Kecemasan Adalah Rumah Kayu – Tuhan, Perahu Doaku – Renungan Menjelang Berbuka – Doa Rahasia – Pelabuhan Rindu – Kudekap Engkau, Cinta

Karya . Dikliping tanggal 5 Juli 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Kecemasan Adalah Rumah Kayu

kecemasan adalah rumah kayu,
yang dulu pernah kita rangkai dari puing-puing kecil
sisa-sisa yang sudah usang, dan tak lagi diakui sebagai
kayu rapuh, bahkan sesuatu pun
kecemasan adalah rumah kayu,
yang pelan-pelan menjadi hidangan bagi rayap-rayap
yang selalu bermunajat kepada Tuhan
tentang dosa dan ketakutan
pada setiap gerak ketika sedang mempertahankan kehidupan
kecemasan adalah rumah kayu,
yang telah kita huni dengan penuh rasa takut
pada masanya nanti, pada musim paling gigil
kita mesti menghangatkan hati
dan membakar segala kecemasan juga ketakutan
meski belum ada rumah baru, meski belum menemukan
puing-puing kayu yang lebih layak untuk menjadi dinding
batas untuk bersujud

Tuhan, Perahu Doaku

Tuhan, perahu doaku, apakah sudah sampai
Pada samudera-Mu?
dan jika pun harus terkoyak dalam gulungan ampunanmu
dan jika pun rajah-rajah doa yang kutulis seirama air mata
mungkin terhapus angin-angin nafsuku
aku tetap ingin selalu melayarkan perahu doaku
dalam dzikir yang penuh takut, harap, dan linglung
sementara tiada peta yang dapat kupelajari
dan arah mata angin seringkali dibutakan ambisi
bersimpuhku kini, sepenuh gemetar dan sendi-sendi
layu, seperti kelopak mawar yang merindukan hujan
Tuhan, perahu doaku apakah koyak,
ataukah ia justru tersesat dalam perangkap
ritual-ritual ibadah
Robbanaa, kupasrahkan segala
sebab yang menjadi keinginanku sesungguhnya
Engkau memaafkanku, Engkau memaafkanku
Engkau mendekapku
Yogyakarta, 2015

Renungan Menjelang Berbuka

apakah puasa telah lunas ditunaikan
dengan hanya menahan lapar dan dahaga?
apakah kita hanya seperti anak kecil
yang menanti kumandang adzan
dan melampiaskan segala hasrat dengan hati
yang belum juga hangat oleh cahaya-Nya?
bukankah kita tidak benar-benar berbuka
sebelum membuka topeng-topeng kepalsuan
yang bebas kita lukis dengan gerak-gerak pamrihpada
manusia semata
kita sungguh belum benar-benar berbuka
sebelum lunas menyaksikan kaum papa
tersenyum, dan bersyukur atas bebasnya jiwa
dari kefakiran dan kekufuran
karena-Nya semata

Doa Rahasia

di wajahmu yang terhias senyuman,
kusisipkan doa rahasia,
semoga Dia tampakkan, perasaanmu yang sesungguhnya
sebab hutan yang menghijau, seringkali menyimpan
mata air, air mata
dan bebatuan yang tabah terhadap derasnya aliran
tiba-tiba aku ingin lindap ke hatimu
mencurahkan selaksa rindu

Pelabuhan Rindu

Ning, jangan biarkan rindumu melesat
ke rimba-rimba perasaan yang entah
sebab ia bukan seperti anak panah
yang buru-buru mesti kau habiskan
sebab melatih perasaan, dapat kau lakukan
dengan cara menahan gelegak rindu
yang hampir memuncak, menggelegak
karena jika kau tak jua menemukan sebuah peta
atau bahkan sekedar alamat pelabuhan rindu
maka Ia yang akan mengantarkan seluruh perasaanmu
utuh

Kudekap Engkau, Cinta

Dalam gelap, remang, terang, dan segala cuaca
kudekap engkau, cinta
agar ketika ada, tiada, atau berlimpah
engkau mewarnai wajahku
dengan riasan kesetiaan
cinta selalu lahir dari satu rahimNya
dan bertahan di segala cuaca, di segala ketika
Yogyakarta, 2015

 Nurul Lathiffah, lahir 21 September 1989 di Kulonprogo, Yogyakarta. Setelah menempuh pendidikan di Psikologi UIN Yogyakarta dan PP Al Munawwir Krapyak. Saat ini bergiat di Komunitas Puisi Anak. Menulis puisi sejak tahun 2005. Beberapa karya sastranya termaktub di dalam antologi puisi bersama Menolak Lupa (2009), ‘Pawestren’(2013), Lintang Panjer Wengi; Kumpulan
Puisi 90 Penyair Yogyakarta (2014), dan Pisau, Antologi 27 Cerpen Perempuan Cerpenis Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2015) .
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nurul Lathiffah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan rakyat” pada 5 Juli 2015