Kau Tidak Harus Menanggung Beban dari Seluruh Kejadian di Dunia Ini

Karya . Dikliping tanggal 26 November 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Kakakku tiba-tiba menelepon. Ia bilang, terjadi tabrakan beruntun di depan rumahnya. Aku katakan kalau aku juga punya masalah. Bulu, seekor kucing Persia yang kuadopsi dua bulan lalu, hilang di dalam kandang.

Kakakku bilang, pikirannya hitam, begitu hitam, dan kupastikan ia merasa putus asa dan tergugu di balik pintu rumahnya karena tidak sanggup membayangkan darah berceceran di jalan. Aku tahu ia memiliki trauma berat soal itu—juga masih banyak soal yang lain—tapi aku tidak sanggup untuk menyembunyikan kalau ada sesuatu yang juga menggangguku pada pagi ini dan ia mesti mendengarnya.

Panggilan telepon memang sudah dimatikan kakakku. Namun, aku tetap mencoba menjelaskan kepadanya. “Ketika aku bangun pagi ini, aku tidak menemukan Bulu. Padahal, ia berada di dalam kandang yang pintunya sengaja kukaitkan di malam hari, biar dia tidak keluar dan keluyuran. Kandang kucing itu memang kuletakkan di teras depan. Kau tahu aku tidak bisa memasukkannya ke dalam rumah. Nui dan Lora alergi berat bulu kucing. Namun, lihatlah apa yang terjadi sekarang. Bulu hilang. Mungkin diambil orang. Mungkin pula ia lari setelah berhasil membuka kait pintu kandang dengan kakinya. Aku tidak tahu barus mencarinya di mana lagi. Semua tetangga sudah kutanyai.”

Setelah bicara begitu, aku pun melepaskan ponselku.

Setengah mendesah aku memikirkan kakakku yang masih tergugu-gugu di balik pintu. Tanpa seseorang menepuk pundaknya lembut-lembut, tanpa ada yang berbisik: kau tidak barus menanggung beban dari seluruh kejadian di dunia ini.

***

Aku sudah melupakan soal kucing yang hilang (sebaliknya kakakku pasti masih berada di balik pintu dan tak bergerak dari sana). Kesibukan membantuku lebih mudah melupakannya. Aku sudhb tahu sekali tentang itu. Aku berkali-kali menggunakan cara yang sama untuk melupakan sesuatu.

Aku pernah menyukai teman kursus bahasa Inggrisku (aku berseragam SD, ia SMP). Ia anak baru di kota kami. Ia memperkenalkan diri di depan sambil menyebut kota asalnya dan beberapa kali bersin saking grogi (waktu itu aku menganggap ia bersin bukan karena sakit atau terkena debu, tapi karena agak malu). Kejadian itulah yang membuat aku mengingatnya setiap malam. Ia yang bersin di depan saat memperkenalkan diri. Hidungnya yang merah. Matanya agak berair. Bibirnya yang kering dan gemetar. Lalu ia yang bersin lagi. Kalau tidak salah sampai lebih dari lima kali. Kupikir, aku benar-benar telah menyukai anak pemalu itu.

Selama berminggu-minggu, aku berusaha membuat ia menyukaiku. Namun, saat rasanya aku hampir mendapatkan perhatiannya, kakakku tiba-tiba berdiri di pintu ruangan kelas bahasa Inggrisku (bagaimana bisa ia melakukan itu?) dan ia berkata sambil menangis tentang anjingnya yang ditabrak mobil, kepala anjing itu pecah dan jeroannya berserakan di atas aspal.

Besoknya aku menemukan teman kursusku itu duduk di teras rumahku bersama seekor kucing Persia dan kakakku yang kembali tertawa dengan mata sembabnya. Rupanya, kehadiran kakakku yang kacau di pintu kelas bahasa Inggris membuat lelaki itu terkesan.

Dan hari itu pula aku belajar bahwa sesuatu (seseorang yang kau sukai atau pengalaman buruk) bisa dilupakan dengan cara membuat kesibukan-kesibukan.

Aku menggambari tembok pagar di sore hari. Bunga dan daun-daun. Merah dan hijau. Kuberi dua ekor semut oranye terang di cabangnya. Aku keluyuran mengumpulkan botol plastik bekas minuman. Di sekolah, aku belajar cara memanfaatkan botol plastik bekas. Aku membuat proyek daur ulang di belakang rumah. Aku memanjat pohon, duduk di cabang rendah, dan belajar bersiul.

Begitu pelajaran pertama itu kulalui, aku bertemu pelajaran kedua, ketiga, hingga tidak terhitung lagi. Aku tentu sudah lama tidak lagi kursus bahasa Inggris. Begitu juga anak lelaki itu kemudian sudah lama pula menghilang dari kehidupan kakakku (ia pindah lagi ke kota yang lain dan mungkin juga bersin saat berkenalan di depan kelas).

Kakakku kembali murung— sepanjang waktu ia murung dan kembali ke pembawaan aslinya. Ia gagal mengambil sesuatu dan tak mendapatkan pelajaran apa-apa dari kepergian anak lelaki itu—termasuk untuk lebih tulus mencintai kucing Persianya sebagai kenang-kenangan. Kata kakakku, seekor kucing bagaimanapun berbeda sekali dengan seekor anjing.

***

Menanggung BebanKakakku kembali menelepon, tapi aku tidak mengangkatnya. Ia sudah terlalu banyak meneleponku selama ini. Terlalu banyak membuang sampah ke lubang telingaku sampai-sampai aku tak memiliki kesempatan mendengar sesuatu selain cerita tentang hal yang menyangkut dirinya, dari pagi hingga malam, sampai paginya lagi, terus-menerus, sejak aku berusia sebelas, saat pertama ia berani berterus terang kepadaku bahwa seorang tetangga kami baru saja bermain-main dengannya.

Lelaki paruh baya itu bilang kepada kakakku. “Apa di dadamu ada sepasang kura-kura?” (Kemungkinan ia terkekeh-kekeh saat menanyakannya). Kakakku yang merasa tertantang segera menyingkap bajunya untuk memperlibatkan sepasang kura-kura kecil dengan kepala mungil merah jambu. Sepasang kura-kura tidaklah cukup bagi paman yang hidup sendirian itu. Ia penasaran, ingin tahu apa ada binatang lain dalam rok kakakku.

“Kenapa kau melakukannya?” Itu reaksi pertamaku atas cerita kakakku.

“Bereksperimen.” Ia berkata santai sehingga aku sulit memprediksi apa yang sebenarnya ia rasakan; takutkah, bingungkah, kecewakah, atau memang tidak apa-apakah.

Pada hari pengakuannya itu, tetangga kami (yang punya sebatang mangga terus berbunga, terus berbuah, dan kami senang memanjatinya) dipukuli oleb Ayah sampai babak belur. Begitu bangun tidur besoknya, kami tak lagi menemukan tetangga kami dan untuk selamanya ia tak kembali. Kehilangan seorang tetangga yang (kami kira) baik—ya, ia sungguh paman yang baik, paling tidak sampai kemudian ia melakukan perbuatan cabul itu—membuat kami lama hidup dalam ketidakmengertian atas apa yang terjadi.

Nenek terlanjur menyukai tetangga kami. Bahkan memuji-mujinya terus. Ibu sering menitipkan Nenek kepadanya saat kami liburan keluarga. Menitipkan di sini maksudnya si tetangga memantau keadaan Nenek di rumah. Apakah Nenek sehat saja. Apakah stok makanan cukup. Apakah air minum masih ada. Apakah obat asmanya belum habis. Banyak sekali apakah lain yang ditangani lelaki paruh baya itu dan untuk itu bagaimanapun ia pernah berharga bagi kami.

Ibu jadi suka uring-uringan dan sering sekali berkata tiba-tiba, “Dasar bajingan!” Ibu orang yang selama ini paling hati-hati mengeluarkan bujatan. Namun, apa boleh buat, semua berubah. Kakakku tidak terlalu memedulikan apa yang terjadi padanya. Ia bilang kepadaku,

“Aku tidak masalah melakukan sesuatu dengan Paman.”

Aku memperingatkannya untuk tidak sekali-kali mengatakan hal bodoh itu kepada Ayah atau Ibu. “Kau bisa dibunuh Ayah. Ibu bisa ikut mati,” kataku yang belum melupakan keganasan Ayah memukuli paman tetangga cabul.

Kakakku cengar-cengir seolah baginya memperlihatkan sepasang kura-kura di dada dan binatang dalam roknya pada seorang lelaki cuma soal kecil saja dan tak lebih besar dari sekian hal sepele yang kemudian ia permasalahkan dalam hidup ini: setitik darah, cecak mati, petir, suara yang keras, bunyi jangkrik, bunyi kaki asing, selembar rambut rontok.

Lalu, setelah kehadiran lelaki pemalu teman kelas bahasa Inggrisku dalam hari-harinya, sesuatu yang ia permasalahkan (dan ceritakan kepadaku) jadi bertambah menjadi satu kali lipat lebih banyak: rambut berminyak. Sepatu berdebu. Bau mulut. Bintik di wajah. Membosankan. Kurang berani. Terlalu sering menelan ludah. Terlalu banyak menunduk.

Lama-lama aku mengerti, kakakku banya butuh segala sesuatu mesti memuaskannya. Mungkin saat aku lahir, aku melukainya secara tak sengaja, sebab ia tak lagi menjadi tuan putri yang bisa mendapatkan segalanya. Ibu dan Ayah menjadi lebih sibuk mengurusku (karena aku imut, aku montok, aku menggemaskan). Kakakku lebih sering sendirian (karena ia tak lagi imut, tak montok, tak menggemaskan). Ia makin bertingkah. Ibu makin menyayangi aku. Kakakku berubah sensitif dan sengaja membuat semua hal menjadi sebuah masalah besar (kecuali soal ulahnya dan paman yang menjijikkan itu). Sementara, aku yang dilimpahi kasih sayang, tumbuh matang.

Aku menyadari kesalahan banyak orang terhadapnya itu dan membayarnya dengan menjelma sebagai tempat sampah yang sangat setia baginya. Bukan apa-apa. Aku memang seperti tidak punya pilihan lain. Aku mencoba menjadi ibu kecil yang pengertian dan penuh kasih sayang. Kukatakan kepadanya, kau bilangin saja semuanya. Apa lagi yang dilakukan paman? Apa lagi? Apa lagi? Aku masih kelas lima sekolah dasar dan aku tidak tahu bagaimana aku menjadi dewasa secara mendadak pada waktu itu.

Begitu umurku dua puluhan, aku mengganti kalimatku: dengar, kau bisa mengatakan semuanya kepadaku tanpa harus berpura-pura kalau kau tak ada masalah. Aku ini pendengar terbaik bagimu. Ingat ya, jangan menyembunyikan apa pun dariku. Katakan semua yang ingin kau katakan. Kita akan menghadapi bersama-sama. Kau harus percaya kepadaku.

Dan, kalimatku di usia dua puluhan itu pun menjadi penyesalan terbesarku saat ini, sesudah kalimat sok dewasaku di umur sebelas tahun.

Kalau saja mau jujur, sesungguhnya aku sendiri banyak masalah. Namun, di hadapan kakakku, aku menjadi seseorang yang menyerahkan kedua telinga untuk dipenuhi bunyi lebah dan kini untuk pertama kali aku merasa kalau itu sebuah kesalahan. Tidak semestinya aku menjadi seorang ibu kecil pada waktu itu, bila nyatanya aku sering berteriak diam-diam (berteriak dengan suara yang sengaja dibungkam dan itu rasanya sangat sakit?) di kamar mandi sambil melawan rasa ngeri; ngeri terbadap paman tetangga yang keji; ngeri terbadap berbagai hal lainnya yang kudengar dari kakakku, tapi tidak pernah lagi kuceritakan kepada siapa pun, sebab keluarga kami sudah terlalu banyak persoalan (waktu itu Nenek jadi sering jatuh sakit, Ayah dan Ibu kerap bertengkar) dan aku tidak mau menambahi daftarnya. Untunglah aku cepat tahu bahwa kesibukan dapat membantuku melupakan hal-hal menyakitkan.

***

Kakakku kembali menelepon dan aku tetap tidak mengangkatnya. Aku berkata kepada ponsel yang layarnya menampilkan nama kakakku: kau tidak harus menanggung beban dari seluruh kejadian di dunia ini. Kata-kata yang ratusan kali pernah kusampaikan kepadanya.

Akan tetapi, tak lama setelah itu, sekonyong-konyong aku melihat ia berdiri di pintu rumahku dan memeluk sesuatu yang tampak sangat kotor dan basah di dadanya.

Ia berkata resah, “Tukang salon melakukan kesalahan terbadap rambutku. Lihat ini, libat saja, ia memotongnya kelewat pendek.”

“Bulu tidak pulang-pulang,” kataku kembali memberinya pengertian kalau semua orang sebenarnya punya masalah, tapi bisa mengatasinya.

Kakakku kembali mengatakan tentang rambutnya yang dipotong kelewat pendek dan ia sangat menyesalinya. Seharusnya ia tidak memiliki rambut sependek itu. Model rambut bob—dan ke pendekan pula, tak cocok untuk wajahnya. Pada menit-menit berikutnya, aku tak lagi memperhatikan apa yang kakakku bicarakan. Aku terpaku pada sesuatu di dada kakakku yang ternyata bangkai seekor kucing. []

Yetti A. KA, lahir di Bengkulu dan kini tinggal di Kota Padang, Sumatera Barat. Beberapa buku cerita pendeknya yang telah terbit di antaranya Musim yang Menggugurkan Daun (2010) dan Satu Hari Bukan di Hari Minggu (2011). Tahun 2005, cerpennya, “Musim yang Menggugurkan Daun”, menerima Anugerah Kebudayaan Menteri Kcbudayaan dan Pariwisata. Kumpulan cerpennya, Kinoli (2012), juga masuk 10 besar Khatulistiwa Literary Award tahun 2013 untuk kategori prosa.

I Made Wahyu Friandana, lahir di Denpasar, 17 April 1995. Sedang menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta. Selain dikenal sebagai pelukis, Wahyu juga drummer dari dua kelompok band underground, Nalais (Bali) dan Virtual Doom (Yogyakarta). Sehari-hari ia bekerja sebagai seniman tato di Yogyakarta. Karya-karyanya mulai dipamerkan tahun 2013 di ISI Yogyakarta dan Taman Budaya Yogyakarta.


[1] Disalin dari karya Yetti A. KA
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 25 November 2018