Keadilan? – Desember Kelabu – Ibu, Aku Mencintaimu – Aku Ingin Tenang – Angan-Angan – Lamunan Air Mata

Karya . Dikliping tanggal 18 Desember 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Republika

Keadilan?

Mereka berkelahi dengan angin
Berduel dengan ilalang-ilalang
pongak
Mencoba menentang matahari
Ngilu dadaku
Sesak napasku
Ibu pertiwi terbakar api
Di mana keadilan?
Hanya jabatan tanpa kemanusiaan

Desember Kelabu

Desember 
Kali ini tak lagi sama
Tak ada lagi aroma kuntum
Nyanyian angin dan tarian bintang
Kelam, kusam, buram
Langit tak lagi menyapa
Hanya diam
sunyi dalam kerinduan
Malam beranjak
Pagi tersentak
Mentari terpaku
Pelangi tak lagi berwarna
Hampa tanpa jejak
Hilang tanpa kata
Hanya kecewa yang tersisa

Ibu, Aku Mencintaimu

Laksana jantung yang tak
henti-hentinya memompa darah
 ke seluruh tubuh
Kau adalah oksigen yang mengalir
di setiap aliran darahku
Bahagiamu adalah makrinutrien
di hidupku
Dukamu adalah klorosis dan nektrosis
yang menjadi defisiensi 
di hidupku
Kau adalah klorofil yang menjadi 
syarat utama bahagiaku
Bagaimana mungkin aku mampu
berfotosintesis tanpa cahaya kasih
sayangmu
Ibu, aku mencintaimu
Laksana pertumbuhan yang
bersifat irreversible
Rasa itu selalu bertambah
Terima kasih telah menjadi hormon
akusin di hidupku
Aku berjanji
Tak akan menjadi hama 
di hidupmu
Aku berjanji 
akan menjadi tumbuhan  
yang tinggi
Melindungimu dari teriknya 
mentari
Menjagamu dari maraknya polusi
Ibu, aku mencintaimu

Aku Ingin Tenang

Gaduh, ricuh
Aku benci
Resah, gelisah
Aku tak suka
Apa aku harus ke pantai?
Biar santai, biar damai
Atau aku harus mati?
Biar sepi, biar sunyi
Aku ingin tenang

Angan-Angan

Aku masih di sini
Di tempat yang kuhampiri
Tanpa tau kapan akan pergi
Kau ku nanti
Dalam diam, pengap, sesak di dada
Inginku bersamamu
Inginmu bersamanya
Mauku memelukmu
Maumu memeluknya
dekap aku
Lepaskan dia

Lamunan Air Mata

Kala itu aku memandangmu
Dengan harapan selalu bersamamu
Kuberharap mentari selalu bersinar
di matamu
Dengan pelangi yang indah 
di pancaran wajahmu
Kini mentari telah menghilang
Pelangi yang indah pun 
telah melayang
Hanya mendung yang kian 
membayang
Di pancaran wajahmu tulang harapan
Hingga akhirnya kutersentak
Aku tak pernah beranjak
Dari tempat yang ku hampiri
Hingga akhirnya ku pergi 
Barulah kini ku sadari
Hujan telah terjadi
Selamat jalan ayah
Doaku menyertaimu.
Yulia Arafika. Lahir di Jambi, 07 Juli 1996. Mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Padang (UNP).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yulia Arafika
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” Minggu 18 Desember 2016