Kecantikan Itu Melukaiku

Karya . Dikliping tanggal 11 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Cantik. Kata itu akrab di telingaku. Sejak aku kecil, orang-orang di sekitarku selalu melontarkan kata itu, termasuk mamaku. Ia sering mengatakan begitu dan mengakhiri dengan tawa atau senyum manis.

Rambut hitam lebat, mata bulat, hidung mancung, dan bibir tipisku menjadi hal yang lucu. Belum lagi tulang dagu lancip, bulu mata lentik, proporsi tubuh seksi.

Namun papaku tak pernah berkomentar apa-apa. Bahkan sekadar tertawa bersamaku pun dia enggan.

Saat aku dewasa di lingkungan baru, temanteman juga acap mengatakan hal serupa. Menurut mereka, aku cantik. Namun tak semua orang senang berdekatan denganku. Banyak pula yang membenciku. Bahkan menghujatku. Aku jadi sering bertanya-tanya, apa yang salah dengan paras cantikku?

***

Sore ini aku menikmati bau petrikor. Itulah aroma khas seusai hujan di taman belakang di samping kolam di rumah salah seorang anggota kelompok sosialita kami. Sudah setahun ini kami mengadakan arisan rutin sebulan sekali di tempat berbeda-beda. Kadang di bar, kadang di rumah salah seorang anggota. Namun yang paling sering di sebuah vila.

Kami arisan untuk menjauhkan diri dari hirukpikuk kota dan melupakan sejenak tumpukan kerja. Kali ini, Mery jadi tuan rumah. Aku belum lama kenal dia.

Mery korban pemerkosaan menjelang keruntuhan Orde Baru. Dia melarikan diri, mengungsi ke pesisir utara, sebelum akhirnya pindah dan menetap di Bali. Lalu, melanjutkan pendidikan di bidang seni.

Dia menyelenggarakan arisan di rumahnya, di tengah kota di kawasan pecinan. Sebelum arisan berlangsung, kami saling melepas kerinduan. Maklum, kami tinggal di kota-kota berbeda.

Tiba-tiba telepon di sakuku bergetar. Kurogoh telepon dan terpampang nama Ilham. Lelaki itu kukenal di dunia maya baru sebulan ini. Aku tak pernah tahu tampangnya.

Awalnya aku enggan membalas pesan dia. Aku tak suka bersinggungan dengan orang yang belum pernah kujumpai. Namun suatu ketika aku mendengar dia menyanyikan sebuah lagi dalam unggahannya. Cuma satu menit. Suara berat itu sungguh merayuku, membiusku.

“Lana, kau jadi arisan hari ini?” ujar dia menyadarkan aku.

“Jadi dong. Ini udah di tempat arisan, Ham.”

“Baiklah, aku tunggu sampai urusanmu selesai.”

“Sampai jumpa, Ham.” Telepon mati. Mery sudah berada di sampingku sambil cengar-cengir.

“Ihir! Udah ada gebetan nih sekarang,” katanya menggoda.

“Baru kenal. Belum lihat wajahnya,” sahutku santai.

“Lo? Terus?” Dia terkejut.

“Iya, cuma dengar suaranya. Ngerti kan, aku gampang terbius oleh suara merdu. Ha-haha.” Aku tertawa puas.

“Ya udah deh. Semoga oke. Yuk, masuk. Temen-temen udah nunggu di dalam.”

Aku dan Mery masuk ke ruang tengah. Setelah saling bergurau, acara pun kami mulai.

Bulan ini, aku tak begitu berharap memenangi arisan. Namun ternyata ketika dikocok, namaku yang keluar. Semua bertepuk tangan, bersorak. Aku seperti juara sebuah kompetisi.

“Asyik, Lana yang dapet. Tercantik dari yang cantik-cantik. Hadiah undian kita bulan ini keren lo, Lan. Artis terkenal. Macho. Nanti kalau udah ngewe, ih nggak kebayang,” goda Devina, diikuti gelak tawa kawan-kawan.

Semua menatapku dengan tampang menggoda. Aku cuma tersenyum malu-malu. “Sial! Aku belum siap,” batinku.

***

Tiba di Bali, aku dijemput taksi online, ke hotel tak jauh dari bandara. Ah, kamar yang cantik. Aku bisa melihat pantai, bahkan sambil berenang di kolam belakang kamar. Namun lantaran lelah, aku memutuskan beristirahat dulu sebelum bertemu lelaki hasil undian arisan.

Pukul 17.00, aku ke restoran di tepi pantai. Aku menunggu lelaki itu sambil menikmati saat matahari tenggelam. Tiba di meja yang sudah terpesan, lelaki itu belum datang. Kunikmati suasana, sesekali memotret dan mengunggah gambar ke Instagram.

Telepon masuk. Ilham. “Lana, kamu di mana?

Kamu nggak kasih kabar seharian ini,” suaranya memperdengarkan kekhawatiran.

“Maaf, Ham, aku lagi di Bali. Baru saja sampai.”

“Lo, ngapain?” Suaranya mengencang.

“Cuma jalan-jalan. Lagi penat sama suasana Ibu Kota. Maaf, nggak kasih kabar.”

“Di hotel apa? Kirim alamat. Nanti aku samperin setelah urusanku selesai.”

“Serius? Kamu di Bali?”

“Iya. Udah dulu ya, nanti kita sambung lagi. Jangan lupa kirim alamat dan nama hotelmu.”

Tiiit! Telepon mati.

Tiba-tiba ada seorang lelaki menghampiriku. Lelaki yang tak asing dalam penglihatanku. Azriel, idola para gadis saat ini. Penyanyi band yang sedang naik daun.

Aku bingung. Diakah lelaki yang Devina pesan? Atau, salah orang?

Lelaki itu melambaikan tangan di hadapanku, sehingga membuatku tersadar. “Lana?” sapa dia sambil tersenyum manis.

“Iya, aku Lana.”

“Oh, berarti bener. Boleh aku duduk? Sudah tahu siapa aku kan?”

“Boleh. Iya, aku tahu. Kau kenal Devina?”

“Iya. Devina yang memintaku ke sini. Ternyata benar, Devina nggak bohong. Kau cantik,” ujar dia sembari menelisik mataku.

Aku tersenyum. Malu.

“Kita nikmati matahari terbenam dulu ya, lalu kita kembali ke hotel. Sore ini cantik, seperti perempuan di depanku,” katanya sambil melempar pandang ke pantai.

***

kecantikan itu melukaiku

Tiba di hotel, aku dan Azriel melanjutkan perbincangan. Saat dia ke kamar mandi, aku mengirim pesan pada Ilham; alamat hotel tanpa nomor kamar. Aku tak mau Ilham tahu aku sedang bersama seorang lelaki.

Azriel cukup lama di kamar mandi. Karena pesanku tak segera tersambut, aku menelepon Ilham. Namun dia tak mengangkat. Saat bersamaan telepon Azriel di meja berdering.

Aku melihat layar teleponnya. Muncul nama Geulis. Aku kembali menelepon Ilham. Lagi-lagi telepon Azriel berdering. Dia keluar dari kamar mandi, mengambil telepon, menjauh beberapa langkah dariku, dan menerima panggilan.

Suara berat yang acap kudengar di telepon itu begitu nyata. Aku dan Azriel saling pandang beberapa saat. Saling tatap, saling menelisik. Akhirnya dia mendekat, lalu memelukku. Erat.

“Lana?”

Wajahnya memancarkan rona kegembiraan.

“Ilham?”

“Mengapa aku tak mengenalimu sejak awal? Pantas saat kau bicara, aku merasa tak asing dengan suaramu.”

“Aku juga tak menyangka bakal bisa sedekat ini denganmu yang lagi naik daun. Aku.”

“Sudahlah, kita nikmati saja malam ini.”

Dia kembali memelukku. Tiba-tiba dia mendorongku ke dinding dan menciumku. Ia bukan pemain biasa. Andal. Dia hendak melepas semua yang kukenakan. Kulihat dia sangat bergairah. Namun aku mencegah.

Dia bingung, menatapku, mengisyaratkan permohonan agar aku menanggalkan pakaian.

Aku membalas dengan senyuman. Dia terlihat gemas, lalu bersegera membopongku ke ranjang. Aku benar-benar tak berdaya. Aku memang menginginkan.

Namun aku takut dia tahu siapa aku sebenarnya. Sungguh, aku takut. Namun rasa takut itu kalah oleh berahi. Wajahnya memelas. Aku makin iba dan gemas. Aku menyerah.

Cepat-cepat dia melolosi pakaianku, dari atas ke bawah. Awalnya dia amat menikmati percumbuan. Namun mendadak dia mendorongku keras-keras.

“Bajingan! Pedang!”

Dia marah, sangat marah.

Aku menangis. Apa salahku? Mengapa dia begitu kejam? Dia menghantam pipiku sebelum berpakaian kembali. Sayup-sayup, sebelum pingsan, aku mendengar dia bicara lewat telepon. Beleguk! Temen lu banci, Dev!

Entah berapa lama aku terkapar. Ketika aku mendusin, Azriel sudah menghilang. Aku menangis. Aku geram. Pelan aku menuju ke meja rias. Kubuka laci, menggagapi dasar laci, mencari sesuatu. Kucekau sebilah cutter. Kutatap wajahku di dalam cermin. Lalu, secepat bisa kupotong penisku. Sakit, teramat sakit. Kemudian gelap, amat-sangat gelap. (28)

Semarang, 23 November 2018

Lana Savira KD, mahasiswi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang, yang menggilai seni.


[1] Disalin dari karya Lana Savira KD
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 9 Desember 2018

Beri Nilai-Bintang!