiam beberapa saat. Jeda itu terisi oleh suara anak- anak yang sedang bermain dan gemerisik tenda-tenda terpal yang diterpa angin kencang.

“Aku di sini saja. Aku pasti akan menjenguknya…”

Selanjutnya jeda kembali. Lalu obrolan itu berakhir dengan datar. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket. Tak berapa lama kemudian, bumi bergetar dan kepalanya terasa pusing. Sebuah truk bermuatan penuh baru saja datang. Ia segera bergabung dengan para relawan.

***

Laki-laki itu sadar sepenuhnya, bahwa dirinya sedang berada di dalam tenda dan tak perlu mencemaskan reruntuhan bangunan yang akan menimpanya. Tapi ketika guncangan dahsyat itu terjadi, ia menghambur keluar seperti para pengungsi lainnya. Listrik padam seketika, dan malam kembali menjadi teror untuk kesekian kalinya. Orang-orang berteriak-teriak. Orang-orang menyebut nama Tuhannya: lebih histeris, lebih mengiba dari sebelumnya. Anak-anak kembali menangis. Ia pun larut dalam kekacauan yang mencekam itu.

Malam itu terjadi gempa susulan yang ketiga—yang kemudian diralat dalam sebuah situs pemerintah sebagai gempa baru. Saat ia sedang mencari informasi lewat akses internet dari ponsel yang selalu disiapkan di kantung jaketnya, sebuah nomor yang dikenalnya menghubunginya. Ia pun segera menerimanya.

“Kau baik-baik saja, kan?” tanya seseorang nun jauh di sana.

“Ya, Tuhan. Tujuh skala Richter…” jawab laki-laki itu.

“Tapi kau baik-baik saja, kan?”

Laki-laki itu tak segera menjawab.

“Kau sedang membaca apa?”

Laki-laki itu masih diam.

“Kau tahu, aku sedang membaca Gadis Jeruk. Getarannya terasa sampai di sini.”

Laki-laki itu mencoba menyalakan senter di dalam ponselnya. Di tangan kirinya masih menggenggam sebuah buku saku tentang mitigasi bencana.

“Aku tadi sedang membaca sebuah buku kecil,” jawab laki-laki itu. Selepas ia mengatakan itu, bumi bergetar kembali.

Mataram-Jember, Agustus 2018

Tjak S Parlan, sejumlah cerpen dan puisinya sudah diterbitkan media massa. Buku kumpulan cerpennya Kota yang Berumur Panjang (Basabasi, 2017).

[1] Disalin dari karya Tjak S Parlan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 9 September 2018