Kecewa

Karya . Dikliping tanggal 10 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi

TIARA tak kuasa menyembuhkan rasa kecewanya. Gadis kelas tiga SMA itu benar-benar kecewa pada Rama, lelaki kelahiran Solo yang ia kenal di dunia maya dan kemudian menjadi pacarnya. Lelaki yang mengaku mahasiswa semester awal di Jakarta yang memiliki wajah tampan, dan selama ini hanya bisa ia lihat melalui postingan foto di linimasa media sosialnya.

Kekecewaan Tiara tentu bisa dimaklumi. Sebab ia telah lama memendam rindu pada Rama. Rindu yang akan segera terlunaskan saat mereka bertemu. Dua tahun menjalin LDR, tak membuat Tiara berpaling ke lain hati. Ia kuat. Tapi ia mendadak menjadi gadis rapuh saat Rama bilang tak bisa datang ke Yogyakarta, kota kelahiran Tiara, sekaligus kota yang rencananya menjadi tempat bersejarah pertemuan mereka kali pertama.

“Aku pulang ke Solo, nanti aku cari waktu yang tepat untuk berkunjung ke kotamu.” Janji manis itu tak sekali-dua dilontarkan Rama pada Tiara melalui pesan WhatsApp. Kalimat yang seolah menjadi penguat jalinan rasa di antara mereka.

Sayang, janji manis itu kini berubah sepahit empedu bagi Tiara. Rama tiba-tiba bilang tak bisa datang ke kotanya karena, sebagaimana alasan yang semalam dikirim melalui WhatsApp, ibunya sedang sakit dan ia sebagai anak bungsu yang belum menikah harus menjagainya.

Tadinya Tiara hendak membalas bahwa ia akan setia menunggu kedatangan Rama ketika ibunya sudah pulih. Namun, saat Tiara sedang mengetikkan pesan tersebut, deretan kata-kata Rama mendahuluinya. Intinya tak bisa datang ke Yogyakarta. Begitu ibunya sudah baikan, ia harus segera balik ke Jakarta.

“Oke.” Hanya itu kata yang Tiara tulis sebagai balasan. Tadinya, Tiara ingin marah-marah, meluapkan emosi karena Rama tak bisa menepati janji. Tapi Tiara berusaha menekan perasaannya. Ia berusaha realistis. Ibu Rama lebih penting baginya. Hei, bukankah bila saat ini ia berada di posisi Rama, ia juga akan melakukan hal serupa? Bukankah bakti anak pada ibu lebih segalanya? Itulah yang membuat Tiara, setidaknya, mampu mengerem emosinya.

“Tiara, kamu udah makan siang, Nak?”

Suara ibu mengagetkan Tiara yang tengah melamun di teras rumah. Tiara menoleh ke arah ibunya yang sedang menatap penuh selidik kepadanya.

“Tiara belum lapar, Bu.” Ibu lantas berjalan mendekati Tiara.

“Sejak tadi pagi, Ibu lihat kamu murung terus, apa ada masalah, Nak?” tanya ibu pelan sambil duduk menjejeri putri sulungnya.

Tiara berusaha tersenyum menatap ibunya sambil menggeleng.

“Tiara baik-baik saja, kok.”

Ibu tahu Tiara berbohong, tapi ia pura-pura mempercayai kata-kata Tiara. Ibu yakin nanti bila Tiara sudah merasa agak tenang, ia pasti akan bercerita tentang masalahnya. Selama ini, Tiara selalu terbuka pada ibunya. Hanya pada ibu, bukan pada ayah. Karena ayah telah tiada setahun silam. Ayah meninggal dunia akibat kecelakaan sepulang kerja. Sepeninggal ayah, ibu yang menjadi tulang punggung keluarga Tiara dan Ersa, adiknya yang tahun ini baru lulus SMP. Ibu yang pandai membuat aneka kue basah dan gorengan lantas menjadikan keahlian itu untuk membuka usaha. Tiap pagi ibu mengantarkan dagangannya ke warung-warung tedekat. Tiara dan Ersa pun ikut membantu usaha ibu tanpa merasa malu. Sebagian dagangan ibu dibawa Tiara dan Ersa ke sekolah, lantas dititipkan di kantin. Biasanya gorengan dan kue basah bikinan ibu selalu habis saat jam pulang sekolah tiba.

***

KUINGIN marah, melampiaskan tapi kuhanyalah sendiri di sini. Ingin kutunjukkan, pada siapa saja yang ada, bahwa hatiku kecewa….

Suara merdua Bunga Citra Lestai melantunkan lagu Kecewa seolah mampu mewakili perasaan Tiara saat ini. Bahkan rasa kecewa itu kian bertunas saat Rama tiba-tiba memblokir akun Facebook Tiara.

Sambil membantu ibu menggoreng tempe dan tahu, Tiara tak bosannya memutar lagu tersebut melalui ponselnya. Tiara baru berhenti memutar lagu itu ketika ibunya memintanya mengantar gorengan ke warung di ujung kompleks.

“Tiara.”

Tiara yang telah bersiap mengantarkan gorengan, sontak mengangkat wajah. Menatap ibunya dengan kening berkerut, “Iya, Bu.”

“Kamu lagi kecewa sama seeorang, Nak?”

Pertanyaan ibu tentu mengejutkan TIara. Ah bagaimana ibu tahu bila saat ini aku sedang kecewa pada seseorang? Batin Tiara heran. Jujur ia ingin sekali mengisahkan beban pikirannya pada ibu, tapi ia merasa ragu karena persoalan yang ia alami saat ini menyangkut masalah asmara.

“Ibu sangat mengenalmu. Ibu tahu kamu sedang ada masalah. Ibu siap mendengarkan dan membantumu, Nak. Anggap Ibu seperti sahabatmu sendiri,” ucap Ibu dengan nada pelan dan sorot mata penuh keteduhan.

Entah mengapa, ada kedamaian merasuki jiwa Tiara saat menatap raut ibu yang pennuh kasih. Nanti, Bu. Tiara janji, sepulang mengantar gorengan, Tiara akan cerita tentang persoalan Tiara. Tiara bergumam sendiri.

“Nanti Tiara pasti cerita ke Ibu, sekarang Tiara mengantar gorengan dulu, ya?” ucap Tiara. Senyum dikulum dan raut semangat.

Entah mengapa, langkah Tiara menuju warung terasa lebih ringan. Tiba-tiba Tiara teringat kata-kata yang selalu diwanti-wanti ibunya, bahwa seberat apa pun hidup yang dijalani, semuanya akan terasa ringan bila dihadapi bersama-sama.

Puring Kebumen, 26 Juni 2018

Sam Edy Yuswanto
Purwosari RT 1 RW 3 Puring Kebumen 54383

[1] Disalin dari karya Sam Edy Yuswanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” Minggu 8 Juli 2018