Kebun Binatang di Dasar Laut

Karya . Dikliping tanggal 4 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Aku terobsesi ingin melihat koala sejak berusia tujuh tahun. Saat itu, aku menyaksikan koala pertama kalinya lewat kertas koran yang jadi pembungkus makanan kami-aku dan Ibu-malam itu; dua iris tempe dan sekepal nasi yang dimakan berdua. Awalnya, kupikir ia adalah seekor tupai karena sama-sama memanjat pohon. Kata Ibu, keduanya juga sama-sama mamalia. Meski begitu, koala memiliki telinga yang lebar dan bundar serta tubuh yang lebih bulat.

Kata Ibu, koala tidak tinggal di negara ini meski aku mencarinya ke hutan yang memiliki banyak pohon. Pada akhirnya, yang akan aku temui tetaplah tupai yang melompat dari satu dahan ke dahan lain, bukan koala yang memeluk batang pohon yang besar dan cokelat.

Kendati demikian, Ibu bilang: “Kau tetap bisa melihatnya di kebun binatang, suatu saat nanti.”

***

Peristiwa beberapa tahun silam selalu berputar di otakku. Bak kaset rusak, ia bisa saja memutar kembali seluruh adegan. Kalau aku sedang bengong, misalnya, peristiwa itu bisa muncul lagi. Kadang-kadang menimbulkan rasa takut tapi lebih banyak tak ada rasanya sama sekali. Waktu itu, usiaku sepuluh, aku hanya bertanya pada mereka apa yang Ibu lakukan hari ini, tetapi mereka memukulku. Mereka benci anak-anak yang suka menangis dan merengek. Oleh sebab itu, mereka menamparku dua kali.

Padahal, aku enggak merengek seperti bayi. Aku hanya tanya, bagaimana kabar Ibu siang kemarin? Tak ada yang memberi jawaban dengan ucapan. Malahan, aku kena bogem lagi di pipi, punggung, dan perut. Bagi mereka, semua anak yang bertanya tentang ibu mereka dengan intonasi dan cara seperti apa pun: dianggap telah merengek.

Mereka akan bilang, “Cengeng!” lalu memukuli kami lagi hingga semuanya lebam. Tentu sangat sakit sekali. Sakitnya hingga membuat biru jadi gelap.

Pada gelap itu, aku bisa melihat ibu berdiri di sebuah taman. Di sekelilingnya ada tumbuhan aneh dan binatang-binatang berkulit licin. Apakah itu yang dimaksud dengan kebun binatang? Aku tak tahu. Soalnya, aku belum pernah pergi ke kebun binatang.

Di sana, di bawah pohon berdaun panjang dan keriting, aku melihat Ibu menggendong seekor koala. Kemudian semuanya bergoyang seperti benda-benda di dalam air.

***

Sebelumnya, aku dipisahkan dengan Ibu. Jadilah aku di sini, bersama anak-anak yang lain, menangkap ikan di tengah lautan. Daratan rasanya jauh sekali. Aku nyaris lupa seperti apa tanah dan rupa pohon. Semuanya biru dan luas. Terlalu luas bagiku hingga aku merasa begitu kecil. Rasanya aneh, seperti hanyut, tetapi tidak tenggelam. Kosong dan luas, tetapi begitu menyesakkan. Ah, rasanya juga selalu bergoyang. Tiada hari tanpa guncangan.

Bertahun-tahun di tempat ini, satu-satunya hewan yang kutemui hanyalah ikan-ikan. Itu pun, kami harus menangkapnya banyak-banyak dan tak pernah melihatnya lagi. Rasanya, pasti menyakitkan ketika dipisahkan dari kawanan ikan yang lain, kemudian masuk boks es, dan tak pernah bisa kembali ke tempat tinggalmu. Rasanya mungkin hampir sama denganku, dipisahkan dari Ibu, dan tak pernah lagi melihat daratan.

Sehari-hari, kami menangkap ikan banyak sekali. Ikan-ikan itu akan dibawa kapal yang jauh lebih besar dari tempat kami, kemudian mereka pergi entah ke mana. Mungkin ke pasar. Sebab, aku pernah lihat ikan mati di pasar. Atau di restoran cepat saji. Sebab, aku pernah melihatnya. Meski begitu, aku dan Ibu tak pernah membelinya. Hingga sampai berada di atas kapal ini pun, kami tentu tak pernah ikut memakannya. Kalaupun pernah, kami hanya memakan yang sudah dikeringkan. Itu pun hanya agar bau busuknya tidak terasa.

Kami bekerja siang dan malam tanpa boleh mengenal lelah. Kami sering sekali kelaparan. Di daratan, aku sebetulnya terbiasa lapar. Tapi rasanya tidak aneh. Di tempat ini, rasa lapar malah membuatku sesak dan ingin muntah.

Mula-mula, rasanya memang menakutkan sekali. Aku menangis sambil memanggil Ibu. Katanya, semua anak-anak yang datang ke tempat ini pasti begitu. Menangis keras sekali sampai tak bisa berucap apa pun, membisu dengan sendirinya. Kami akan sibuk bekerja, ngobrol adalah suatu hal yang jarang sekali kamu lakukan. Kami hanya akan bergumam. Dan yang paling banyak kudengar, anak-anak berbisik memanggil Ibu mereka.

Lambat laun, perasaan takut itu menyelimur, tersamarkan oleh perasaan aneh lainnya. Entah karena aku telah menjadi lebih berani atau hanya terbiasa. Aku tak bisa membedakan keduanya. Semua terlihat biasa saja-bahkan pada kematian yang berulang kali kusaksikan. Mereka tak lagi terasa menakutkan.

Terlalu banyak kematian yang kami saksikan di sini. Tentu saja tidak hanya pada ikan yang kami tangkap. Tapi pada teman-teman kami. Biasanya, kami hanya akan terdiam dengan berpura-pura sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Semua akan biasa saja. Minggu depan, akan ada yang mati lagi, kemudian datang anak-anak baru, lalu mereka menangis karena takut, kemudian mereka bekerja tanpa banyak bicara.

Jadilah semua yang pada awalnya menakutkan bagi kami menjadi biasa saja. Jika ada teman yang dipukuli, biasa saja. Jika ada yang mati, biasa saja. Ada yang kelaparan, biasa saja. Kami sudah terbiasa dengan semua ini. Sama seperti luasnya lautan, rasanya hanya kosong dan hampa. Jika pun suara gemuruh badai ombak mengiringi kegelisahan kami, suaranya seolah terdengar hanya samar-samar.

Mayat-mayat kami dikubur di lautan tanpa ritual yang sakral. Hanya tubuh kami yang belum mati betul akan dibuang ke laut lepas. Kata salah satu lelaki yang sehari-hari mengawasi kami, ikan-ikan akan masuk surga karena memberi makan manusia. Dan anak-anak yang mati di sini juga akan masuk surga karena memberi makan ikan-ikan.

Hanya ada tiga kematian yang menghantuiku dengan ketakutan. Kematian pertama, kedua, dan ketujuh belas. Ah, aku bahkan menghitungnya. Aku tak pandai berhitung sebetulnya. Aku bahkan tak lulus sekolah sadar. Semoga hitunganku salah, atau mungkin itu hanya kematian yang aku tahu.

Kebun Binatang di Dasar LautSemua orang akan merasakan kegelisahan yang mahadahsyat untuk setiap pengalaman pertama hingga kedua. Itu yang aku rasakan ketika melihat Hanip dan Tepu mati. Sisanya, biasa saja. Hingga kematian ketujuh belas mengingatkanku pada perasaan yang sama persis dengan apa yang kurasakan ketika melihat kematian pertama. Yang mati hari itu adalah Topan, anak yang paling dekat denganku. Usianya dua belas tahun. Sudah kuanggap adik karena usianya terpaut dua tahun denganku.

Waktu itu, dia meringkuk di pelukanku, sambil menangis meminta Ibunya. Aku ingin sekali memberikan ibu Topan padanya. Tapi aku bahkan tak pernah tahu ke mana ibuku. Aku hanya bisa melindunginya dari seorang pria bertubuh besar yang terus menginjak-injak tubuhku, menyuruhku melepaskan Topan yang masih menangis sesenggukan sambil memanggil-manggil Ibunya. Semua anak yang hendak mati pasti mencari ibu mereka, mencoba mendapatkan perlindungan.

“Lepas, brengsek! Anak itu sudah mau mati!”

“Dia masih menangis. Kita bisa beri dia obat.”

“Anak itu tak akan sembuh, tolol! Tidak ada yang sembuh setelah sakit di sini. Biarkan dia mati, minggir!”

Lelaki itu menarik tubuhku sampai terhantam tembok. Aku masih bisa mendengar Topan menangis. Anak-anak yang lain tampak diam, meski wajah mereka sangat tegang. Aku yakin, di kepala mereka ada suara raungan yang berisik. Tapi mulut mereka tetap sunyi. Apakah ini yang disebut dengan perasaan takut? Aku tak tahu.

Esoknya, aku tak pernah melihat Topan lagi. Awalnya, rasanya biasa saja. Kematian Topan sepertinya sama saja dengan keempat belas kematian yang aku saksikan sebelumnya. Namun, beberapa bulan setelah Topan mati, aku baru bisa menangis. Rupanya, aku tetap tak terbiasa dengan semua kematian yang terjadi di sini.

***

Di tengah lautan, aku tak pernah menyangka akan menemukan apa-apa saja yang pernah kutemui di daratan meskipun isinya kosong. Salah satunya adalah kaleng ikan yang mengambang hari ini. Kaleng itu menyampaikan sebuah kisah padaku, ikan-ikan di dalamnya sudah dimakan anak-anak orang kaya bertubuh sehat.

Ceritanya hampir sama dengan botol plastik yang aku temui seminggu lalu. Bedanya, usia mereka. Kaleng itu berusia sepuluh tahun lebih muda. Ia berasal dari bagian barat dunia, sementara plastik berasal dari arah tenggara. Keduanya dibuang oleh manusia. Selama bertahun-tahun di laut, mereka sampai padaku, berkabar tentang daratan yang kotor.

“Jadi, kaleng, tolong ke daratan lagi, sampaikan pada Ibu, aku pasti segera pulang,” aku melempar kaleng itu kembali ke laut.

Sampah-sampah dari daratan selalu sampai ke tempat ini. Melalui mereka, aku bercerita dan menyuruhnya untuk kembali.

***

Hari itu, aku merasakan perasaan yang sama ketika pertama kali sampai ke tempat ini. Seorang lelaki datang dan menyeret ujung bajuku menuju buritan kapal. Untuk ketiga kalinya, aku melihat seekor koala. Kali ini ia berlompat-lompatan di atas air. Koala yang aneh, tidak memiliki bulu, juga tidak memanjat pohon. Warnanya juga tidak cokelat.

Tiba-tiba, tubuhku terbang menuju air, merengkuh koala itu. Bunyi air yang pecah kencang sekali. Tapi tidak lebih kencang dari suaraku yang memanggil Ibu.

Kau tahu bukan, di sini, semua anak-anak yang hendak mati mencari Ibu mereka.

***

Kami berdua, aku dan koala menembus air menyerupai bor, menukik tajam sampai ke sebuah taman. Ah, ini kebun binatang.

“Ayo masuk ke kantongku, kita jalan-jalan,” ujar Koala yang membawaku hingga ke dasar laut. Koala yang aku temui tidak sama dengan gambar yang ada di kertas koran. Mereka besar dan bisa berdiri. Seperti beruang tapi punya kantong dan bertelinga lebar.

Ada banyak atraksi yang dilakukan oleh hewan-hewan di sini. Atraksi yang paling aku suka adalah duet tarian antara cumi-cumi dan gurita. Di puncak atraksi, si cumi-cumi akan mengeluarkan cairan hitam. Salah satu gurita tertawa nyaring melihatku. Katanya, aku sudah terlalu tua untuk menjadikan tahun ini sebagai kali pertama melihat kebun binatang. Oh, ya, tahun ini aku enam belas.

Tak berapa lama, ada ikan besar sekali mendekatiku, tidak hanya satu, tetapi belasan, mereka mengelilingi kami. Katanya, ini salah satu cara ikan paus memberikan upacara kematian pada saudara yang mereka cintai. Aku ingat. Aku baru saja menyelamatkan paus. Semua pria dewasa marah padaku. Aku dapat banyak bogem. Kemudian tak lama, terbang menuju perairan.

Kuperhatikan sekeliling taman dan mendapati seekor koala lain yang mengantongi manusia juga. Oh, itu Topan!

Lamia Putri Damayanti. Lahir dan bermukim di Magelang. Penerima Anugerah Sastra A.A. Navis 2016 dengan cerpennya berjudul Hunian Ternyaman dan menerbitkan novel berjudul Dering Kematian.


[1] Disalin dari karya Lamia Putri Damayanti
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 1-2 Desember 2018