Keberanian Lia

Karya . Dikliping tanggal 19 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
LAGU Bunda dari Melly Goeslaw terdengar, emngiringi isak tangisnya sambil memandangi lampu kota melalui jendela kamar. “Ah kenapa lagu itu yang diputar, radio sialan!” batinnya sambil mengusap air matanya yang masih deras menetes. Ia menutup gorden jendela dan seegra tidur.
***
“PAGI Yah, mau goreng telur apa beli saja sarapan pagi ini?” sapa Lia pada ayahnya yang ada di dapur sambil membuat minuman hangat untuk mereka berdua.
“Pagi, kita makan di luar saja sambil mengantar kamu sekolah bagaimana?” balas ayahnya yang langsung disambut cerita Lia, gadis 17 tahun, siswi kelas 2 SMA. Pagi itu mereka berangkat bersama. Ayahnya menuju tempat kerja, Lia menuju sekolah. Motor butut menjadi transportasi mereka sehari-hari.Lia dan ayahnya termasuk keluarga sederhana yang hanya mampu membeli kebutuhan sehari-hari dan sedikit berbelanja untuk kesenangan mereka.

Akhirnya mereka berhentidi sebuah warung soto sebelum memulai aktivitas pagi itu.

***

“HAI Lia,” sapa Rina, teman sekelas.

Terlihat beberapa teman perempuan sekelas bergerombol di satu meja.

“Pasti si Maya obral cerita lagi,” batin Lia sambil melirik gerombolan temannya di belakang yang langsung disambut rangkulan Rina.

“Yuk keluar dulu,” ajak Rina yang mengetahui yang sedang dipikirkan sahabatnya itu.

“Eeh tunggu, kalian bedua mau ke mana?” Orang yang dikenal sebagai Maya, gadis kaya nan sombong di kelas itu menahan langkah kaki mereka untuk keluar.

“Sinis gitu muka kalian, nggak suka aku cerita di sini? Kalian tau, aku cerita apa barusan? Dan aku nggak mau tahu, kalian harus denger dan ikut cerita di sini,” sambungnya dengan nada kasar, mengancam Lia dan Rina.

Pemilik sekolah itu ayah Maya yang ironinya, ayah Lia bekerja sebagai tukang kebunnya di rumah Maya. Lia dapat bersekolah di situ karena ayah Maya dekat dengan ayahnya. Sedang Lia sebenarnya tidak terlalu suka sekolah itu, siapa saja harus mengikuti perintah Maya jika tidak ingin pihak sekolah mengeluarkan mereka dari ekolah elit tersebut. Lia dan Rina berjalan terpaksa ke arah arah Maya. Diam.

“Dengerin ya babu, aku tadi cerita di sini tentang liburan besok, dan kamu tahu nggak mau ke mana?” tanya Maya kepada Lia.

“Bukan urusanku kamu mau ke mana, apa urusannya?” jawab Lia ketus tidak tahan selalu mendengar cerita-cerita sombong Maya. Lia tidak habis pikir kenapa Maya punya sifat seperti itu sedangkan ayahnya sangat baik hati.

“Apa kamu bilang? Ah terserah yang kamu bilang, aku tetepcerita, kamu tahu aku bakal ke luar negeri? Negeri indah penuh dengan tulip, kamu kan pinter tuh, pasti udah tahu aku mau ke mana?” balas Maya.

‘Terus apa hubungannya sama aku? Apa aku harus bilang ‘wow, kamu ke luar negeri, keren banget, kapan ya aku bisa ke sana, titip oleh-oleh dong’? Nggak penting tahu!”

“He, ini ada hubungannya dengmu. Kamu dan Ayah pembokaymu itu. Kapan terakhir kamu liburan. Aku vuma ingi tahu, sejauh mana kamu liburan. Bandinkan sama aku.Pengen nggak?” teriak Maya sambul tertawa meremehkan.

“Kamu jangan mentang-mentang anak pemilik sekolah ini, kamu dengan gampang menghina temen-temenu ya. Dasar nggak punya perasaan!” bentak Rina sambil keluar kelas mencari Lia.

***

LIA selalu saja berada di tempat yang sama dari hari-hari biasanya saat ia diremehkan Maya. Dua tahu, selama itulah ia selalu di situ dan dalam posisi itu. Tempat itu seolah rumah bagi Lia mengungkapkan segala kekesalannya.Ia tidak pernah bercerita secuil pun tentang masalahnya dengan Maya selama dua tahun itu, takut akan mengganggu hubungan baik ayahnya dengan ayah Maya, meskipun ayahnya hanya sebagai tukang kebun di rumah Maya. Sejak kepergian ibu tujuh tahun lalu, ia bagaikan sebuah koin yang mempunyai dua sisi: sangat pendiam saat berada di sekolah dan selalu asja ceria ketika di rumah. Lia pernah bercerita kepada Rina mengenai hal itu.

“Aku kan nggak boleh sedih di depan Ayah, ia sudah cukup merasakan kesedihan, ia sudah cukup letih raga untuk menghidupiku, aku tidak boleh membuatnya letih pikiran karena aku seperti ini.”

Jika ayahnya tahu tentang hal ini, tidak segan ayahnya akan memindahkannya ke sekolah lain dan membiayai. Lia bertahan di sekolah itu karena di sekolah itulah ia bisa mendapatkan pendidikan gratis, karena kebaikan hati ayah Maya kepada ayahnya. Jika ia pindah, maka ayanya harus membiayai sekolahnya dan ekonomi mereka menjadi kurang untuk bisa mencukupi kebutuhan sehari hari.

***

“Ayah, menurut Ayah, apa kebahagiaan itu selalu berkaitan dengan seberapa besar kekayaan yang kita punya?” tanya Lia sesampainya di rumah.

“Tidak, bahkan tidak pernah sekalipun kekayaan menentukan kebahagiaan. Kekayaan hanya menimbulkan kebahagiaan semu.”

“Lantas kenapa banyak orang yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan kekayaan lalu mereka bersenang-senang dengan kekayaan itu?”

Nduk, ketahuilah satu hal, jika orang-orang mengartikan kebahagiaan, kekayaan, dan apapun itu yang menyenangkan dalam arti duniawi, maka artikanlah berbeda, definisikanlah mereka berbeda bagimu, dengan begitu kau akan menemukan kebahagiaanmu dan kekayaanmu sendiri.”

“Bisa Ayah beri contoh? Lia kurang ngerti gimana maksudnya?”

“Tentu, sekarang kamu bayangkan ada berapa juta orang di dunia ini? Banyak bukan? Secara tidak langsung, muncul anggapan dalam masyarakat bahwa siapa yang kaya pastilah bahagia karena mereka mampu mencukup semua kebutuhan dan keinginan mereka, secara tidak langsung pula muncul anggapan siapa orang yang kaya? Orang kaya adalah orang yang memiliki uang, harta yang melebihi rata-rata orang lain jadi orang yang memiliki harta banyak pastilah itu orang bahagia.”

“Intinya kita jangan cuma ikut-ikutan orang lain kan Yah? Kita punya pendirian kita sendiri yang tidak perlu membandingkan dengan orang lain, tidak perlu sama dengan orang lain,” kata Lia yang langsung disambut kecupan ayahnya.

***

PAGINYA di sekolah, Maya kembali mengumumkan untuk kesekian kalinya kepada teman-teman kalau ia akan berlibur ke luar negeri seperti yang ia sombongkan kepada Lia.

“Hai Lia, kamu tahu? Aku berangkat dua minggu lagi lho, ah pasti dalam hati kamu kepengen, tapi sadar ya kamu itu cuma anak babu, nggak punya duit buat berangkat keluar negeri, alih-alih ke luar negeri mau ke luar kota aja susah,” kata Maya sambil tertawa.

Kali ini Lia tidak menyingkir dari Maya. Sikapnya membuat Rina heran.

“Hai Maya, seneng banget ya bisa ke luar negeri, aduuh siapa juga yang nggak suka liburan? Ke luar negeri pula, pake duit orangtua pula, uuhh iya mentang-mentang masih kecil bisanya minta orangtua, manja! Kapan ke luar negeri pakai duit sendiri? Bisa pakai duit sendiri?” ucap Lia sambil berdiri dan berjalan keluar kelas.

Tersenyum puas melihat muka Maya yang tertegun mendengar jawabannya. []




Ulfa Nafajriati tinggal di Sorobayan Sindumartani Ngemplak Sleman Yogyakarta
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ulfa Nafajriati
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 17 Mei 2015